Selasa, 30 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Santri NU Siap Perangi Radikalisme di Dunia Maya

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Rabu, 12 Oktober 2016 | 21:38 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id JAKARTA – Para santri Nahdlatul Ulama (NU) siap berada di garda terdepan dalam memerangi propaganda radikal terorisme di dunia cyber (internet).

Karena itu, PBNU telah dan tengah menjalankan program-program pemassalan agar para santri di seluruh Indonesia supaya cerdas di dunia maya.

“Sebenarnya tidak cukup hanya para santri yang harus cerdas di dunia cyber dalam memerangi radikal terorisme, tapi seluruh generasi muda, bahkan masyarakat Indonesia. Sebab, ancaman radikal terorisme tidak hanya kepada para santri, NU, atau umat Islam saja, tapi bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ucap Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf di Jakarta, Rabu (12/10).

Menurut mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid ini, menghadapi ancaman radikal terorisme menuntut keterlibatan seluruh komponen bangsa. Pasalnya, pergerakan kelompok radikal terorisme, terutama ISIS, sudah sangat massif, khususnya di dunia maya.

Bahkan dari riset PBNU, kelompok radikal sangat pintar memanfaatkan media sosial dan internet untuk melakukan propagandanya.

Tidak hanya materi yang bersifat ajaran agama secara komunitif, lanjut Yahya, mereka juga melakukan propaganda dari segala bidang.

Seperti ekonomi, seni, budaya, politik, dan lain-lain. Malahan, mereka mampu membuat video dan film dengan standar Hollywood. Kelompok itu juga melibatkan seniman, musikus, budayawan, politikus, dan lain-lain, dalam menjalankan propagandanya.

Yahya menegaskan, dibutuhkan kekuatan yang hadir di dunia cyber untuk melawan kelompok radikal terorisme. Santri NU telah terpanggil sejak lama karena ini adalah ancaman kepada negara meski sumber dayanya masih terbatas terutama menyangkut pendanaan.
Karena itu, harus ada dukungan signifikan dari pemerintah agar program pencerdasan santri dan generasi muda Indonesia di dunia cyber bisa berjalan baik.

“Sejak 2006, generasi muda NU sudah menyadari dan merasakan penetrasi gerakan ekstrem ini di internet. Bahkan santri NU secara mandiri sebagai relawan melakukan upaya kontra narasi menghadapi kelompok radikal. Malah sampai hari ini, kami di PBNU tiap bulan mengumpulkan donasi untuk memberikan pulsa kepada santri relawan tersebut,” ungkap Yahya.

Tidak hanya di dalam negeri, jelas Yahya, PBNU juga telah bekerja sama dengan Universitas Vienna, Austria mendirikan program Vortex (Vienna Observatory For Applied Research Extremism and Terrorism).

(Visited 2 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar