Kamis, 2 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Setelah Telegram! Facebook, Youtube, dan Twitter Juga Bakal Diblokir Pemerintah

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Sabtu, 15 Juli 2017 | 11:38 AM Tag: , , , ,
  

BANDUNG Hargo.co.id – Anda pengguna facebook (FB), youtube, dan twitter di Gorontalo?, siap-siap kehilangan akses aplikasi media sosial itu. Pemerintah sudah merencanakan memblokir FB, Youtube, dan Twitter. Pemicunya gara-gara permintaan penutupan akun oleh pemerintah Indonesia, mendapat respon kurang maksimal dari tiga perusahaan raksasa itu.

Pesan tegas kepada perusahaan global itu disampaikan Menteri Kominfo Rudiantara setelah mengikuti Deklarasi Anti Radikalisme di kampus Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung kemarin (14/7). ’’Dari seluruh permohonan penanganan akun yang kami minta ditutup, hanya 50 persen yang sudah di-take down. Ini mengecewakan,’’ katanya.

Rudiantara menegaskan ketiga perusahaan itu harus memperbaiki komitmennya jika ingin beroperasi lebih lama lagi di Indonesia. Menurutnya jika tidak ada komitmen serius, pemerintah Indonesia akan bersikap tegas. Sebab perusahaan asing manapun yang masuk ke Indonesia, harus mendukung pembangunan Indonesia.

’’Tidak bisa sekedar main iklan saja di Indonesia,’’ katanya. Dia menyampaikan tindakan paling berat adalah menutup total akses kepada tiga perusahaan itu. Sehingga Rudiantara meminta maaf kepada masyarakat yang selama ini memanfaatkan ketiga aplikasi itu untuk kegiatan positif, tetapi ikut terdampak juga.

Dia menegaskan jangan semata-mata selama ini bisa mengeruk keuntungan finansial pribadi, lantas tidak terima jika pemerintah menutup akses Youtube, Facebook, maupun Twitter. ’’Jangan sampai kepentingan pribadi, mengorbankan kepentingan nasional,’’ tandasnya.

Menurut Rudiantara ada sejumlah alasan kepada ketiga perusahaan itu tidak kooperatif dalam menindaklanjuti permohonan blokir akun dari pemerintah Indonesia. Diantara adalah mereka membandingkan dengan kebijakan di negara masing-masing, bahwa pemblokiran akun harus melalui meja pengadilan.

Rudiantara dengan tegas mengatakan, Indonesia memiliki regulasi sendiri. Sehingga jika perusahaan-perusahaan itu ingin bermain di Indonesia, maka harus mengikuti regulasi di Indonesia. Dia mengatakan permintaan blokir atau take down akun juga tidak asal-asalan. Ada pertimbangan serius sebelum permintaan itu dilayangkan ke penyedia jasa media sosial maupun file video sharing semacam Youtube.

Diantara pertimbangannya adalah akun yang diajukan untuk ditutup nyata-nyata menyebarkan konten bermuatan pornografi, SARA, ujaran kebencian, berita bohon, penipuan, dan lainnya. Rudiantara mengatakan lebih mudah menutup website, ketimbang menutup penyedia konten semacam Youtube, Facebook, dan Twitter.

Sementara itu upaya pemerintah bersih-bersih aplikasi yang bermuatan negatif kembali memakan korban. Kali ini korbannya adalah aplikasi pesan singkat Telegram. Secara resmi tadi malam (14/7) Kominfo mengumumkan penutupan untuk 11 DNS (domain name system) milik Telegram sekaligus. Dampak dari pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya aplikasi Telegram melalui format website.

Kesebelas DNS milik Telegram itu adalah t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org.

Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo Semuel A. Pangerapan mengatakan, Kominfo saat ini sedang menyiapkan proses penutupan secara menyeluruh. Sehingga nantinya aplikasi Telegram yang melalui website maupun aplikasi mobile tidak bisa diakses semuanya.

Semuel mengatakan aplikasi Telegram bakal ditutup menyeluruh jika tidak memenuhi menyiapkan SOP penanganan konten-konten yang melanggar hukum. ’’Tindakan ini kita ambil untuk menjaga keutuhan bangsa,’’ jelasnya.

Diantara yang membuat pemerintah mengeluarkan keputusan pemblokiran adalah, Telegram tidak membuat SOP dalam penanganan kasus terorisme. Sehingga dapat mengancam atau membahayakan keamanan bangsa Indonesia.

Sementara itu, rencana Pemerintah Indonesia membatasi keleluasaan masyarakat menggunakan internet dengan merencanakan pemblokiran media sosial, rupanya juga terjadi di delapan negara lain di dunia yang salah satunya adalah Korea Utara.

Kebijakan beberapa negara ini terasa mustahil untuk didengar ketika semua orang di dunia terhubung dengan internet. Tapi malah ada negara yang justru melarang warganya untuk menggunakan media sosial, seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.

Delapan negara itu, masing-masing, Saudi Arabia telah meblokir Facebook, Twitter, Viber, Skype, dan lain sebagainya. Korea Utara, selain melarang Medsos juga membatasi akses internet. Bangladesh, melarang facebook sebagai protes atas terunggahnya foto karikatur Nabi Muhammad. Tajikistan telah memblokor facebook.

Pakistan memblokir Facebook sejak adanya seruan untuk mengikuti lomba menggambar karikatru Nabi Muhammad di salah satu laman Facebook. Vietnam, melarang warga untuk untuk berbagi berita melalui jejaring sosial, Line dan WhatsApp dilarang.

Kongo melarang warga menggunakan Facebook dan Twitter. Tujuannya untuk mengatasi konflik internal dalam negara. China, sengaja melarang warganya untuk menggunakan jejaring sosial Facebook, Twitter, Youtube dan lainnya, lantaran pemerintah China ingin warganya menggunakan aplikasi media sosial lokal seperti Webo dan Tencent. (net/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar