Rabu, 14 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Rokok Peringkat Dua Penyumbang Kemiskinan 

Oleh Berita Hargo , dalam Headline , pada Sabtu, 20 Agustus 2016 | 21:14 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Konsumsi rokok menempati urutan ke dua penyumbang angka kemiskinan tertinggi skala nasional, bahkan di Gorontalo.  Dari catatan terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, terjadi kenaikan yang cukup menohok khususnya di wilayah perdesaan terhadap konsumsi rokok di Gorontalo.

Pada September 2015 tercatat, share kemiskinan Gorontalo akibat konsumsi rokok di perdesaan mencapai 8,98 persen, sedangkan di kota sebesar 7,87 persen. Satu semester kemudian, tepatnya pada Maret 2016, tercatat naik menjadi 11,41 persen di desa.

Angka itu juga diikuti dengan kenaikan di wilayah kota menjadi 10,37 persen. Parahnya, dari wilayah perdesaan itu sebagian besar konsumen rokok dari kalangan warga miskin. Dari survey terungkap bahwa warga miskin pun akan pusing jika tidak merokok.

BACA  Saatnya Traffic Light di Gorontalo Dilengkapi Ruang Henti Khusus

Bahkan ironinya lagi, dari survey BPS bahwa besar diantaranya untuk membeli rokok oleh masyarakat miskin itu dari dana talangan pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ceritanya, jika si penerima BLT tersebut oleh kaum miskin lelaki, maka sudah pasti pertama yang akan dibeli adalah rokok sebelum membeli beras.

Nah, seiring dengan wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 Ribu per bungkus, BPS Provinsi Gorontalo positif meyakini bisa mengurangi konsumsi rokok di oleh warga Gorontalo, utamanya warga miskin.
“Jika dampak jangka panjang, bagus. Mudah-mudahan efektif,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial, Riyanto ketika ditemui di ruangannya, kemarin, Jumat (19/8).

BACA  Ingin Tahu Jumlah Saham Pemprov Gorontalo di BSG? Baca di Sini

Sedangkan jangka pendek, Riyanto mengaku akan terjadi inflasi akibat melonjak tajamnya harga rokok.

“Inflasi ‘kan soal kenaikan harga. Soal naiknya berapa saya belum bisa perkirakan karena inflasi bukan bukan hanya dari satu barang atau kelompok barang saja. Kalau sebulan, pasti iya (terjadi inflasi,red) karena ini soal pergerakan harga,” kata Riyanto.

BACA  Waspada Pohon Tumbang Dimusim Hujan

Jika bulan berikutnya harga rokok tetap Rp 50 Ribu per bungkus, maka inflasi dari segi rokok tidak akan ada lagi, kecuali harganya naik lagi.

Menurut Riyanto, saat ini upaya pemerintah untuk mengurangi pecandu rokok hanya heboh pada awalnya saja, seperti pemuatan gambar tengkorak hingga gambar bedah otopsi akibat jadi candu rokok. Namun, saat ini tidak terlalu berpengaruh lagi. “Sekarang tidak mempan, orang tidak peduli lagi,” jelas pria yang mengaku bukan perokok itu.

Laman: 1 2


Komentar