Selasa, 6 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Simak Aksi Kemanusiaan Samsudin Ayub Ketika Mengatur Lalu Lintas 

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Ragam , pada Rabu, 13 April 2022 | 06:05 Tag: , ,
  Samsudin Ayub, tengah mengatur lalu lintas di simpang tiga Jalan Andalas - Jalan Tirtonadi, Kota Gorontalo. (Foto: Istimewa)

TAK mengharap belas kasihan. Namun, langkah untuk mengatur kendaraan agar tak macet serta tak menimbulkan kecelakaan, dilakukan oleh Samsudin Ayub murni hanya untuk kemanusiaan. Pemandangan ini akan kita lihat ketika melintas di Jalan Andalas, Kota Gorontalo. 

Oleh: Jumiah Bolota/ Kota Gorontalo *    

KETIKA Matahari pelan-pelan menampilkan warna jingga, saat itu pula Samsudin Ayub mulai bersiap-siap untuk melakoni aktifitas kemanusiannya. Maklum, saat itu jalan mulai ramai dan rata-rata pengendara roda dua dan roda empat melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Mereka ingin cepat tiba di rumah setelah seharian bekerja di kantor. 

Langkah Samsudin Ayub menelusuri Jalan Tirtonadi (alamat rumahnya) menuju Jalan Andalas, begitu tergesa-gesa. Kali ini, Samsudin Ayub mengenakan pakaian serba hijau. Warna hijau menggambarkan sesuatu berdampak positif pada pemikiran, hubungand an kesehatan fisik. Warna ini juga dianggap mampu menghilangkan stres, serta membantu penyembuhan penyakit. 

Setelah tiba di pertigaaan Jalan Tirtonadi – Jalan Andalas atau tepat di samping Kampus III Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pria paruh baya ini, langsung jalani ‘misinya’. Yakni, mengatur kendaraan di simpang tiga tersebut. 

Samsudin Ayub, melemparkan senyum sambil mengacungkan kedua jempolnya ketika berhasil mengurai kemacetan di simpang tiga Jalan Andalas - Jalan Tirtonadi, Kota Gorontalo. (Foto: Istimewa)
Samsudin Ayub, melemparkan senyum sambil mengacungkan kedua jempolnya ketika berhasil mengurai kemacetan di simpang tiga Jalan Andalas – Jalan Tirtonadi, Kota Gorontalo. (Foto: Istimewa)

Semangat yang ditampilkan tak kalah semangat dengan anak muda jaman sekarang. Kedua tangannya tak henti-henti memberi instruksi kepada pengguna jalan. Sesekali membunyikan sempritan yang berada di bibirnya. Ketika berhasil mengurai kemacetan, Samsudin Ayub justru mengacungkan kedua jempolnya kepada pengemudi kendaraan. 

Menjelang waktu menjelang petang, Samsudin Ayub memilih istirahat sambil bersiap-siap untuk Salat Magrib. Selanjutnya, aktivitas mengatur kendaraan di simpang tiga tersebut, kembali dilanjutkan hingga jelang Salat Isya. Demikianlah aktivitas Samsudin Ayub setiap hari selama tidak sakit dan tidak hujan pula. 

Samsudin Ayub mengatur lalu lintas tanpa mengharapkan imbalan. Seorang pengendara cukup melempar senyum dan mengacungkan jempol menjadi sesuatu yang istimewa bagi Samsudin Ayub. Dirinya seakan berprinsip bahwa hidup bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang harus dinikmati. Nikmatilah setiap perjalanan anda. Atau mungkin itu merupakan perjalanan hidup bagi Samsudin Ayub. Proses perjuangan tanpa henti, ditaburi mimpi yang diisi dengan tekad.

Oo Iya. Data yang diterima bahwa Samsudin Ayub merupakan pensiunan guru dan tinggal seorang diri di Jalan Tirtonadi. Informasi yang dihimpun dari tetangganya, Samsudin Ayub telah melewati beberapa cobaan hidup, dan itu mungkin menjadi alasan kenapa tinggal sendiri. 

Saran bagi setiap pengguna jalan atau mantan muridnya yang melintas, tak ada salahnya ketika melihat Samsudin Ayub tengah mengatur lalu lintas, melemparkan senyum atau mengacungkan. Mungkin hanya itu penghargaan yang diharapkan. (***)

 

*) Penulis adalah mahasiswa magang dari UNG

(Visited 2,944 times, 1 visits today)

Komentar