Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ritual Potong Gigi Massal Umat Hindu di Desa Bongo IV, Paguyaman, Boalemo 

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 12 Juli 2017 | 22:40 Tag: , , , ,
  

Gunakan Pahat dan Kikir, Digelar Setiap Lima Tahun

Bukan hanya di Bali. Tradisi potong gigi juga ikut dilaksanakan umat Hindu di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Kegiatan yang hukumnya wajib itu diikuti sebanyak 36 orang. Mulai dari remaja hingga orang dewasa.

SUNARTO NUSI, BOALEMO 

Manusa Yadnya atau Mependes, Mesangih dan Metatah. Demikian sebutan ritual potong gigi yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Senin (3/7) lalu. Sama halnya di Bali, upacara potong gigi di Desa Bongo IV dipimpin oleh Sangging yaitu pendeta atau orang yang memiliki kekuatan supranatural.

Prosesi potong gigi di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman sedianya berlangsung sejak 1 Juni lalu. Dalam rentang waktu hingga (3/7) sejumlah rangkaian upacara dilaksanakan. Diantaranya prosesi ngaben (pembakaran jenazah) hingga puncaknya ritual potong gigi.

Ritual potong gigi diawali doa memohon kelancaran yang dipimpin oleh orang suci/pendeta. Selanjutnya pendeta akan memercikkan air suci kepada orang yang akan dipotong giginya.

Pendeta kemudian akan naik ke tempat pemotongan gigi. Tempat tersebut terdiri sebuah meja panjang yang diatasnya ditempatkan kasur.

Kasur ditutupi kain putih dan kuning. Orang yang mengikuti upacara potong gigi satu persatu naik ke tempat pemotongan gigi. Pendeta kemudian memanjatkan matra yang diikuti ritual pemotongan gigi.

Ritual pemotongan gigi dilaksanakan dengan mengikir gigi di rahang atas menggunakan alat khusus menyerupai kikir kecil dan pahat.

da enam gigi yang dipotong termasuk gigi taring. Namun ritual tersebut berarti memotong habis keseluruhan bagian gigi. Melainkan meratakan atau merapikan barisan gigi.

“Kepercayaan umat Hindu upacara adat metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik. Bahkan sering dianggap sebagai musuh dalam diri manusia,” kata Bendahara Panitia upacara metatah umat Hindu Desa Bongo IV Dewo Putu Sudiyawan.

Adapun enam musu dalam diri manusia atau disebut Sad Ripu meliputi Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan); Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih); Krodha (marah yang melampaui batas dan tidak terkendalikan); Mada (mabuk yang membawa kegelapan pikiran); Moha (kebingungan dan kurang mampu berkonsentrasi sehingga seseorang tidak dapat menyelesaikan tugas  dengan sempurna) serta Matsarya (iri hati atau dengki yang menyebabkan permusuhan).

Ritual pemotongan gigi di Desa Bongo IV diikuti sebanyak 36 orang. Ritual itu sengaja dilaksanakan secara massal. Tujuannya untuk meringankan biaya pelaksanaan.

Pasalnya, pelaksanaan ritual potong gigi ini membutuhkan biaya mencapai Rp 500 ribu per orang. Biaya tersebut diperlukan untuk memenuhi perlengkapan atau bahan yang dibutuhkan. Seperti sesajen dan perlengkapan lainnya.

“Untuk keluarga atau orang tua yang tidak menjalani upacara ngaben, maka diwajibkan membayar biaya sebesar Rp 500 ribu per anak. Namun, untuk meringkankan beban ini maka diadakan tradisi ritual potong gigi secara massal dirangkai upacara ngaben,” terang Dewo.

Bagi umat Hindu, tak terkecuali di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman ritual potong gigi bersifat wajib. Terutama bagi anak remaja yang menginjak usia 17 tahun. Hanya saja ritual potong gigi ini tak dilaksanakan setiap tahun. Melainkan setiap lima tahun sekali.

Sehingga dalam pelaksanaan ritual potong gigi, Senin (3/7) lalu, selain remaja ada pula orang dewasa. Bahkan menariknya dari 36 orang yang mengikuti ritual potong gigi, ada ayah dan anak yang mengikuti potong gigi bersama. Yakni Nengah Wandra (45) bersama tiga anaknya. Terdiri dua orang perempuan dan satu orang laki-laki.

Kepada Gorontalo Post, Nengah Wandra mengaku baru berkesempatan melaksanakan ritual potong gigi pada kali ini.

“Saya tak sempat mengikuti waktu kecil. Makanya baru bisa melaksanakan bersama dengan anak-anak,” ungkapnya.

Di sisi lain, bagi sebagian orang mengikir gigi tentu menimbulkan rasa yang tak enak. Di antaranya rasa ngilu. Namun hal itu tak dirasakan oleh Kadek Sugiarta, salah seorang yang mengikuti prosesi pemotongan gigi. “Tidak rasa ngilu. Biasa saja,” ungkapnya.(***/hargo)

(Visited 5 times, 1 visits today)

Komentar