Kamis, 18 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sanksi Isolasi

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 4 Maret 2022 | 12:05 Tag: , , , , , , , , ,
  Harimau betina yang selama ini menghuni tempat penampungan satwa liar di Kiev, Ukraina terpaksa dievakuasi ke Kebun Binatang Poznan, Polandia akibat adanya seragan Rusia. (Foto: AFP)

Oleh : Dahlan Iskan

SUDAH tiga hari saya tidak bisa menghubungi kenalan di Kiev, ibu kota Ukraina. WA saya pun tidak dibalas. Bahkan tidak dibaca. Saya bisa menduga mereka sudah tidak di Ukraina lagi. Kartu telepon Kiev-nya tentu sudah tidak berfungsi lagi di area lain.

Saya masih berharap mereka mau kirim nomor baru ke saya. Dari mana pun tempat mereka yang baru. Tapi harapan itu tidak muncul pun sampai tadi malam.

Saya pun menelepon Sasha (Aleksandra Klintsevich) mahasiswi Belarusia yang kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS): apakah sehari kemarin Sasha masih bisa menelepon teman-teman di Ukraina? Dan apakah mereka masih bisa menonton TV Ukraina?

Sasha menjawab: “Saya masih bisa menelepon mereka tadi. Mereka juga masih bisa menonton TV Ukraina.”

Berarti Kiev masih terkontrol oleh tangan pemerintahan Presiden Zelenskyy.

Kemarin Anda sudah tahu: hari kedelapan perang di Ukraina. Masih datar-datar saja.

Kalau sampai hari ke-10 besok Kiev belum juga jatuh ke tangan Rusia apa yang akan terjadi?

Mungkin juga tidak terjadi pembalikan keadaan. Kelihatannya tidak akan ada bantuan militer dari luar Ukraina. Atau pun peralatan tempur yang canggih.

Ukraina akan bertahan dengan apa yang ada. Inilah perang yang pihak penyerangnya tidak perlu kesusu. Penyerang seperti tidak takut pihak yang diserang sempat konsolidasi. Atau sempat terima bantuan yang hanya telat datang.

Amerika Serikat memang memberikan dukungan penuh pada Ukraina. Seperti yang ditegaskan Presiden Joe Biden di pidato kenegaraan tiga hari lalu. Tapi Amerika sudah pasti tidak akan mengirimkan pasukan ke Ukraina.

Kalau Amerika saja bersikap seperti itu berarti Inggris juga begitu. Apalagi Jerman. Lebih-lebih lagi Prancis.

Kini patriot Ukraina harus berjuang sendiri: bela negara tercinta. Tapi kekuatan Ukraina memang terbatas. Di kota-kota yang sudah ditaklukkan Rusia, tidak terjadi perlawanan yang sesungguhnya. Kota Kharkiv, Mariupol, dan Kherson sudah kosong dari tentara Ukraina. Kharkiv adalah kota terbesar kedua di Ukraina. Sekitar 500 Km di timur Kiev. Mariupol dan Kherson adalah dua kota pelabuhan di selatan. Dari Kherson pasukan Rusia akan menuju kota pelabuhan terbesar: Odesa.

Seharusnya, negara sekuat Rusia bisa menaklukkan Ukraina dalam satu atau dua hari. Kenyataannya, hari ke delapan lewat begitu saja. Odesa pun belum dimasuki. Apalagi Kiev.

Pengamat militer di Barat pun bertanya-tanya: mengapa begitu. Sudah pasti bukan karena perlawanan yang menakutkan. Memang banyak barikade dipasang di jalan-jalan masuk Kiev, tapi tumpukan pasir dan karung itu tidak ada artinya bagi tank Rusia.

Berarti Rusia memang tidak memilih cara perang kilat. Dan Barat memang lebih fokus pada serangan di bidang ekonomi. Barat akan melumpuhkan Rusia dari kekuatan ekonominya.

Serangan seperti itu sudah terbukti menyengsarakan negara seperti Iran, Korea Utara, dan Kuba. Juga Venezuela. Dan Bolivia.

Negara-negara itu menderita karena diputus saluran darah mereka: negara lain pun kena sanksi bila berbisnis dengan mereka.

Demikian juga perusahaan yang menjalin bisnis dengan negara-negara itu. Pasti takut. Meng Wanzhou, putri pendiri Huawei itu, sampai ditangkap Amerika hanya gara-gara tuduhan anak perusahaan Huawei berbisnis dengan Iran.

Apakah Rusia akan diisolasi sampai sekeras isolasi terhadap Iran? Dan Rusia akan mengalami kesulitan yang sama dengan Iran?

Sejauh ini sanksi pada Rusia sebatas untuk perusahaan-perusahaan Rusia tertentu. Juga untuk tujuh bank Rusia. Termasuk untuk tokoh-tokoh bisnis Rusia yang dianggap dekat dengan Vladimir Putin. Tapi belum ada sanksi kepada perusahaan atau negara yang masih berbisnis dengan Rusia.

Rusia adalah negara besar yang bisa hidup mandiri: energinya cukup untuk ekonomi dan rakyat mereka, sumber pangannya cukup, jumlah penduduknya juga cukup besar untuk memutar perekonomian, wilayahnya sangat luas –daratan maupun lautnya.

Kalaupun Rusia harus –seperti penderita Covid– menjalani isolasi, maka ia akan seperti isolasi di sebuah vila yang besar: yang ada sawahnya, kolam renangnya, lapangan sepak bolanya, dan karaokenya.

Itu mirip Tiongkok. Atau Amerika sendiri. Atau juga mirip Indonesia –kalau saja kita cukup energi dan pangan.

Apalagi kalau Rusia dan Tiongkok akan menjalani isolasi bersama. Itu akan seperti dua villa besar yang dibuka pagarnya.

Itulah yang tidak bisa dilakukan Iran, Korut, dan Cuba. Juga Venezuela dan Bolivia.

Maka kalau pun di hari ke 10 besok Kiev sudah bisa jatuh ke tangan Rusia, perang masih akan terus berlanjut di bidang ekonomi. Kali ini kita akan ikut jadi pelakunya –setidaknya bisa menjadi korbannya.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Mati Lagi

Paul Ivan
Masih menunggu langkah strategis pak jokowi sebagai ketua G20, pasti pak jokowi punya jimat sakti Jokowi adalah kita  Bersih merakyat kerja nyata  Indonesia hebat

Achmat Rijani Fahmi
Entah knapa, akhir-akhir ini sepertinya lebih seru membaca tulisan komen Pak Mirza daripada baca artikel utamanya. Ahhh… mungkin perasaan saya saja. Mudah-mudahan abah tidak baca komen ini, Mudah-mudahan tidak jadi komentar pilihan.

Anwar Songennep
Dear Pak Dahlan, Hampir seminggu listrik di Pulau Madura ada pemadaman bergilir, karena infonya ada troble di kabel yg membentang di Jembatan Suramadu. Kasus yang sama juga sering terjadi.. Pertanyaan saya; 1. Kenapa PLN lelet banget dalam melakukan perbaikan? Padahal kendalanya sudah ditemukan. 2. Kenapa harus ada pemadaman bergilir? Padahal Jatim kan surplus energi listrik sekitar 2.000 MW, sementara konsumsi listrik seluruh Pulau Madura hanya sekitar 280 MW. Apalagi Pulau Madura cukup dekat dengan pembangkit listrik di Jatim (Probolinggo, Gresik, dll). 3. Kenapa hanya ada satu kabel penghantar listrik ke pulau Madura? Shg jika troble gak ada cadangan. Sebagai mantan Dirut PLN dan Menteri BUMN, sampean pasti paham ttg kebijakan kelistrikan PT PLN di Pulau Madura.

Denik
Terimakasih Putin. Kami jadi punya alasan untuk : Menaikan harga BBM Menaikan harga terigu Menaikan harga gas Menaikan iuran sukarela tapi wajib. Menaikan harga kedelai. Dll…..dll. Sekali lagi ,kamsia.

CuNur Yani
Di makam Cikutra Bandung (kavling makam rakyat bukan kavling makam pahlawannya) mengalami hal yang sama sudah dikubur, kuburkan lagi. Mayatnya terendam banjir, kena longsor, bahkan ada yang terbawa arus banjir. Ini cerita teman yang tinggal di daerah sana sekarang sudah almarhum dan dimakamkan di pemakaman itu. Kalau kejadiannya pada hati nurani, mati lagi-mati lagi-lagi mati, bagaimana ? Nunggu musim kampanye, ujungnya mati lagi atau aku yang mati. hix…

Aju Y
Oarng indoniase itu taidk prelu bejlaar meengja tulinsa dgnan Bnear, kaerna tuilsan esprtie ini Jgua bias diabca degnan mduah. itu adlaah kempmuan tesrmbeunyi maunisa ynag tdiak kailan keathui. bgia kailan ynag bsia mebmaca ini degnan cpeat jagnan sugnkan2utnuk likeyna ya dan semeoga sehat slalu… aamiin

yoming AF
“Pertamina tidak akan kuat menahan harga bensin yang ada sekarang”, apakah ini tanda-tanda bahwa Abah akan membatasi kunjungan lokasi sumber berita karena pasti nanti ongkos bensinnya naik lebih dari sejuta.

Ontoseno
Dan hari ini pertamina  resmi menaikkan harga 3 jenis BBM.  Mungkin karena tadi pagi jam 4 pimpinannya ikut baca disway hari jni sambil ngejar gelar komen pertamax

Dom Grizzly
Soal minyak, atur ajalah bagaimana enaknya Perang tak perang naik juga Hal terigu, kalau memang langka, pakai tepung lain Bahwa makanannya jadi tak sesuai, nikmati ajalah Begitulah hidup URAAAAAAA….

elang cameria
Dan yang mati lagi adalah spirit solidaritas dalam olah raga,banyak event olah raga atau slogan induk organisasi olah raga membawa misi perdamaian,persatuan,respect dan solidarity.tapi kok sekarang malah ramai2 kompak memberi sanksi,harusnya semangat olahraga dan politik tidak ada hubungannya terlepas siapa yang benar atau salah dalam konflik ini.

Komentator Spesialis
BBM oktan 95 Pertamax Turbi per hari ini naik jadi Rp 14.500. Saya mau beli urung, putar haluan SPBU lain saja. Artinya jadi lebih mahal daripada BP 95 dan Revvo 95. Pekan ini kendaraan saya pertama kali mencoba menegak BP. Hasilnya memuaskan. Tetapi tetap yang paling top memang Shell. Ini hanya testimoni saja. Tentunya tidak perlu antri dan pelayanan memuaskan.

Camat
Kita juga lagi berperang lawan tempe, minyak goreng dan toa

Gambit H-1982
Catatan Editorial:  # beneran = Bentuk cakap/lisan. Namun, konteksnya pas. Tinggal di-italic-kan.  # kokoh = Maksudnya kukuh, jika dirujuk ke KBBI.  # di kubur = Sebagai imbuhan, “di” di sini bukan kata depan: digabung penulisannya.  # antar-ras = Pakemnya, “antar” tergolong bentuk terikat: ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kebiasaan (baca: selera) Abah, memberi tanda hubung agar jelas terperikan unsur kata-katanya.  # podcast = Perlu dipopulerkan padanannya, yaitu siniar.  # Dari ibu kota Belarus, Minsk, ke ibu kota Ukraina, Kiev, hanya tiga jam naik mobil. = Dalil sahih atas tidak perlu kapitalnya kata majemuk “ibu kota”, konteksnya mendukung. Satu lagi, tumben angka “tiga” ditulis dengan huruf, bukan “3”.  # kontak-kontakan = Bahasa tulisnya: “berkontak”. Terasa janggal, ganti “saling kontak”. Masih janggal, pakai “komunikasi”.  Bila mau islami, gunakan “silaturahmi”.  # Apalagi kalau Ukraina akan menjadi anggota NATO = Dilihat dari kohesi antarkalimat dalam paragraf ini, hemat saya sebaiknya “akan” ditiadakan.  # sampai USD 107 per barel = Sederhanakan saja: “sampai 107 dolar per barel”, lebih jelah bagi pembaca.  Sekian. Jangan kepanjangan. Semoga terpilih sebagai komentar pilihan. Walau ulasannya ringan.

Ki Mertani
Akhirnya terigu kena imbas. Kemungkinan besar cilot, penthol, gorengan dkk menyusul minyak goreng langka. Roti dan mie bisa menyusul. Mari kita mulai tanam ketela.

Er Gham
Semakin lama perang di sana, bisa naik harga bbm di sini. Jika bbm naik di tengah malam yang dingin dan tanpa pemberitahuan, kita salahkan Rusia. Mereka gagal kuasai Kiev dalam semalam. Rusia yang gagal, kita kena imbasnya.  Atau mungkin Rusia sengaja juga perang berlama lama, biar harga minyak.bumi, gas alam, dan batu bara melambung tinggi. Biar Eropa Barat juga kena imbasnya.

(Visited 25 times, 1 visits today)

Komentar