Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Siapa Membunuh Putri (14) – Edo Terpedo

  Ilustrasi. Foto : ISTIMEWA/NET--

Oleh: Dahlan Iskan

SAYA baru menyadari di lorong rumah sakit itu seorang pemuda Ambon sejak tadi berdiri, sejak saya datang, masuk menengok Ferdy dan keluar. Ia masih di situ.  Tatapannya awas.  Anak dan istri Ferdy belum ada di rumah sakit. Apa mereka sudah tahu? Ada dua orang polisi datang. Saya dengar dari luar, mereka bertanya pada Ferdy soal penganiayaan yang dia alami. Ferdy tak bisa merespons dengan baik. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih.  Keluar dari ruangan dua polisi itu membawa si pemuda Ambon tadi.

Saya bergegas ke sekuriti di lobi, bertanya siapa yang datang membawa Ferdy ke rumah sakit. Ia memberi gambaran sosok yang persis dengan si pemuda Ambon yang dibawa polisi tadi.  Saya ke bagian pendaftaran pasien. Ferdy masuk atas jaminan Edo Terpedo. Mungkin nama itu si pemuda. Saya lekas-lekas menyusul ke Polresta.

Edo Terpedo? Nama aslikah? Rasanya bukan. Juga bukan nama yang pernah saya dengar.  Kalau ia preman lama rasanya saya pasti pernah mendengar.  Saya menelepon Bang Jon. Ia juga bilang tak kenal.  Saya menceritakan kejadian yang dialami Ferdy.

Bang Jon bilang mau ketemu saya, dan segera menyusul ke Polresta.  Majalahnya tampaknya lumayan diterima pembaca.  Beberapa kali saya kirim cerita pendek. Ia minta saya menulis untuk majalahnya itu. Lumayan juga buat berlatih menulis fiksi.

Saya dan Bang Jon tiba di Polresta nyaris bersamaan. Ia malah sampai lebih dahulu. Kami lalu sama-sama masuk menemui petugas yang sedang memeriksa Edo.  Ya, benar namanya Edo. Ia menatap kami seperti mohon pertolongan.  Petugas yang tampaknya sudah selesai memeriksanya. Petugas itu pergi. Edo masih duduk di hadapan meja si petugas.  Bang Jon minta saya menunggu. Ia masuk ke ruang Kabareskrim.

Dengan suara berhati-hati, Edo bicara pada saya, ”Abang Abdur?” Saya mendekat. ”Saya Edo, Bang. Ferdy sebelum tak sadar di rumah sakit bilang ke saya temui Abang…” kata Edo.

”Sebelum pingsan karena kau hajar?”

“Bukan, Bang… Bukan saya yang pukul Ferdy…” kata Edo.

”Jadi?”

Belum sempat Edo menjawab, Bang Jon keluar bersama petugas pemeriksa dan pemberkasan pemeriksaan tadi.  Ia bicara pada Edo.  ”Sudah, kamu boleh pulang. Kamu tidak ditahan, aku jaminannya,” kata Bang Jon.

”Banyak sekali wartawan di luar…?” tanya Edo tak jelas kepada siapa, tapi ia menatapku.

”Tak usah dilayani. Nanti suruh mereka tanya humas saja,” kata Bang Jon.

Saya mengajak Edo keluar dari ruang pemeriksaan. Kami bergegas ke tempat parkir. Hanya untuk menghindari wartawan.  Beberapa sempat juga bertanya padaku soal penganiayaan Ferdy. Saya menjawab bahwa memang benar itu terjadi. Beberapa wartawan bertanya pada Edo. Saya melihat ia seperti ketakutan. ”Ini saudara Ferdy, tak ada kaitannya dengan penganiayaan,” saya menjawab sembarangan saja. Beberapa orang tanpa izin memotret kami.

Di tempat parkir saya bertanya pada Edo. ”Kau mau pulang ke mana?”  Edo tampak kebingungan. Karena saya tertarik untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya mengajaknya ke kantor Dinamika Kota.

Edo baru saja tiba dari Ambon lewat laut. Singgah di beberapa kota, Surabaya, Jakarta, sebelum kapal Pelni sandar di Pelabuhan Sekumpang. Dia kerabat istri Ferdy. Ia diutus keluarganya untuk menemukan Ferdy dan istrinya. Menyuruhnya bercerai dan membawa istri Ferdy pulang. Ferdy menemui Edo di rumah kerabat istrinya tempat dia semula menumpang sebelum tinggal di rumah kontrakanku.

”Kami bertengkar dan sempat tak bisa kendalikan emosi. Saya lebih dahulu pukul dia,” kata Edo. Lalu, tiba-tiba saja datang beberapa orang preman, mungkin ada empat motor, kata Edo. Mereka langsung menyerang Ferdy.

”Saya tak tahu siapa mereka. Saya tak tahu kenapa mereka serang Ferdy. Saya yang bawa Ferdy ke rumah sakit. Saya tanya paman-paman saya semua juga diam saja, sepertinya mereka tahu,” kata Edo.

Kini jelas bagiku, Edo tak terlibat dengan pemukulan Ferdy. Edo katakan ia sudah sampaikan itu semua pada polisi. Saya menduga penyerangan itu ada kaitannya dengan berita-berita Ferdy tentang pembunuhan Putri. Saya ingat satu percakapan dengan Pak Rinto tentang bagaimana para penegak hukum itu menutupi kasus.

Polisi, kejaksaan, dan/atau – ya bahasanya seperti bahasa hukum pakai dua kata sambung dan/atau –  pengadilan bisa bermain bersama, yang penting media bisa dipastikan bungkam. Kalau media masih memberitakan, maka kesepakatan bubar.

”Itulah pentingnya pers sebagai kontrol. Itulah pentingnya wartawan yang idealis dan berani. Pekerjaan kalian itu tak ringan, Dur. Penuh risiko. Hati-hati, tapi jangan pernah takut,” kata Pak Rinto kala itu.

Ada orang yang menemui saya belum lama berselang. Tak jelas siapa. Mengakunya orang utusan asosiasi importer mobil. Kalau urusannya pasang iklan jual mobil, saya katakan temui saja manajer iklan kami.

“Oh, ini justru kami diminta oleh Kang Uus menemui Bang Abdur langsung,” kata si utusan. Kang Uus adalah nama manajer iklan Dinamika Kota.  Seorang marketer andal. Jejaringnya luas sekali di kota ini. Ia yang bikin omzet iklan kami tumbuh terus tiap bulan.

”Kenapa harus ketemu saya? Kalau urusan pemberitaan nanti saya kirim wartawan saya saja,” kataku.

Si utusan dengan gaya yang makin lama makin memuakkan menyampaikan undangan pada saya untuk datang ke showroom-nya. Pilih satu mobil yang mana saja yang saya mau. Ada orang yang sudah membayarnya untuk saya.

”Siapa orang itu?”

”Nah, itu, Bang Abdur, silakan datang saja ke showroom kami, nanti bos saya yang jelaskan,” katanya.  Saya katakan terima kasih dan saya tak akan datang.  Sehabis pertemuan itu saya menemui Kang Uus dan bicara keras padanya. Kang Uus jelaskan itu yang suruh kabag humas Polresta.  “Saya nggak enak, saya dekat sama beliau. Satu kampung,” kata Kang Uus.

”Buat apa? Bilang aja terima kasih dan jangan lakukan itu lagi. Kita nggak bisa diatur-atur, dibeli, disuap dengan cara begitu. Kalau koran kita tak dipercaya pembaca, pemasang iklan juga tak percaya sama kita, Kang,” kata saya.

Saya makin curiga bahwa upaya pendekatan yang disampaikan lewat Kang Uus dan serangan pada Ferdy terkait dengan pemberitaan kami yang berbeda dalam kasus pembunuhan Putri.

Polisi menangkap Awang dan bersama Runi, pacarnya itu. Mereka ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana.  Semua media memberitakan persis seperti apa yang disiarkan humas Polresta. Kecuali Dinamika Kota, koran kami.

Kami mempertanyakan motif pembunuhan itu. Menurut polisi, Awang membunuh Putri karena kesal. Runi pacarnya, kerap dimarahi oleh Putri, majikannya itu. Menurut pengacara di kantor Restu Suryono, narasumber yang kerap kami mintai pendapat, motif itu lemah.

