Selasa, 29 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Seni Menata Bonsai Ibarat Menata Birokrasi di Indonesia

Oleh Aslan , dalam Headline Ragam , pada Kamis, 12 Desember 2019 | 14:14 WITA
  


Hargo.co.id, JAKARTA – Ratusan Bonsai dipajang dengan apik di seputaran halaman Kantor Ditjend Dukcapil, Kementrian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (11/12/2019). Satu demi satu pengunjung yang berdatangan terpukau menyaksikan pementasan bonsai yang ditata harmonis dengan layout yang serasi.

Siang itu, tengah berlangsung Festival Bonsai Nusantara ke-3, Piala Menteri Dalam Negeri yang diikuti para pegiat bonsai dari Jakarta, Jawa Barat, Bangka, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Agenda ini sekaligus wujud apresiasi dalam rangka Hari Ulang Tahun ke 3 Rumah Bonsai Indonesia (RUBI).

Keunikan seni bonsai inilah yang dibawa Ketua RUBI, Prof. Zudan Arif Fakrulloh sebagai analogi ‘seni’ mengelola birokrasi. Menurutnya, ada semacam kemiripan antara ‘seni’ mengelola birokrasi dengan seni mengelola pohon yang dikerdilkan alias bonsai. Kedua pekerjaan itu, tidak saja menyaratkan ketelitian, tetapi menuntut kesabaran dan ketekunan demi sebuah hasil keindahan.

BACA  13 Figur Ikut Tes Kesehatan, Sembilan Orang Jalani Isolasi, Dua Orang?

“Bonsai sebagai mahakarya adalah hasil kerja nyata melalui proses tata kelola berupa perawatan yang dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan rasa cinta. Sama juga dengan mengelola birokrasi, butuh semua itu,” ujar Zudan yang kini menjabat Dirjend Dukcapil, Kemendagri.

Di rumahnya yang asri di Bekasi, Zudan pun memiliki banyak koleksi bonsai. Ketika sedang santai, mantan Penjabat Gubernur Gorontalo itu kerap menyempatkan waktu menyiram lebih dari 50 jenis bonsai itu. Jenis bonsai seperti beringin, anting putri, serut, jeruk kingkit, loa, lohansung, arabica, sampai jambu biji terpajang rapi di rumahnya.

“Ketika sudah menjadi mahakarya, nilai bonsai pun menjadi meningkat berkali-kali lipat. Inilah sebetulnya esensi dari tugas birokrasi. Melahirkan mahakarya pelayanan publik dengan proses tata kelola tadi. Kalau tidak dengan karya nyata mustahil menjadi mahakarya,” ujarnya.

BACA  Gorontalo Post Dinilai jadi Pelopor Penggunaan Bahasa Negara

Menurut Zudan, ada nilai-nilai filosofis di balik aktivitas menanam bonsai. Bonsai sebagai simbol pohon besar yang bisa didesain dan diarahkan dalam berbagai model. Namun untuk membuatnya hingga terlihat indah, butuh keuletan dan kesabaran. “Ini, selaras dengan seni mengelola birokrasi yang butuh tata kelola atau manajemen,” katanya.

Zudan pun menjelaskan, esensi birokrasi sejatinya adalah “berkarya tanpa batas, berkreasi tanpa henti.”
Kalimat indah yang menjadi tagline RUBI ini sangat cocok bagi rekan pegawai negeri sipil di seluruh Indonesia.

Selain itu, Bonsai sebagai seni yang membahagiakan dan mensejahterakan masyarakat. Sebab, merawat bonsai dengan sabar dan tekun akan mendatangkan kebahagiaan. Dari sisi kesejahteraan jelas menguntungkan lantaran dimulai dari bahan pohon berharga murah, namun seiring dengan waktu harganya meningkat karena keindahan yang tercipta.

BACA  Tak Ada STTP Jika Aturan Penyelenggara Pemilu Dilanggar

“Makanya RUBI memiliki visi menjadikan Indonesia sebagai poros perbonsaian dunia, membahagiakan dan mensejahterakan anggota serta menciptakan lingkungan hijau dan bersahabat dengan alam. Budaya organisasi demi membangun kebebasan berkarya dan berekspresi, menghargai perbedaan, serta saling menghormati sesama anggota dan organisasi sejenis,” ujarnya.

Kemarin, Festival Bonsai Nusantara ke-3 berlangsung meriah. Banyak bibit-bibit bonsai berkualitas yang dijual dalam festival
itu dengan harga terjangkau. Tersedia harga untuk masyarakat awam maupun untuk kelas kolektor. Sesuai rencana, skedul ini akan terus berlanjut hingga 16 Desember 2019. (and/hg)


Komentar