Rabu, 23 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Soal Mayat Mengapung Pohuwato, Dibunuh dengan Motif Asmara

Oleh Ryan Lagili , dalam Headline Metropolis , pada Jumat, 1 November 2019 | 02:21 WITA
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Seperti yang diduga sebelumnya, bahwa sosok mayat perempuan Risna Liputo (16) yang mengapung di perairan Wanggarasi, Pohuwato pada Rabu (30/10/2019) dibunuh, benar adanya. Apalagi ada pria berinisial RU (20) menyerahkan diri ke Polsek Randangan beberapa jam setelah mayat dievakuasi dari laut.

Perlu disampaikan bahwa Risna Liputo dan RU adalah warga Randangan, Pohuwato. Risna Liputo ditemukan mengapung di perairan Wanggarasi dan sudah tak bernyawa pada Rabu (30/10/2019) pada pukul 07.00 Wita oleh nelayan. Selang beberapa jam kemudian, seorang pria berinisial RU menyerahkan diri ke Polisi dan diinterogasi sehingga mengakui perbuatannya.

Data yang diperoleh dari pihak Kepolisian, menjelaskan bahwa pada Sabtu (26/10/2019) korban yang diketahui tinggal di rumah tantenya dijemput oleh pelaku. Mereka berdua meninggalkan rumah tantenya untuk pergi pada sebuah pesta pernikahan di Kecamatan Patilanggio. Pelaku sebenarnya tidak dikenal oleh keluarga korban.

Sejak saat itu, Risna Liputo tak kunjung pulang ke rumah tantenya tempat tinggalnya selama ini. Namun, mereka tak pergi ke pesta sebagaimana yang diketahui oleh keluarga. Pengakuan pelaku kepada polisi, dirinya mengajak korban untuk pergi ke Bendungan Randangan.

BACA  Pelajar SMK di Gorontalo Tikam Pamannya Hingga Meninggal Dunia

Di sinilah cekcok antara pelaku dan korban terjadi. Dimana korban meminta pertanggung jawaban pelaku karena telah menghamilinya. Pelaku menolak untuk bertanggung jawab dengan alasan sudah beristri dan telah dikaruniai anak.

Baca Juga: Mayat Mengapung di Perairan Wanggarasi, Dibunuh? Beredar Kabar Seorang Pria Menyerahkan Diri

Merasa terus ditekan oleh korban untuk bertanggung jawab, pelaku nekat mendorong korban hingga jatuh ke Bendungan Randangan. Siswi berparas cantik itu pun hanyut berhari-hari hingga ke laut. Hingga akhirnya 4 hari kemudian ditemukan tak bernyawa di perairan laut Kecamatan Wanggarasi.

Pantauan media ini, Kamis (31/10), keluarga korban berkumpul di RSUD Bumi Panua tempat jenazah diotopsi. Mulai dari orang tua, saudara, paman dan tante korban mondar mandir sambil mempersiapkan perlengkapan jenazah seperti kain kafan tisu dan lain sebagainya. Dari wajah mereka sangat nampak kesedihan yang mendalam atas kejadian tragis itu.

Hasan (51), salah satu paman korban yang berhasil diwawancarai menjelaskan bahwa pihak keluarga begitu terpukul dengan kejadian ini. “Kami tidak mengenal pelaku itu. Yang kami tahu korban punya pacar tapi bukan itu pelaku yang menjemput,” ungkapnya.

BACA  Pasangan Hamim-Merlan Awali Pendaftaran di KPU Bone Bolango

Hasan berharap agar pelaku diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Usai diotopsi jenazah korban langsung dimandikan dan dikafani, kemudian diangkut menggunakan mobil ambulance menuju rumah duka.

“Somo langsung kafan dari sini pak, supaya sampe Randangan langsung disholati dan kemudian dimakamkan. (Akan dikafani di sini, supaya ketika tiba di Randangan langsung disalatkan),” tambahnya.

Ditemui usai melakukan proses otopsi, Dokter Forensik, Herri Mundung, menjelaskan bahwa dari hasil otopsi ada dua kemungkinan korban meninggal dunia.

“Ada dua penyebab kematian korban yakni gagal nafas dan kena benturan di bagian kepala. Belum diketahui pasti apakah benturannya karena dipukul atau karena terbentur saat jatuh,” ujarnya.

Ditanyai perihal kehamilan korban sebagaimana informasi beredar, Herri mengatakan hal tersebut sulit untuk dibuktikan karena kondisi jenazah sebagian sudah hancur dan bercampur lumpur.

“Demikian juga untuk pembuktian persetubuhan juga kami sulit untuk menemukan bekas sperma, mengingat korban sudah berhari-hari di air laut,” kata Herri.

Sementara itu di tempat terpisah, Kapolres Pohuwato, AKBP Agus Widodo,SIK,MH, saat diwawancarai mengungkapkan bahwa pembunuhan ini dilandaskan motif asmara.

BACA  Berikut Data Kerugian dan Korban Banjir di Bulawa

“Si pelaku pada hari kamis (24/10/2019) menyetubuhi korban. Si korban meminta pertanggung jawaban. Hingga pada akhirnya terjadilah pembunuhan yang diduga berlokasi di Bendungan Randangan,” ungkap AKBP Agus Widodo,SIK,MH.

“Merunut rangkaian kejadian yang kita ketahui. Memang keluarga rata-rata tidak mengetahui siapa yang menjemput korban. Tapi dari jejak yang lain kita dapat, dari kesaksian juga sudah menguatkan,” tambahnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa pihaknya masih terus mendalami kasus ini. “Dari hasil forensik memang ada dua kemungkinan yang masih perlu kita dalami melalui pemeriksaan. Apakah dipukul oleh tersangka, atau terbentur di dinding. Tapi terlepas dari kedua itu, jelas penyebab utamanya adalah karena perilaku dari tersangka,” lanjut kapolres.

Pelaku terancam pasal berlapis yakni tentang pembunuhan berencana dan juga tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman paling berat yakni hukuman mati. “Bisa dikenakan pasal 338 dengan ancaman 20 tahun penjara. Kalau direncanakan (pembunuhan, red) kena pasal 340, bisa hukuman mati,” pungkasnya. (ayi/hg)


Komentar