Sebulan 15 Orang Tertular HIV-AIDS di Gorontalo, Ini Datanya

Gorontalo Headline

Hargo.co.id, GORONTALO – Peringatan hari AIDS sedunia pada Sabtu (1/12.2018) hari ini, sejatinya  menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bagi semua pihak. Untuk bisa waspada dan mawas diri terhadap penularan HIV-AIDS. Mengingat jumlah pengidap penyakit yang belum ada obatnya itu terus meningkat di berbagai belahan dunia.

Tren peningkatan jumlah kasus HIV-AIDS juga dialami Provinsi Gorontalo yang akan merayakan HUT ke 18 pada 5 Desember nanti.

banner 728x485

Pada 2015, jumlah kasus HIV-AIDS mencapai 37 penderita dengan jumlah pengidap HIV sebanyak 7 orang dan AIDS 30 orang. Pada tahun-tahun berikutnya, warga yang tertular HIV-AID terus bertambah. Pada 2017 jumlah kasus HIV mencapai 103 kasus.

Hingga posisi September 2018, jumlah warga yang terinfeksi HIV-AIDS sudah mencapai 73 orang. Dengan demikian, total kasus HIV-AIDS di Gorontalo semenjak 2015 hingga September 2018 sudah mencapai 435 kasus.  Dari jumlah itu, pengidap HIV-AIDS paling banyak berasal dari laki-laki sejumlah 328 orang dan perempuan 107 orang.

Ada fakta yang cukup mengejutkan terkait jumlah penderita di Gorontalo. Dari data yang dikantongi instansi teknis, ada 5 bayi di bawah usia 1 tahun yang positif HIV-AIDS. 1 bayi positif HIV, 4 bayi sudah berstatus penderita AIDS.

Angka ini juga selaras dengan jumlah anak-anak berusia 1 hingga 14 tahun yang tertular. Total ada 9 anak dalam rentang usia itu yang sudah tertular. Penderita HIV-AIDS tertinggi kedua berada pada usia sekolah yaitu pelajar dan mahasiswa dari rentang usia 15-24 tahun mencapai 138 orang. Paling tinggi pada rentang usia 25-49 tahun mencapai 276 orang.

Sementara itu, cara penularan HIV-AIDS dipicu oleh dua faktor dominan. Pertama melalui hubungan seks (Heteroseks) mencapai 190 kasus. Kedua melalui hubungan sesama jenis (homoseks) gay, waria, lesbian yang mencapai 167 kasus.

Penularan dari ibu ke anak paling rendah mencapai 25 kasus. Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah keberadaan 37 penderita HIV-AIDS yang sudah berhasil terdeteksi namun hingga kini sudah tidak diketahui keberadannya.

“Yang terungkap di kami itu 10-15 kasus setiap bulannya, bahkan untuk bulan November ini saja sudah ada 7 kasus ODHA baru yang berhasil kami verifikasi,” kata Irvan Wernas, Ketua Lembaga Kemanusiaan Peduli Aids (LKPA) Solidaritas Teman-teman Terinfeksi HIV (SOLITARE) Gorontalo, Selasa (27/11).

Dia mengungkapkan, data yang dimiliki LKP SOLITARE  ini adalah data ril di lapangan yang berhasil diverifikasi.

“Dari data orientasi awal kami total ada 457 kasus HIV di Gorontalo. Namun yang baru teregistrasi 375 orang. Sehingga masih seratus lebih yang belum teregistrasi dan kemungkinan besar jumlahnya akan semakin bertambah hingga penghujung tahun ini,” ungkap Irvan Wenas.

Sex bebas dan sex sesama jenis  menjadi media penularan terbesar HIV-AIDS di Gorontalo. Faktor lain yang menjadi pemicu karena masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya dan cara penularan HIV-AIDS.

“Perlakuan sex yang  menyimpang hingga sex bebas seperti kebiasaan laki-laki jajan diluar menjadi faktor makin bertambahnya jumlah ODHA (orang dengan HIV-AIDS) di Gorontalo,” sambung Irvan Wenas.

Dirinya berharap penanganan terhadap penularan HIV-AIDS harus mendapatkan perhatian serius pemerintah daerah. Gerap cepat diperlukan untuk menyelamatkan generasi muda dari penularan HIV-AIDS.

“Bukan  tidak mungkin di tahun 2020 jumlah ODHA di Gorontalo sudah akan semakin menjamur. Keterlibatan dan koordinasi pemerintah terhadap ODHA harus lebih besar lagi. Sebab sampai saat ini KPA yang sejatinya dibekali dengan dana besar ternyata hingga sekarang tidak ada hasil yang dikerjakan. Bahkan kalaupun ada program yang dilaksanakan, itu tidak tetap sasaran,” pungkasnya.

Kepala seksi pengendalian dan pemberantasan penyakit menular, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Irma Cahyani Ranti peningkatan kasus HIV/AIDS di Gorontalo akibat meningkatnya perilaku menyimpang anak usia remaja. Belum lagi, dari data yang ada, perilaku seperti Gay, Waria, Lesbian (GWL) memberi porsi lebih banyak terhadap penderita HIV/AIDS di Gorontalo.

“Untuk GWL ini, sejak tahun 2001 sampai 2018 terdiagnosa sudah ada 89 kasus untuk HIV dan 78 kasus untuk AIDS. Totalnya sudah 167 kasus di Gorontalo,” ucap Irma.

“Belum lagi perilaku menyimpang ini sudah mewabah di kalangan remaja. Mereka lebih suka hubungan sejenis laki seks laki (LSL) karena bujukan teman. Tanpa sadar akibatnya terkena HIV/AIDS,” terangnya.

Pencegahan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo yaitu screening dan deteksi dini. Artinya sebelum seseorang terkena HIV/AIDS, maka perlu baginya untuk dilakukan screening.

“Jangan tunggu nanti sudah ada gejala. Biasanya gejala itu sudah masuk ke stadium lanjut. Karena prosesnya sangat panjang untuk seseorang masuk ke dalam gejala HIV/AIDS. Biaya pengobatannya sangat mahal,” tutur dr. Irma.

Untuk memaksimalkan pendeteksian, Dinas Kesehatan terus melakukan pelatihan kepada petugas kesehatan di kabupaten/kota. Jika sebelumnya tak seluruh puskesmas bisa melakukan screening, sekarang sudah banyak puskesmas dan rumah sakit yang dapat melakukan pemeriksaan HIV.

“Untuk pelatihan ini tinggal Bone Bolango dan Pohuwato yang rencana kami latih tahun depan,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo Salma Rivani Luawo mengharapkan, peringatan Hari AIDS sedunia yang diperingati setiap tahun, bukan hanya menjadi acara seremonial. Tapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran semua pihak,memerangi HIV/AIDS.

Menurut Salman, meskipun penanggulangan HIV/AIDS di Gorontalo sudah banyak dilakukan, tapi program penanganan dan pencegahan masih tetap perlu dilakukan.

“Saya berharap kegiatan yang kita buat untuk peringatan HAS yang melibatkan semua sektor, lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat baik di tingkat, Provinsi dan kabupaten/kota dapat memberikan daya ungkit yang signifikan dalam menyebarluaskan informasi HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo. Sehingga masyarakat menyadari dan lebih mengenal HIV AIDS itu apa,” pungkas Sekretaris KPA Provinsi Gorontalo. (gp/hg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *