Selasa, 15 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sistem Pertahanan Udara S-300 Milik Rusia Bakal Dijual?

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Dunia , pada Senin, 16 April 2018 | 10:50 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id – Rusia diimbau untuk menjual sistem pertahanan udara S-300 ke beberapa negara. Yaitu Iran, Korea Utara (Korut), dan Syria. Selain itu, secara bersamaan Rusia juga harus melatih para prajurit negara dalam menggunakan senjata tersebut.

Seperti dilansir Sputnik, Minggu (15/4), Wakil ketua pertama komite pertahanan rumah parlemen rendah Rusia, Alexander Sherin menjelaskan, S-300 merupakan sistem rudal jarak jauh milik Rusia yang dikembangkan untuk mempertahankan diri dari serangan rudal yang dijatuhkan melalui pesawat ataupun melalui darat. Hal itu penting untuk dipertimbangkan. Tidak hanya pengiriman sistem pertahanan rudal namun juga pengiriman orang-orang yang dapat melatih para personel negara.

BACA  11 Negara Ini Dapat Izin Masuk Arab Saudi, Indonesia Tidak Termasuk

Setelah itu Syria, Iran, dan Korut dapat menerapkan sistem tersebut jika mereka menginginkannya. S-300, menurut Sherin, dapat membantu meminimalisir banyaknya tentara sebagai korban dan hilangnya para warga sipil.

konflik syria, as serang syria
Kronologis Agresi AS dan Sekutunya ke Syria

Kronologis Agresi AS dan Sekutunya ke Syria (Rofiah Derajat/JawaPos.com)

Sebelumnya, Kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum Rusia Kolonel Jenderal Sergey Rudskoy mengatakan, Rusia mungkin tengah mempertimbangkan penjualan sistem S-300 ke Damaskus menyusul serangan pimpinan Amerika Serikat (AS) terhadap Syria.

BACA  Peneliti Amerika Klaim Temukan Obat Untuk Blokir Covid di Saluran Pernapasan

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengumumkan aksi militer di Syria sebagai tanggapan atas dugaan serangan senjata kimia di kota Duma, pinggiran Damaskus, Ghouta Timur, Sabtu pagi (14/4). Washington, Prancis, dan Inggris yang bersatu sebagai sekutu menjatuhkan rudal ke beberapa titik di Syria.

Mereka masih yakin bahwa Syria ada kaitannya dengan produksi senjata kimia. Pihak berwenang Syria mengatakan bahwa koalisi Barat telah menembakkan lebih dari 100 rudal yang menargetkan Syria. Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut, namun tiga orang mengalami luka akibat gempuran tersebut.

BACA  Laga Final Liga Champions Belum Dimulai, Darah Sudah Tumpah di Porto

Sementara Kementrian Pertahanan Rusia telah mencatat bahwa Angkatan Bersenjata Syria menggunakan sistem pertahanan udara Soviet S-125, S-200, Buk dan Kvadrat untuk mengusir serangan rudal. Keempatnya diproduksi di Uni Soviet lebih dari 30 tahun yang lalu.

(trz/JPC)


Komentar