Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sindikat Narkoba Malaysia Dibekuk, Polisi Sita Kapal Kargo

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Rabu, 6 April 2016 | 15:45 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id CIREBON – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri telah mengungkap sindikat yang biasa menyelundupkan narkoba dari Malaysia. Tak tanggung-tanggung, polisi juga menyita kapal jenis kargo bernama Bahari I yang digunakan untuk membawa barang haram berupa sabu-sabu dan ekstasi masuk ke Indonesia.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, sindikat itu sudah bermain sejak 2012 lalu. Jika dihitung, kata dia, sindikat ini sudah menyelundupkan sabu-sabu seberat 800 kilogram ke Indonesia.

BACA  TNI AD Kirim 1 Kompi Pasukan ke Amerika, Dapat Tugas Penting dari Jenderal Andika

“Jalur perjalanan yang digunakan selalu sama. Dari Malaysia ke Selat Panjang sampai ke Cirebon,” kata Badrodin di Pelabuhan Kelas II Cirebon, Jawa Barat, Rabu (6/3).

Badrodin menjelaskan, anak buahnya telah membekuk sembilan anggota sindikat itu pada 16- 19 Maret 2016. Mereka ialah Muhammad Rizki (30), Fajar Priyo Susilo (25), Ricky Gunawan (34), Jusman (52), Sugianto (29), Hendri Unan (28), Gunawan Aminah (60), Anciong (40),dan Yanto (36).

BACA  Dijual, Surat Nikah dan Cerai Inggit-Soekarno Kebanjiran Peminat

Dari tangan mereka, polisi berhasil mendapatkan 40 kilogram sabu-sabu dan 180 ribu butir ekstasi. Badrodin menjelaskan, jika dikonversikan ke dalam rupiah maka nilai barang haram itu mencapai Rp 178 miliar.

Namun demikian Badrodin memastikan pengungkapan kasus itu tak berhenti pada sembilan tersangka. Sebab, kata dia, otak di balik sindikat ini masih berkeliaran di Malaysia.

BACA  Total Ada 812 Halaman, UU Cipta Kerja Diserahkan ke Presiden Hari Ini

“Kita masih kembangkan. Dalam waktu dekat kita akan mencari siapa lagi yang berperan dalam sindikat ini,” bebernya.

Sementara sembilan tersangka yang telah dijerat Pasal 114 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman maksimalnya adalah pidana mati.(hargo/jpnn)


Komentar