Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Siapa Membunuh Putri (8) – Durian Lebat Sekebun Runtuh

  ilustrasi diborgol--

Oleh: Dahlan Iskan

IMAJINASI tentang tahun 2000, jauh sebelum dekade itu sampai, dalam lirik-lirik lagu pop Doel Sumbang dan kasidah Nasida Ria adalah gambaran cemas tentang hidup yang serba mesin dan manusia tidur berdiri.  Di kota pulau ini, saya melihat dan menjadi bagian dari kota yang ”tidur berlari sambil berkejaran dengan mesin”.

Saya di kota ini adalah manusia tahun 2000 itu.  Mengingat-ingat kegagapan dunia menyambut millennium baru, alat baru ini, konyol juga rasanya. Ada info tersebar bahwa perbankan akan kolaps, karena angka nol yang berderet itu membuat sistem komputer akan error.  Kontrol penerbangan di bandara di seluruh dunia katanya juga akan kacau dan pesawat-pesawat yang lepas landas dan mendarat akan saling bertabrakan.

Mesin besar itu mengatur hidupku.  Membuat saya harus menyesuaikan semua kegiatan dan kebiasaan lain dengan jadwal kerja mesin itu.  Mesin itu bernama Goss Community.   Hampir tiap malam saya menyempatkan diri – atau malah mewajibkan, bahkan jadi ritual karena apabila tidak kulakukan ada yang kurang rasanya – melihat bagaimana mesin cetak itu bekerja.  Mencetak halaman-halaman koran  yang baru saja kami kerjakan.

Derunya yang monoton, tapi dinamis, seperti kereta yang membawa deretan gerbong panjang, bergerak tak putus-putus. Saya suka melihat bentangan kertas panjang mengulur dari rol di ujung mesin, menjadi tumpukan koran yang sudah terpotong dan terlipat rapi di ujung lain. Membawa hasil kerja pikiran kami, liputan kami, suntingan kami.

Saya bahkan kadang-kadang terbawa imajinasi bahwa diriku pun terseret oleh gerbong-gerbong kertas itu! Kadang-kadang saya merasa terikut dalam perjalanan yang tak jelas mau ke mana tujuannya, atau apabila saya tahu, ini bukanlah tujuanku.  Fakta-fakta yang tiap hari saya buru begitu rapuh rasanya. Kebenaran bisa hanya berumur satu hari karena esok telah ada lagi keterangan lain menggantikannya. Itu mungkin sebabnya di saat-saat seperti saya jatuh cinta pada sastra, terutama puisi. Saya merasakan kebutuhan akan untuk masuk ke sana, demi kebenaran yang lebih awet.

Goss Community di aula besar percetakan kami itu adalah bukti kerja keras kami di Metro Kriminal.  Target 30 ribu oplah di akhir tahun kami capai bahkan di bulan November tahun itu.  Kami dapat bonus dua bulan gaji. Untuk pertama kalinya, kami mendapatkan bagian dari laba perusahaan, hasil kerja kami.  Bagi karyawan seperti kami, yang tak punya saham kepemilikan, ini tentu saja membuat kami merasa memiliki tempat kerja kami. Bahkan mencintai. Saya mengajak  anak-anak redaksi untuk ”bekerja dengan cinta”, seperti nasihat Gibran.

Kami bergerak cepat, mengimbangi, kota pulau yang juga bergerak sangat cepat. Seperti disulap, kata seorang penyair Riau.  Seperti ponsel di tanganku ketika pertama kali saya memegang dan memakainya. Benar-benar terasa seperti sulap.  Sewaktu kecil dulu, saya dan teman-teman bermain meniru adegan dalam film fiksi ilmiah, bicara dari jarak jauh dengan alat komunikasi seperti telepon melingkar di tangan.

Di kantor, setelah Bang Eel, saya pemilik ponsel nomor 2.  Dia memberi Ericsson sebesar ulekan dan kartu perdana yang harganya tak akan saya beli dengan uang gaji saya.   Banyak pekerjaan terbantu dengan alat komunikasi dan teknologi baru ini.  Tapi bagiku  ini seperti mesin baru, mesin yang lain lagi yang mengatur dan menyeret hidupku ke arah lain.

Bang Jon tak jadi bergabung di koran baru. Ia bikin majalah mingguan, yang banyak memberi porsi khusus berita-berita kriminal.  Dimodali pengusaha mobil dan eksporter pasir.  Ia tak terlalu yakin ketika mengajakku bergabung, mengingat penolakanku sebelumnya.

Ia juga tak bertanya soal Nenia yang setelah kejadian malam itu, saya lihat sering ke mana-mana bersama Bang Eel.  Saya dengan Bang Jon dan Bang Eel sempat bertemu dan marah-marahan soal Nenia itu. Saya tak pedulikan.  Bukan urusan saya.  Beberapa kali dia bawa mampir ke kantor redaksi kami.  Saya berusaha berusaha menjaga kewajaran ketika bertemu dengannya, seakan tak pernah ada apa-apa, tapi ya memang tak ada apa-apa.

