Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Siapa Membunuh Putri (15) – Sidang yang Tegang

  Ilustrasi Sidang--

Oleh: Dahlan Iskan

KOTA pulau ini, kota Borgam ini, di mataku kadang seperti Gotham. Penguasa bukanlah penguasa yang sebenarnya. Penguasa formal adalah dia yang bersepakat untuk berbagi otoritas. Dengan proses tawar-menawar yang keras. Dan kerap berdarah.

Seperti Gotham. Gelap. Tegang. Dan identitasmu menjadi penting.  Terutama identitas kelompokmu. Itulah topeng yang kau pakai di tubuhmu, dan kostum yang kau kenakan di tubuhmu, yang bisa membuatmu diperhitungkan, membuatmu berani, punya pelindung, berani melawan, dan terutama berani berhadapan dengan kelompok identitas lain.

Itu yang bikin konflik kecil bisa mudah sekali menjadi bentrok antarkelompok. Tegang sekali. Kerukunan kadang terasa hanya basa-basi yang palsu di permukaan pergaulan.

Saya menyadari itu, bahwa bekerja sebagai wartawan, dengan surat-kabar kami kadang-kadang tak sadar seperti melempar korek menyala ke tengah jerami kering. Berita kami bisa jadi penyulut kerusuhan. Kami tak  bermaksud begitu, tapi orang tertentu, kelompok tertentu memanfaatkannya untuk kepentingan mereka.

Saya dan redaksi menimbang keras strategi pemberitaan kami menjelang sidang pembunuhan Putri. Dengan Awang dan Runi sebagai tersangka. Penangkapan Awang sangat dramatis. Sepasukan polisi mengepung rumah ketua ormas Melayu, yang masih diakui sebagai kerabatnya. Bukannya menyerahkan Awang, si ketua ormas menyuruh pasukan polisi itu kembali. “Hari ini juga, kami yang akan mengantar awang ke kantor polisi,” kata  Panglima Wira.

Wira memimpin satu  kelompok ormas yang sangat berpengaruh. Namanya Porpal. Singkatan Persatuan Orang Lokal.  Sejak penyerahan Awang, dan diberitakan Awang ditetapkan jadi tersangka, mereka selalu kirim rilis dan “memaksa” kami memuatnya.   Sehari setelah penyerahan Awang, pengurus Porpal dan puluhan anggotanya – yang berjaga di rumah sang Panglima ketika Awang hendak ditangkap –  datang ke kantor.

Saya tak terbiasa berurusan dengan orang seramai itu. Apalagi dengan seragam hitam yang makin bikin gentar. Gugup juga rasanya ketika saya menemui mereka. Nyatanya mereka santun, meski bicara dengan penuh tekanan dan volume satu setengah kali lebih tinggi dari saya.

Sebagian saya kenal baik tokoh-tokoh orang lokal itu. Orang lokal ini kategorinya lebar sekali, selain siapa saja yang lahir besar di Borgam, suku apa saja yang merasa sudah jadi orang Borgam, atau sudah belasan tahun tinggal di  bisa masuk jadi anggota.  Karena itu Porpal jadi ormas yang secara keanggotaan besar, dan secara pengaruh pun disegani.

Awang anggota Porpal. Dengan kartu anggota yang sah, meski tak terlalu aktif.   Ketika kami menurunkan feature tentang siapa Awang, kami tak terlalu menonjolkan soal keanggotaannya di ormas itu. Kami tak terlalu besarkan drama penyerahan Awang ke kantor polisi.  Kami dapat foto bagaimana polisi mengepung dan disuruh pulang, tapi kami putuskan untuk tak memuatnya. Kami tahu itu bisa menjadi pemercik dan bahkan  memperbesar api konflik. Tapi, dengan tak terlalu membesar-besarkannya justru koran kami didatangi, didesak memuat rilis versi Porpal.

Feature kami berfokus pada profil Awang yang  memang tidak meyakinkan untuk melakukan pembunuhan dengan motif yang disebutkan polisi. Meski curriculum vitae-nya tak jauh dari dunia hitam. Ia lama kerja jadi tenaga pengaman hotel yang diam-diam dioperasikan sebagai kasino.

Porpal sebenarnya sangat setuju dengan profil Awang yang kami turunkan lengkap itu. Tapi ada yang  berada di luar perhitungan kami. Mereka hendak bereselancar di atas isu itu. Lepas nanti hasil sidang membuktikan Awang bersalah atau tidak, selama persidangan, isu itu bisa ditunggangi untuk popularitas Porpal.  Terutama untuk mengangkat nama ketua umumnya, panglima besarnya. Dia baru saja juga menjadi ketua dewan pengurus cabang sebuah partai yang sedang naik daun. Dia sudah pasang baliho di mana-mana sebagai calon anggota DPRD untuk pemilu tahun depan.

Ruwet memang. Kepentingan politik itu juga dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh Sumbawa. Runi adalah orang Bima, kota kabupaten di sana.  Perkumpulan Orang Sumbawa di Gortam juga cukup diperhitungkan. Hanya berselisih hari, pengurus dan anggotanya juga mendatangi kantor kami. Minta diwawancarai untuk dimuat pernyataannya terkait Runi, yang mereka yakini juga tak bersalah. Penetapan dia sebagai tersangka, menurut mereka seperti dinyatakan dalam rilis, santer berbau rekayasa.

Dua tekanan itu, yang bisa juga kami anggap dukungan, membuat kami menjadi sangat berhati-hati mengolah berita pembunuhan Putri.   Tapi konflik yang lebih besar dan terbuka mulai tersulut juga ketika sidang pertama dibuka.  Keluarga Putri, terutama sang ibu, menghadang datangnya mobil tersangka di halaman PN Gortam. What a drama!

“Pembunuh, kau, pembunuh. Kau harus dihukum seberat-beratnya.” Ibunda Putri meraung-raung, menangis, sambil mengejar mobil dan makin histeris ketika melihat dua tersangka keluar dari mobil tahanan. Seperti sengaja dilepaskan. Seperti sebuah aksi yang sudah diatur. AKPB Pintor mengejar dan memeluk sang ibu mertua. Ayah mertuanya duduk di kursi roda. Ada opini yang hendak dibangun dengan drama itu.

Foto adegan itu  kemudian muncul nyaris di halaman depan semua koran lokal. Kecuali “Dinamika Kota”. Kami punya fotografer handal. Sapril Saiduna, namanya. Fotografer yang kadang bagai tak punya perasaan. Ia ambil foto-foto sadis, yang tak mungkin kami naikkan di koran kami. Korban bunuh diri yang belum dilepaskan tali yang menggantung di leher, korban kecelakaan yang keluar ususnya, atau terhambur otaknya.  Saya pernah kesal padanya, saya harus melihat semua foto-foto sadis itu, dan itu yang bikin saya insomnia. Imaji sadis di dalam kepala terbawa pulang. Susah sekali menghilangkannya.

“Lho, kan Abang yang suruh, Nanti kalau tak ada fotonya, nanti saya kena marah lagi…” kata Saprol. Memang benar, saya punya prinsip lebih baik bawa pulang ke kantor foto yang tak mungkin naik daripada tak dapat foto sama sekali. Soal foto mana yang akan naik itu saya yang pilih dan putuskan.

Dari sidang hari pertama itu Sapril dapat banyak foto bagus. Ia menjepret Awang dan Runi dalam sudut yang sulit, dalam jarak lumayan dekat dan terutama dia berhasil menangkap momen keduanya bertatapan dengan AKBP Pintor. Foto itu ymenggambarkan beragam tafsir. Antara polos, menyesal, takut, dan seperti menuntut sesuatu. Sama sekali tak ada kesan sadis pada kedua orang tersangka itu.

Pada saat yang sama, di hari sidang pertama itu, dua ormas terkait Awang dan Runi juga mengerahkan massa.  Tak terlalu banyak, tapi cukup bikin ketegangan terasa.  Ferdy sudah kembali meliput. Kami berangkat bersama, disupiri Edo. Dia sudah bisa menyetir meski SIM-nya masih diurus.

Ferdy juga sempat diancam verbal oleh pengacara keluarga Putri. “Kau wartawan ‘Dinamika’ ya? Lurus-lurus aja kalau meliput, kenapa, sih? Jangan macam-macam berita kau, ya?” kata pengacara top dari ibukota.  Mendengar nama si pengacar itu saja, orang bisa gentar.  Tak tanggung-tanggung memang pembelaan keluarga Putri. Seperti ada sesuatu yang mereka persiapkan.

Bahwa sidang-sidang panjang kasus pembunuhan itu sejak semula telah kami perkirakan akan melebar ke berbagai arah, kami sudah menduga akan kental nuansa politisnya ketika Restu Suryono menjadi pengacara Awang dan Runi.

Dia pengacara amat populer. Dan tokoh politik yang disegani. Partai yang ia pimpin, partai besar itu, menang dalam pemilu terakhir di tingkat kota. Dia menempatkan orangnya sebagai ketua DRPD. Dia sendiri sudah mendeklarasikan diri menjadi calon walikota. Atau wakilnya, dengan calon walikota Alkhaidir.  Alkhaidir seorang tokoh besar Melayu. Birokrat yang menguasai dan dihormati seluruh PNS. Tapi sosoknya tak bisa dipisahkan dari gerakan politik  Melayu di Gortam.  Dia memimpin organisasi yang menghimpun seluruh organisasi Melayu di Gortam, termasuk Porpal.

Restu dan Alkhaidir adalah calon terkuat. Pada sidang hari pertama itu Restu Suryono bikin pernyataan yang mengejutkan, “kami nanti akan buktikan   ada tersangka lain, otak dari perbuatan yang disangkakan kepada Awang dan Runi, klien yang kami bela.  Bahkan kami yakin, dialah yang harus dihukum, klien kami harus dibebaskan!”

Kami memilih pernyataan itu sebagai headline: Ada Tersangka Lain!  Dengan foto Sapril tadi, foto Awang dan Runi turun dari mobil tahanan dan sekilas dari jauh bertatapan dengan AKPB Pintor. Nyatanya dalam sidang, pertanyaan anggota dewan hakim kepada Awang dan Runi mengarah ke hal itu.

Pemilihan foto dan headline di koran kami itu bukannya tanpa perdebatan. Bang Eel demi kehati-hatian mempertanyakan banyak hal. Ia ragu mengutip pernyataan pengacara di luar sidang itu.

“Siapa kemungkinan tersangka lain itu?” tanyanya.

“Suaminya, AKBP Pintor,” kataku.

“Kenapa?”

“Motif, Bang. Motif pembunuhannya Awang dan Runi lemah. Seperti sudah beberapa kali kita beritakan.

“Tapi menuduh Pintor juga tak ada bukti?”

“Belum, Bang. Soal CCTV yang kita beritakan itu belum dibahas atau dibawa ke sidang. Nggak tahu juga apa ada dalam daftar barang bukti…”

“Kenapa ibu Putri malah mati-matian membela Pintor? Kalau memang menantunya yang membunuh, kenapa sampai seheroik itu dia membela?”

Saya jelaskan argumen saya, sebagai analisa saja, bukan fakta hukum,. Kalau saya ibu dari anak saya dibunuh oleh mantu saya, mantu kesayangan, dan saya tahu itu terjadi karena kesalahan anak saya, dan saya pun tahu  anak saya memang berengsek, maka ketika menantu saya datang mengakui dengan jujur, maka saya akan bela menantu saya sebisa mungkin.  Saya sudah kehilangan anak saya, maka saya tak mau cucu saya pun kehilangan ayahnya karena dipenjara.

“Apa perasaan cucu saya kalau tahu ayahnya membunuh ibunya?” kata saya.

“Penjelasanmu tak logis….”

“Tak logis gimana, Bang?  Saya  bilang tadi ini memang tak berdasar fakta, hanya analisa dengan logika perasaan saja,” kata saya.

“… tapi menarik. Yang penting kita tak melanggar kaidah jurnalistik, ya. Itu harga mati buat kita.  Ini kasus sensitif. Salah sedikit saja, bisa bahaya kita. Kita sudah dicap sejak awal membela Awang dan Runi,” kata Bang Eel.

“Bang, kita tidak membela siapa-siapa. Kita hanya mengikuti logika perkembangan kasus ini.  Apa-apa yang muncul di persidangan, juga fakta-fakta yang kita kumpulkan dari berbagai sumber kompeten.  Kalau pembaca menyimpulkan begitu, ya berarti pembaca kita kritis dan logis,” kataku.

Ferdy, wartawan yang kami andalkan, yang bekerja seperti tak ada takutnya, yang biasanya tak banyak bicara itu pun omong dalam rapat, “Orang juga mulai ragu dengan keterangan polisi. Orang mulai curiga ini penyelidikan, pengusutan, penangkapan, sampai penetapan tersangka seperti direkayasa, ada yang ditutup-tutupi.”

Sapril menunjukkan foto-foto hasil jepretannya. “Ini yang demo di PN tadi bawa-bawa koran kita,” katanya.   Manajer pemasaran kami, Hendra, datang dengan angka-angka kenaikan oplah dan retur.  Sudah jauh di atas target. “Direksi minta target tahun ini dinaikin. Kita diminta usulkan angkanya nanti di rapat tiga bulanan di Jakarta,” katanya.

“Edo gimana, supir baru kita enak nyetirnya?” tanya Hendra. Dia orang yang paling jago nyetir di kantor. Kerap mobil pemasaran dari percetakan ke kantor, dan ke agen-agen koran dia setir sendiri.  Masih aktif ikut rally dan selalu menang. Dia tak pernah bawa mobil pelan, tapi kalau disopiri dia tenang saja rasanya.  Saya minta dia ajari Edo menyetir.   Saya bilang enak, dan nyaman. “Siapa dulu yang ngajarin,” kata saya.

Tapi ada laporan tak enak dari pemasaran. Ada satu agen kami, yang tiap hari ambil sekitar 200 koran, hari itu korannya dirampas orang tak dikenal. “Korannya dibuang?” tanyaku. “Dibakar!” kata Hendra.

Aduh, teror apa lagi ini?

Aku berpandangan dengan Bang Eel.(Hasan Aspahani)

(Visited 28 times, 1 visits today)

Komentar