Rabu, 20 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sediakan Bulita Khusus Perempuan, Dinobatkan 8 Pemangku Adat

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Senin, 3 Oktober 2016 | 12:49 PM Tag: , ,
  

Hargo.co.id GORONTALO—Tuntas sudah perdebatan soal perempuan bisa menerima pulanga atau tidak. Sekda Provinsi Gorontalo Prof Winarni Monoarfa telah membuktikannya.

Setelah melalui proses panjang, musyawarah para pemangku adat memutuskan Winarni adalah perempuan yang tepat untuk dianugerahi gelar adat Ti Tidito lo Hunggia yang artinya seorang pemimpin perempuan yang cerdas, cermat, peka, arif, bijaksana dan bersahaja.

Winarni sangat pantas untuk menerima gelar adat tersebut atas dedikasi dan pengabdiannya untuk Gorontalo sejak dirinya bertugas di daerah ini 16 tahun yang lalu. Tidak hanya itu, garis keturunan juga mebuat pemangku adat sepakat menobatkan pulanga.

Penganugerahan gelar adat ini dilaksanakan di rumah dinas Sekda Provinsi Gorontalo, Sabtu (1/10) kemarin.
Winarni yang didampingi suami tercinta Meagaung Amin Daud dan keluarga besarnya ini tampak anggun mengenakan pakaian adat sundi ketika memasuki rumah dinas tepat pukul 10.30 Wita.

Sejenak perhatian tertuju kepada sang penerima gelar adat. “Mirip pengantin,”kata Ketua DKPP Prof Jimly Asshiddiqie yang turut hadir, kemarin.

Jimly yang juga Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie adalah salah satu pejabat pusat yang hadir, selain itu Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim, mantan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Udin Hianggio, Rektor Universitas Hasanuddin, Dwia Aries Tina Pulubuhu, mantan Bupati Gorontalo David Bobihoe dan sejumlah tokoh penting lainya, seperti Walikota Gorontalo Marten Taha dan Bupati Gorontalo turut menghadiri.

Menariknya, karena Winarni adalah seorang perempuan, maka disediakan dua bulita atau tempat majelis adat. Dimana Winarni duduk di bulita khusus perempuan. Selama ini bulita hanya bisa diduduki oleh laki-laki saja dan perempuan tidak diperkenankan duduk karena hanya ada satu bulita.

Makanya, untuk prosesi adat pulanga ini, sengaja dibuat dua bulita.

Prosesi adat dimulai dari dari kediaman pribadi Prof Winarni, keluarga dan Prof Winarni dijemput dengan adat ke rumah dinas Sekda menggunakan bendi (dokar). Sesampainya di rumah dinas, Prof Winarni langsung masuk ke bulita dihantar oleh pemangku adat.

Prosesi adat dilakukan oleh para pemangku adat, dengan menyampaikan pesan berupa tujuai yang berisis kata-kata penobatan.

8 Pemangku adat dari seluruh wilayah adat Gorontalo, seperti Limutu, Hulondhalo, Suwawa, Tomilito, Boalemo, Pohuwato secara bergantian menyampaikan tujai yang intinya berupa nasehat agar sang penerima gelar adat mampu menjaga harkat dan martabatnya.

Setelah dinobatkan sebagai Ti Tidito lo Hunggia, Winarni pun dipersilahkan ganti baju adat yang berwarna hitam dengan kombinasi warna emas. Pantauan Koran ini, hanya ada beberapa tamu saja yang mengenakan pakaian hitam kombinasi warna emas tersebut.

Di jajaran kepala daerah, hanya Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Wakil Gubernur Idris Rahim dan Walikota Gorontalo Marthen Taha yang mengenakan pakaian adat tersebut. Sementara kepala daerah lainnya mengenakan baju takowa atau baju kebesaran untuk laki-laki.

Ini yang menjadi pembeda antara para tokoh yang sudah menyandang gelar adat dan yang belum. Sehingga meskipun sudah menjadi kepala daerah, tapi belum menyandang gelar adat tidak boleh mengenakan pakaian kebesaran adat tersebut. Area tempat duduk pun berbeda.

Para tokoh dengan gelar adat tau’wa duduk sejajar, sementara para tokoh dengan gelar adat lainya duduk didepan para ta’uwa. Prosesi gelar adat berlangsung lancar, ditutup dengan fatwa olongia yang disampaikan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie.

Salah satu penggalan fatwa yang disampaikan adalah terkait ikrar. “Janji ikrar sudah terpatri, jaga, jangan sampai putus, apabila diputuskan bala akan menimpa, laksana lemak yang larut,”ujar Rusli Habibie.

Prof Winarni Monoarfa, kepada Gorontalo Post mengatakan, penghargaan adat berupa pulanga adalah anugerah bagi dirinya dan keluarga. Dengan gelar adat, Prof Winarni mengaku ia harus lebih bijak dalam bertindak dan bersikap.

“Ini adalah benteng, agar tidak melanggar apa pun itu. Saya pribadi menyampaikan terimakasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur, para pemangku adat dan seluruh masyarakat Gorontalo,”ujarnya. (tro/fem/hargo)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar