Rabu, 6 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ricuh di DPRD Boalemo Memantik Reaksi Tokoh Adat dan Pemuda

Oleh Admin Hargo , dalam Metropolis , pada Sabtu, 29 Januari 2022 | 20:05 Tag: , , , ,
  Tokoh Adat Boalemo, Nizam Dai

Hargo.co.id, GORONTALO – Kericuhan antara legislatif dengan eksekutif saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) berlangsung, memantik reaksi beberapa kalangan. Tak tanggung-tanggung, kericuhan itu terjadi pada Jumat, (28/01/2022) atau saat RDP tentang Festival I Look berlangsung, dinilai hanya membuat malu lembaga dan daerah. 

Menurut Tokoh Adat (Tolomato Adati) Nizam Dai, seharusnya pimpinan rapat pada RDP saat itu, bisa menetralisir sebelum akhirnya situasi makin memanas. Mantan Ketua DPRD Boalemo ini menegaskan, bila perlu, pimpinan sidang melakukan skorsing dulu, selanjutnya mempertemukan para pihak, sebelum RDP dilanjutkan lagi.

“Saya dengar pak Lahmuddin Hambali yang pimpin sidang kemarin, debat liar kemarin itu, sudah tidak teratur. Nah, seharusnya disitu pak Lahmuddin Hambali ambil sikap selaku pimpinan rapat, bisa menetralisir suasana,” kata Nizam Dai.

Salah satu sesepuh Boalemo ini pun, menilai peristiwa ricuh di gedung rakyat tersebut, bikin malu (memalukan). Ia berharap Bupati Boalemo, Anas Jusuf  dan pula Ketua DPRD Boalemo, Karyawan Eka Putra Noho bertanggung jawab untuk mencari jalan keluarnya.

Terpisah, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Boalemo, Ismail Duke, juga berpendapat soal peristiwa di gedung DPRD Boalemo. Menurutnya, kejadian itu menunjukan bobroknya Pemerintahan Damai.

“Saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh mereka eksekutif maupun legislatif itu, membuktikan bahwa semakin bobroknya pemerintahan daerah hari ini,” ujarnya, memberikan keterangan ke Hargo.co.id, Sabtu, (29/01/2022).

Menurutnya, insiden tersebut membuktikan, ternyata antara legislatìf dan eksekutif sudah tidak lagi memiliki sinergitas dalam membangun daerah. Keduanya hanya  memperlihatkan keegoisan dan kerakusan masing-masing. 

“Tak memikirkan bagaimana mencari solusi atas pokok persoalan, melainkan hanya saling memperlihatkan kemampuan masing-masing dalam menghisap dan merampas hak-hak rakyat. Akhirnya, RDP yang digelar pun berakhir ricuh tanpa titik terang,”sesalnya.

Ismail Duke
Ismail Duke

Ismail Duke mengatakan,  ia sebenarnya tak mempersoalkan Festival I Look Boalemo. Yang acaranya bakal digelar pada Februari 2022, oleh Pemda Boalemo selaku panitia lokal, dengan menghadirkan para tamu dari luar daerah.

Dikatakan Ismail Duke, akan tetapi proses dari pelaksanaan kegiatannya lah yang dipertanyakan, dan ini yang kemudian mendorong pihaknya melakukan unjuk rasa demonstran beberapa waktu lalu. 

“Pertama masalah pendistribusian surat, kenapa sudah hampir semua pejabat daerah berangkat dalam pendistribusian surat tersebut. Apakah ini tidak menggunakan anggaran banyak. Sementara kita ketahui bersama bahwa masih banyak yang harusnya dibayar oleh Pemda hari ini, salah satunya gaji tenaga kontrak yang sampai hari ini tidak ada kejelasan,” ungkapnya.

Persoalan berikut lanjut aktivis muda tersebut, adalah terkait rencana menghadirkan masyarakat banyak pada pelaksanaan kegiatan I Look nanti. Apalagi menghadirkan yang dari luar daerah.

“Ini menurut kajian saya akan berpotensi memunculkan Covid-19, atau corona varian baru di Boalemo. Terakhir persoalan anggaran, kemarin ada yang menyampaikan tidak ada, dan juga yang menyampaikan ada. Sungguh sangat memperihantingkan nasib daerah hari ini,” sesalnya.

Sementara itu, Bupati Boalemo, Anas Jusuf, ketika dimintai tanggapan atas peristiwa ricuh tersebut, melalui sambungan WhatsApp, Sabtu, (29/01/2022), belum memberikan tanggapannya. (***)

 

Penulis : Abdul Majid Rahman

(Visited 1.144 times, 1 visits today)

Komentar