Kamis, 30 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Restoran Cepat Saji Bikin Olahan Ayam Gunakan Teknologi 3D Printing

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 22 Juli 2020 | 21:05 WITA Tag: ,
  Resporan cepat saji KFC meluncurkan terobosan baru dalam menyajikan olahan daging ayam (Pixabay)


Hargo.co.id, AMERIKA SERIKAT – Siapa tak kenal dengan Kentucky Fried Chicken (KFC), raksasa restoran cepat saji yang dirintis Kolonel Harland Sanders dari Amerika Serikat (AS). KFC seperti namanya terkenal dengan hidangan ayam goreng cepat saji yang franchise-nya hampir ada di seluruh dunia.

Soal KFC, baru-baru ini restoran ayam goreng itu membuat terobosan baru yang mungkin akan lumrah di masa depan. KFC dilaporkan menggandeng perusahaan teknologi Rusia dengan membuat nugget ayam yang dicetak menggunakan mesin 3D printing alias printer tiga dimensi.

Seperti yang dilansir JawaPos.com, Raksasa makanan cepat saji ini bekerja dengan perusahaan 3D Bioprinting Solutions yang berpusat di Moskow, Rusia, sebagai bagian dari konsep ‘daging masa depan’. Metode teknologi bioprinting finger lickin atau nugget ayam khas KFC dibuat menggunakan sel-sel daging ayam dan bahan tanaman untuk mereproduksi rasa dan tekstur daging ayam yang pada akhirnya mampu membuat rasanya mirip dengan daging ayam murni sungguhan.

Para peneliti mengambil sel-sel ayam yang dibudidayakan di laboratorium dari sampel kecil daging. Peneliti kemudian mengalikan sel-sel untuk membuat pasta dan mencetak 3D pasta ke dalam kubus untuk dibumbui dan dikirim ke restoran.

BACA  Gunakan Lagunya untuk Kampanye, Rolling Stones Ancam Gugat Trump

Dilansir dari Daily Mail, Rabu (22/7), proyek ini dilaporkan bertujuan untuk menciptakan nugget ayam produksi laboratorium pertama di dunia yang akan ‘sedekat mungkin dalam rasa dan penampilan’ dengan produk asli. KFC mengatakan akan memberikan mitranya dengan semua bahan yang diperlukan, seperti pembibitan dan rempah-rempah, untuk mencapai rasa khas Kentucky yang digoreng.

Pengganti yang direkayasa akan lebih ramah lingkungan untuk diproduksi daripada daging biasa, meskipun tidak cocok untuk vegetarian atau vegan. Produk akhir akan diuji di laboratorium Moskow musim gugur ini.

“Gagasan untuk membuat ‘daging masa depan’ muncul di antara para mitra sebagai tanggapan terhadap semakin populernya gaya hidup dan nutrisi yang sehat, peningkatan permintaan tahunan untuk alternatif daging-dagingan dan kebutuhan untuk mengembangkan metode yang lebih ramah lingkungan dalam produksi makanan,” kata KFC dalam sebuah pernyataan.

Dikatakannya, saat ini, tidak ada metode lain yang tersedia di pasaran yang dapat memungkinkan pembuatan produk kompleks dari sel hewan selain menggunakan teknologi 3D printing. Biomeat sendiri tidak termasuk sebagai aditif yang digunakan dalam metode pertanian tradisional untuk membuat produk akhir ‘bersih’ bagi konsumen.

BACA  Korban Tewas Bertambah, Rusuh Etnis di Ethiopia Makin Mencekam

Produk daging berbasis sel lebih etis dan proses produksi khusus ini tidak membahayakan hewan. KFC, yang bertanggung jawab atas pembantaian sekitar satu miliar ayam setiap tahun, menurut kampanye yang didukung PETA Kentucky Fried Cruelty mengatakan pihaknya tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan kesejahteraan hewan.

Korporasi telah merilis burger vegan yang menggantikan fillet dada ayam biasa dengan fillet Quorn vegan, pada Januari lalu. “Di KFC, kami memantau dengan cermat semua tren dan inovasi terbaru dan melakukan yang terbaik untuk mengikuti perkembangan zaman dengan memperkenalkan teknologi canggih ke jaringan restoran kami,” kata Raisa Polyakova, General Manager KFC Rusia.

Dia melanjutkan, eksperimennya dalam menguji teknologi bioprinting 3D untuk membuat produk ayam juga dapat membantu mengatasi beberapa masalah global yang dihadapi perusahaan. “Kami senang berkontribusi pada pengembangannya dan berupaya menyediakannya bagi ribuan orang di Rusia dan, jika mungkin, di seluruh dunia,” lanjut Polyakova.

Teknologi bioprinting 3D, yang awalnya dikenal luas dalam dunia kedokteran, kini mulai populer dalam memproduksi makanan seperti daging. Startup teknologi makanan Spanyol Novameat sebelumnya mengungkapkan steak berbasis nabati 3D-nya, dibuat dengan kacang polong, rumput laut dan jus bit, sementara MeaTech, sebuah perusahaan Israel, mengambil sel-T dari tali pusar hewan untuk membuat produk daging.

BACA  Makin Mencekam, Amerika Kembali Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan

Menurut sebuah studi dalam jurnal Environmental Science and Technology, teknologi menanam daging dari sel memiliki dampak negatif minimal terhadap lingkungan. Para ilmuwan secara global sedang mengerjakan solusi yang akan memungkinkan penyediaan makanan yang stabil untuk populasi global yang tumbuh sambil mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Emisi gas dari produksi daging berkontribusi terhadap pemanasan global melalui pelepasan metana, gas rumah kaca 20 hingga 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida, dan solusi lain diperlukan untuk memenuhi target untuk membantu menyelamatkan planet ini. “Ini pada akhirnya memungkinkan konsumsi energi dikurangi lebih dari setengahnya, emisi gas rumah kaca berkurang 25 kali lipat dan 100 kali lebih sedikit lahan untuk digunakan dari pada produksi daging berbasis pertanian tradisional,” kata KFC. (ep/ra/jawapos/hg) 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Restoran Cepat Saji Bikin Olahan Ayam Pakai Teknologi 3D Printing“. Pada edisi Rabu, 22 Juli 2020.

Komentar