Selasa, 30 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sehari, 10 Pengungsi Jadi Korban Kekerasan

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Selasa, 28 Februari 2017 | 10:44 AM Tag: , ,
  

Hargo.co.id – Sejak membuka diri untuk para pencari suaka dan pengungsi, aksi kekerasan yang dipicu kebencian meningkat di Jerman. Sepanjang 2016, sedikitnya 560 pencari suaka di negara itu terluka dalam berbagai kasus kriminalitas gara-gara status mereka. Sebanyak 43 di antaranya adalah anak-anak.

Kementerian Dalam Negeri Jerman melaporkan bahwa lebih dari 2.500 pengungsi menjadi sasaran aksi kriminalitas tahun lalu. ”Itu membuat para pencari suaka dan pengungsi di negara ini khawatir dan mencemaskan keselamatan diri mereka,” terang jubir kementerian. Padahal, pencari suaka dan pengungsi tersebut kabur dari negeri masing-masing untuk mencari keselamatan.

Di sisi lain, kepolisian nasional Jerman melaporkan bahwa jumlah korban kebencian mencapai 3.500 orang. Rata-rata aksi kriminalitas itu dilakukan di tempat penampungan pengungsi yang jumlahnya ribuan di seantero Jerman. ”Jika dirata-rata, angka itu menunjukkan bahwa setiap hari ada sekitar sepuluh aksi kekerasan yang dilandasi pemahaman anti-imigran,” terang kepolisian.

Bulan ini, pengadilan menjatuhkan vonis delapan tahun penjara kepada seorang warga Jerman yang mengaku sebagai penganut aliran Neo-Nazi. Pria muda tersebut membakar stadion yang digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi. Aksi nekat itu menimbulkan kerugian USD 3,7 juta atau setara Rp 49,4 miliar.

Ulla Jelpke, politikus Partai Die Linke, mengaku prihatin dengan terus bertambahnya angka kekerasan terhadap pengungsi dan pencari suaka. Dia menyalahkan kelompok anti-imigran atas munculnya aksi-aksi diskriminatif tersebut. ”Ada sepuluh kasus tiap hari. Apakah harus ada nyawa yang melayang sampai kekerasan seperti ini dianggap sebagai ancaman keamanan domestik?” keluhnya.

Dia menuntut pemerintah segera bertindak. Kebijakan Kanselir Angela Merkel terkait pengungsi harus diimbangi penegakan hukum yang tegas. ”Mereka datang kemari untuk menghindari konflik dan kekerasan di tanah kelahirannya. Kita tidak bisa membiarkan mereka menjadi sasaran kebencian sejumlah kalangan,” tutur Jelpke. (aljazeera/hep/c18/any/tia)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar