Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Singapura Tawarkan Eksplorasi Wisata

Oleh Aslan , dalam Ekonomi , pada Jumat, 8 September 2017 | 05:00 WITA Tag: ,
  Ilustrasi (Pixabay)


Hargo.co.id – Singapura berupaya menggenjot arus wisatawan mancanegara (wisman), termasuk dari Indonesia. Singapore Tourism Board (STB) memperkenalkan brand Singapore-Passion Made Possible sebagai strategi baru untuk mendatangkan turis asing.

Area Director Indonesia (Surabaya) International Group STB Mohamed Firhan Abdul Salam menuturkan, lewat brand baru tersebut, pihaknya berusaha mengenalkan Singapura lebih dari sekadar destinasi wisata.

Di Singapura, mereka akan bertemu komunitas dengan minat yang sama. Nah, dari sini bakal tercipta quality tourism atau pariwisata yang berkualitas. Brand baru itu akan diluncurkan dengan membuka Singapore Pavilion dalam BCA Travel Fair di Pakuwon Mall pada 7–10 September.

Dengan kondisi geografisnya, Singapura tidak bisa mengandalkan pertumbuhan jumlah turis. Pada 2016, jumlah kunjungan turis asing sudah sekitar 15 juta kunjungan. Sekitar 2,894 juta berasal dari Indonesia sebagai market terbesar. ’’Kami tidak bisa selamanya mengandalkan kuantitas. Karena itu, kualitas menjadi perhatian,’’ tuturnya.

BACA  Pandemi Covid-19 Bikin Permintaan akan Emas Naik Gila-gilaan

Target dari kualitas tersebut berupa peningkatan jumlah wisatawan yang datang berulang, menginap lebih lama, dan pengeluaran yang lebih banyak. Saat ini rata-rata wisman menginap 2–3 hari dengan pengeluaran SGD 700–800 dalam sekali perjalanan.

’’Nah, dengan adanya produk baru, kami ingin bisa meningkatkan lama menginap lebih dari tiga hari dan minimal belanja SGD 900,’’ papar Firhan.

BACA  Singapura Umumkan Nol Kasus Penularan Covid-19 Lokal untuk Pertama Kali

Di Indonesia, salah satu kota potensial setelah Jakarta adalah Surabaya. ’’Sebagai kota potensial, kami berencana membuka kantor kedua di Surabaya,’’ ujarnya.

Fokus promosi adalah Surabaya, Malang, Bali, dan Makassar. Selain itu, pihaknya membidik market yang lebih luas, yakni Indonesia Timur. Pada 2016, market dari Indonesia tumbuh 6–7 persen. Tahun ini dia optimistis pertumbuhannya mampu mencapai 7–9 persen. (*)

(res/c14/sof/hg)


Komentar