Kabar tentang penerbitan koran baru, menyusul mesin cetak baru yang kami punya makin santer.  Dinamika Kota sedang dipersiapkan dengan serius.  Saya sekali diajak rapat persiapan. Hanya jadi pendengar.  Itulah saat pertama kali saya berada dalam satu ruangan dalam waktu yang lama bersama CEO grup kami Indrayana Idris.

Hari itu langsung terbang dari Surabaya dan akan terus menyeberang ke negeri jiran itu.  Bicaranya cepat. Retorikanya membuat gagasannya mudah dipahami dan disetujui.   Saya seperti mendapat konfirmasi dari kesan tentang ia yang kutangkap dari tulisan-tulisannya yang kami muat di koran-koran kami.  Ia paparkan nanti bagaimana strategi dua koran itu dijalankan.

“Di Amerika di tiap kota selalu ada dua koran yang kuat, satu koran umum, satu koran metro. Kita tiru itu.  Metro tetap jadi koran kriminal, seperti sekarang, dinamika nanti akan jadi koran umum.  Tentu akan terjadi persaingan, tapi itu sehat, malah tak bagus kalau tak ada kompetisi.  Terlena nanti. Tak ada ukuran. Kalau pun kita tak bikin koran, grup kompetitor pasti akan masuk,” kata Pak IDR.

Saya teringat tawaran Bang Jon.  Saya membayangkan ketegangan seperti apa nanti yang akan terjadi antara dua koran kami itu. Siapa yang akan kelola ”Dinamika Kota”? Pasti orang-orang baru. Orang-orang hebat yang telah sukses di daerah lain dan dikumpulkan nanti di situ. Koran Metro di grup kami adalah koran nomor dua. Kelasnya beda dengan koran umum. Berhasil di koran metro, seperti yang sekarang kucapai, belum tentu bisa berhasil di koran umum.

Pada hari rapat itu,  Pak IDR, ini panggilan kami kalau menyebut CEO kami itu, seperti kode pada dalam berita yang ia tulis sejak reporter, dan saya kira itu diambil dari tiga huruf di nama keduanya itu, beliau bicara tentang peresmian Maestrochip Corp.  Yang tak sampai seminggu lagi.  Iklan-iklan ucapan selamat sudah diorder oleh berbagai pijak, asosiasi,  pebisnis, pemerintahan, lebih dari ratusan halaman totalnya.  Beberapa sudah terbit, iklan ucapan dari para pemasok dan penyedia berbagai jasa. Iklan lowongan kerja sudah sejak beberapa bulan sebelumnya, dan itulah yang bikin angka oplah kami meningkat tinggi.

”Siapa namamu? Abdur, ya? Dur? Kamu punya baju batik yang bagus, nggak?” tiba-tiba Pak IDR menunjuk saya, bicara pada saya.

”Saya, Pak?” saya kaget. Saya sejak awal sadar hadir dalam rapat itu hanya anak bawang yang tidak penting, timun bengkok yang tak masuk hitungan.

”Iya, kamu… Punya batik bagus, nggak?”

”Yang jelek aja nggak punya, Pak,” kata saya menjawab jujur, tapi bikin seluruh yang hadir dalam rapat itu tertawa. Saya sungguh tak bermaksud melucu.  Apakah itu jawaban yang bodoh atau konyol? Sampai bikin semua orang tertawa?

”El, belikan dia batik yang paling bagus, dan paling mahal,” kata Pak IDR, memberi perintah pada Bang Eel.  ”Nanti kamu pakai pas peresmian pabrik Maestrochip Corp. Saya diundang, saya mau ajak Abdur hadir.”

Saya memang tak punya baju batik. Kecuali dulu batik kodian seragam sekolah.   Tapi mengingat batik mau tak mengingatkanku pada perempuan itu. Perempuan yang masih kuharapkan bisa kutemukan lagi, yang jadi semacam alasan tambahanku datang ke kota pulau ini.

Secara jarak, dari kota pulau ini aku lebih dekat dengan dia.  Kami bertemu di Malang. Ia datang bersama kelompok kerja sosial dari kampusnya di negeri seberang itu. Saya dapat pekerjaan sebagai pendamping.  Honornya lumayan.  Mereka dibagi dalam beberapa kelompok minat.

Dia sudah merancang sebuah kerja terkait para pengrajin batik kecil di Jawa.  Di kelompok itu hanya dia anggotanya.  Maka selama berada di Malang, kami ke mana-mana berdua saja, dengan motor  yang kusewa khusus untuk pekerjaan itu.

Saya menyimpan kenangan yang berbeda dari aroma kain mori dan bau malam lilin bahan pembatik itu.  Aroma yang seperti diracik oleh parfumer dengan aroma tubuh dan rambutnya.  Konon begitulah mekanisme jatuh cinta, sebuah peristiwa reaksi kimia yang dihasilkan satu hormon tertentu dalam tubuh manusia.  Katanya pertukaran pengaruh hormon itu, proses saling mencari kecocokan, terjadi lewat aroma tubuh. Itulah yang katanya dinamakan jodoh.

Saya setengah percaya. Setelah jatuh cinta karena aroma tubuh perempuan dari negeri seberang itu, tubuh saya seperti terkunci, tak lagi bisa menghasilkan hormon lain, disebabkan perempuan lain.

Tidak Nenia, tidak juga Mila, yang kalau boleh besar kepala, tampaknya juga menaruh hati pada saya.  Saya berusaha mencari alasan untuk juga membalas perhatian Mila, tapi saya tak bisa mendustai hati saya sendiri, saya memang tak mencintai dia.

Dia, perempuan dari negeri seberang itu, tampaknya juga menyukai saya. Saya merasa begitu.  Meskipun selama di Malang, kami menjaga hubungan sebatas pendamping kegiatan.  Tawanya, pembicaraan kami di luar hal-hal pekerjaan, saat-saat kami makan tanpa pilih tempat di kampung-kampung di sekitar Malang yang kami kunjungi.

Nah, saya telah terbawa kenangan itu hanya karena mendengar kata batik.  Separah itulah kenangan itu rupanya.  Saya tak sadar rapat selesai dan terkejut lagi ketika dari belakangku Pak IDR berdiri menepuk-nepuk pundakku. ”Dur, kamu punya paspor, nggak? Kalau punya besok ikut menyeberang, ya…” katanya.

Kejutan lagi. Saya belum pernah ke negeri seberang itu.  Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar, hanya dengan membayangkan  sampai ke negeri itu saja, saya seakan membayangkan bertemu dengan dia. Aduh, parah sekali.  ”Belum punya, Pak!” kata saya, tapi urusan ini bisa beres dalam satu hari kalau diserahkan ke Bang Jon.

“Ya, sudah lain kali saja. Tapi malam ini habis deadline, ketemu saya di hotel ya… Kita ngobrol, makan malam sama saya,” kata Pak IDR. Satu kejutan lagi. Satu kebun pohon durian berbuah lebat di musim panen dan sedang matang runtuh menimpaku!

Dari kamar teratas dan termewah, president suite hotel Nagata Plaza, kamar yang dihuni Pak IDR aku bisa berkeliling melihat kota ini dari atas.  Kerlap-kerlip lampu dan pendar kota di negeri seberang itu pun tampak cemerlang.   Saya datang bersama Bang Eel.  Hanya kami berdua.  Pak IDR sedang menelepon ke Surabaya. Masih saja dia bertanya soal berita.

Setelah menelepon dia bicara dengan kami. Langsung ke pokok persoalan. “Kalian berdua punya calon nggak siapa yang bisa menggantikan kalian di Metro Kriminal? Saya mau kalian berdua siapkan koran kita yang baru Dinamika Kota,” katanya.

Saya dan Bang Eel terkejut. Meski Bang Eel tampaknya sudah menduga penunjukan itu. ”Eel GM, Abdur Pemred,” kata Pak IDR dengan nada bicara yang sama sekali tak mengandung keraguan, memaksa, menutup kemungkinan penolakan. Seperti perintah yang harus segera dilaksanakan.

”Kalau tak ada, Bos?”

”Harus ada. Mosok tak ada?”

”Dari luar, dari grup kita, Bos?”

”Jangan. Tak boleh. Saya tak mau. Saya hargai teman-teman di sini, beri kesempatan terlebih dahulu pada mereka,” kata Pak IDR.

Bang Eel lantas menyebut nama-nama awak redaksi yang bisa. Bang Jon saya usulkan untuk ditarik saja lagi. Bang Eel menolak. Pak IDR juga tak setuju.  Ada beberapa nama wartawan lokal dari media lain yang masih muda yang masuk daftar pilihan kami.

Pak IDR lantas bercerita tentang target dan rencana besar pengembangan grup. Kami dapat pencerahan soal visi misi bisnis grup dan menjadikan itu bahan untuk merancang persiapan Dinamika Kota.

Pembicaraan kami selesai. Sambil makan steak yang diantar ke kamar (ini pertama kali saya makan steak seumur hidup) Pak IDR bertanya soal berita.  ”Apa headline besok?”

”Tadi ada laporan perwira polisi kehilangan istri, anak, dan pembantunya. Nama istrinya Putri,” kata saya.

”Polisi itu pangkatnya apa?”

”AKBP,” kata saya.

”Kasus apa itu?  Kenapa polisi sampai harus lapor ke polisi? Pembunuhan?” tanya Pak IDR.

”Mungkin istrinya jalan-jalan ke Singapura tak bilang-bilang, Pak,” kata Bang Eel.

”Aneh, ya. Aneh, nggak? Mungkin itu pembunuhan.”

”Belum ada bukti mengarah ke sana sih, Pak…”

”Saya kira arahnya ke sana. Ikuti saja…” kata Pak IDR. (Hasan Aspahani/bersambung)

(Visited 72 times, 1 visits today)

Komentar