Senin, 10 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Simak Kisah Pedagang Pisang yang Mangkal di Perempatan SMP 6 Kota Gorontalo 

Oleh Berita Hargo , dalam Features , pada Selasa, 20 April 2021 | 22:05 WITA Tag:
  Usai yang tak lagi muda, Saini Pakaya masih terlihat bersemangat menjalankan ibadah puasa sambil berjualan pisang dan pepaya. (Foto: Istimewa: Rita Setiawati untuk Hargo)


HIDUP nyaman dan sejahtera di masa tua mungkin menjadi impian bagi setiap orang. Tentunya, tidak ada yang ingin hidup di tengah kesulitan saat usia sudah mulai senja. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki nasib yang baik sehingga bisa hidup nyaman dan sejahtera di usia lanjut usia.  Lain halnya yang dialami Saini Pakaya, masih saja sibuk berdagang di tepi jalan meskipun usianya sudah 63 tahun. 

Rita Setiawati: Kota Gorontalo 

CERITA ini tentang pria yang bernama Saini Pakaya (63 tahun). Seorang pedagang pisang dan pepaya yang sering mangkal di perempatan SMP 6 Kota Gorontalo. Usianya yang tak muda itu ternyata tak mengurungkan niat untuk terus mencari uang sebagai biaya hidup. 

Apalagi Bulan Ramadan, Saini Pakaya tetap saja jualan meskipun di bawah terik matahari. Dengan suara yang lirih, jalan yang tak lagi tegak, dan sorot mata penuh harap, lelaki tua itu menjajankan dagangannya tanpa berteriak. 

Namun sesekali memanggilmanggil orang untuk membeli dagangannya. ‘Pisang…. Pisang….Pepaya’. Begitu suara bapak Saini yang lirih saat menjajankan dagangannya.

Saat ditemui, bapak Saini mengungkapkan ia harus naik bentor dengan membayar Rp 15 ribu untuk bisa sampai ke tempat jualannya. Kemudian membayar Rp 15 ribu lagi untuk ongkos pulang ke rumahnya yang terletak di Batudaa, Kabupaten Gorontalo. 

Walaupun seharian berjualan, bapak Saini hanya membawa beberapa sisir pisang, dan beberapa buah pepaya. “Saya jualan dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore saja. Biasanya harus bawa pulang sisa dagangan yang tidak laku,” kata pak Saini.

Walau terik matahari yang menyengat, bapak Saini tetap bersemangat berjualan. Bahkan, ia juga tetap menjalankan ibadah puasa dan tidak terlihat mengeluh saat berjualan sambil berpuasa. 

“Saya sudah jualan sekitar 6 bulan di sini. Bulan Ramadan ini tentu saya tetap puasa, karena sebuah kewajiban bagi seorang Muslim. Terkadang, saya harus singgah di masjid guna berbuka puasa,” tuturnya.  

Dengan usia yang tak lagi muda itu, bapak Saini masih memiliki semangat berjuang demi menghidupi ke-7 anaknya. Selama masih mempunyai sisa tenaga, raga yang lengkap serta kemauan, Ia tak mau hanya sekedar meminta-minta dan hanya memohon belas kasih dari orang lain. 

Alasan bapak Saini memilih beranjak ke Kota Gorontalo untuk jualan, karena dagangannya tak laku di kampungnya. 

Bulan Ramadan tentunya tidak menghalangi kita untuk tetap bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Kita yang masih muda, memiliki tenaga yang banyak, badan yang sehat dan raga yang lengkap sudah semestinya kita patut bersyukur kepada Sang Pencipta yang sudah memberikan jalan untuk tetap berjuang bukannya bermalas-malasan. Jangan lupa, jika melintas di tempat jualan Saini Pakaya, tak ada salahnya membeli jualnya. Jika memang butuh pisang atau pepaya. (***)

BACA  Kisah Perjuangan Aspik Nalole Guna Menghidupi Keluarganya  

Komentar