Awang dan Runi, sepenelusuran kami, belum lama berpacaran.  Mencari pekerjaan bagi Runi bukanlah sulit.  Kota ini sedang perlu banyak pekerja.  Bagi Runi mendapatkan pekerjaan sebagai operator di pabrik perakitan semudah membeli bakso di depan pintu keluar pabrik.  Kalau dia tak betah bekerja menjadi pembantu di rumah Putri, berhenti saja.  Hari itu berhenti, besok dia bisa dapat pekerjaan.

Investigasi kecil-kecilan kami, Runi betah bekerja di rumah Putri. Dia majikan yang royal.  Memang Putri berperangai kasar. Tapi sekasar apa sih sampai Awang harus membela pacarnya itu dengan membunuh Putri?  Sebuah motif yang sangat meragukan. Itu berita yang ditulis Ferdy sebelum penyerangan terhadap dirinya.

Saya tiba-tiba mencemaskannya. Apa dia aman di rumah sakit? Kami tadi sudah sepakati, Bang Eel gantikan saya di redaksi sementara saya mengurus dan gantikan Ferdy liputan. Malam itu saya selesaikan mengecek beberapa halaman, sebelum tersisa hanya halaman pertama yang dipegang langsung Bang Eel.

“Yon, sudah beres kan? Ke rumah sakit, yuk..,” saya mengajak Yon yang sedang asyik mendengarkan kaset baru untuk diresensi. Ada beberapa kaset di mejanya, saya lihat ada album kedua Shiela on 7, juga Dewa 19 dengan vokalis baru.  Beda sekali karakter vokalnya dengan Ari Lasso, tapi enak juga. Cocok dengan lagu-lagu baru Dewa 19.

Di parkiran kantor, Edo duduk di kursi di depan warung makan, seperti menunggu kami.  “Abang Abdur, maaf kalau saya mengganggu. Saya tak tahu jalan mau kembali ke rumah sakit,” katanya. Dia tampak lapar dan capek sekali. Saya ajak dia makan.  Saya tanya apa rencana dia? Apa dia mau kembali ke Ambon?

“Saya tak boleh kembali kalau tak bersama istri Ferdy. Sementara saya lihat mereka tak mungkin dipisahkan. Apalagi sekarang istrinya hamil. Tak mungkin Ferdy kasih lepas istrinya. Ferdy cerita dia banyak dibantu Abang Abdur. Saya malu, Abang bukan keluarga kami, mau bantu saudara kami.  Kalau abang izinkan saya mau balas bantu Abang,” kata Edo.

”Bilang aja kamu minta kerjaan,” kata Yon.

”Siap, kalau ada kerjaan boleh kasih ke saya, Abang,” kata Edo.

”Kamu bisa apa? Jadi wartawan?” tanyaku.

”Saya bodoh kalau disuruh menulis. Saya tak bisa,” kata Edo.

“Jadi sopir mau?” tanyaku, saya ingat Bang Eel suruh saya cari sopir redaksi.

”Mau, tapi saya belajar dulu, bikin SIM dulu,” kata Edo.

Edo tak tamat SMA. Dia banyak habiskan waktu di jalanan.  Jadi preman. Tak ada kejahatan yang tak dia lakoni. Dari mencopet, memalak, sampai mengedar ganja. Terpedo itu nama jalanannya. Nama gengnya.  Ada tato di lengannya: TERPEDO. Kata Edo, itu singkatan dari Terowongan Penuh Dosa. Malam itu Ferdy mulai pulih kesadarannya. Anak dan istrinya sudah bersamanya di rumah sakit. Saya minta Edo menjaganya.

Malam itu saya menumpang di kos Yon. Kami masih simpan informasi tentang penyitaan CCTV di King Palace. Saat mengumumkan Awang dan Runi sebagai tersangka, polisi menyebut penyitaan barang bukti, antara lain CCTV.

Tak ada wartawan yang bertanya soal itu. ”Yon besok kita konfirmasi soal CCTV, tak perlu kita katakan bahwa kita tahu dan pernah melihatnya. Asal ada pernyatan dari polisi bahwa CCTV itu disita dari tempat hiburan kita bisa masuk dari situ.  Kita cukup sebut sosok mirip Putri dan Pintor,” kataku. (Hasan Aspahani)

(Visited 25 times, 1 visits today)

Komentar