Jumat, 29 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sikap Legislator Boalemo Soal Jembatan Ambruk

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Kab. Boalemo , pada Senin, 4 Oktober 2021 | 12:05 PM Tag:
  Kondisi jembatan di Desa Pangea, Wonosari yang ambruk dan tidak bisa dilewati mobil. (Foto : Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Jembatan yang terletak di Jalan Ampera, Desa Pangea, Kecamatan Wonosari, Boalemo, ambruk lantaran dihantam banjir pada Ahad (03/10/2021), sekitar pukul 16.00 Wita.

Informasi dihimpun Hargo.co.id, peristiwa itu dikarenakan curah hujan tinggi yang cukup lama mengguyur wilayah Wonosari. Akibatnya, sungai kecil pada jembatan yang menghubungkan antara Desa Pangea dan Sari Tani, meluap.

Anggota DPRD Boalemo Fatkurrohman menyebut, aktivitas ekonomi masyarakat terganggu akibat peristiwa ini. Hasil pertanian dan lainnya kata Fatkurrohman, tidak bisa diakses. Sebab, saat ini hanya kendaraan roda 2 saja yang bisa melintas.

“Setiap mengangkut hasil panen, para petani harus mengeluarkan uang sebesar Rp 5 Ribu, mereka harus menyewa jasa ojek untuk menyebrangi sungai di area jembatan itu,” ujarnya saat dikonfirmasi Hargo.co.id, Senin, (04/10/2021) dini hari.

Menurutnya, kondisi ini butuh solusi dan perhatian dari pemerintah daerah Boalemo, untuk memulihkan kembali aktivitas ekonomi. Bukan hanya petani, bahkan para guru yang mengajar di Sekolah juga terganggu aktivitasnya.

“Jadi guru-guru yang di luar Ampera itu, yang bawa-bawa mobil juga sudah nggak bisa lewat. Begitu juga hasil pertanian masyarakat, itu harus diangkut lagi pakai ojek, mobil tidak bisa,”ujar Kader PPP itu.

“Ada harapan besar dari masyarakat, kalau memang juga anggarannya masih melalui perencanaan, paling tidak pemerintah mencarikan alternatif. Misalnya melakukan lobi-lobi dengan perusahaan sawit, bagaimana kiranya agar mobil-mobil bisa lewat,” imbuhnya.

Karena kata Aleg Dapil II Dulupi-Wonosari tersebut, mobil-mobil milik perusahaan sawit juga sering melintasi jembatan yang dibangun sejak beberapa tahun tahun lalu itu. Jembatan ini merupakan satu-satunya akses perusahaan, khususnya yang dari Longgi ke perusahaan.

“Nah, harapannya pemerintah bisa bekerja sama dengan perusahaan sawit, agar kegiatan masyarakat kembali normal, kita juga berusaha melakukan komunikasi terkait ini. Normalisasi nggak perlu, hanya perlu dibangun lagi dan yang paling penting saat ini, adalah solusi agar mobil-mobil bisa lewat,” pungkasnya. (***)

 

Penulis : Abdul Majid Rahman

(Visited 177 times, 1 visits today)

Komentar