Stok Pangan Terjamin, Harga Selalu Terkendali 

Kadis Pangan Provinsi Gorontalo, Sutrisno, mengecek ketersediaan beras ditingkat gapoktan untuk memastikan pasokan pangan di Gorontalo. (Foto Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Musim kemarau yang baru saja terjadi, tak terdengar adanya gejolak kelangkaan bahan pangan di Gorontalo. Pun begitu, kondisi harga juga relatif terkendali. Padahal dibeberapa daerah, kemarau memberi dampak buruk bagi ketersediaan pangan, apalagi banyak lahan pertanian yang rusak.

Setiap kunjungan ke wilayah-wilayah, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie pasti membawa ‘ole-ole’ bagi warga. Ole-ole itu, berupa beragam bantuan, salah satunya adalah bantuan yang berisi bahan pangan. Cara ini langkah konkrit memenuhi kebutuhan pangan warga, termasuk untuk menekan gejolak kenaikan harga.

Pemerintah sendiri telah menerapkan solusi permanen mengatasi disparitas harga pangan, solusi itu berupa kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia (TTI). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok strategis dan efisiensi rantai distribusi pemasaran dengan memperpendek rantai pasok.

Kegiatan PUPM secara tidak langsung berperan dalam mengatasi anjloknya harga pada masa panen raya dan tingginya harga pada saat paceklik, serta menjadi instrumen yang dibuat Pemerintah untuk menahan gejolak harga pada saat suplai melimpah maupun kurang.

Kepala Dinas Pangan Provinsi Gorontalo, Sutrisno, mengatakan,
PUPM merupakan strategi penguatan jaringan pasar produk pertanian yang dilaksanakan Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung upaya petani memperoleh harga penjualan yang lebih baik, meningkatkan kemampuan petani memperoleh nilai tambah dari hasil produksi untuk meningkatkan kesejahteraan petani, membantu petani dalam hal jaminan pemasaran produk hasil pangan, dan membantu konsumen memperoleh komoditas pangan dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik.

Melalui kegiatan PUPM, kata Sutrisno, produksi bahan pangan dari petani akan mendapatkan alternatif saluran pemasaran melalui LUPM, dimana petani akan mendapatkan jaminan harga beli sesuai acuan harga pembelian pemerintah atau harga referensi yang berlaku dengan memperhatikan margin keuntungan yang layak untuk petani.

Bagi LUPM, pola ini juga akan memberikan kepastian ketersediaan bahan pangan yang dikelola sehingga dapat menjamin kontinuitas produksi dan pasokannya ke TTI.

“Upaya-upaya ini yang dilakukan pemeritah, sebagai langkah nyata dalam ketahanan pangan di Gorontalo,”kata Sutrisno.

Kegiatan PUPM berperan dalam mengatasi tingginya harga pada saat paceklik, di Gorontalo pernah mengalami masa itu, yaikni pada 2015 dimana harga beras médium pada saat itu mencapai Rp 13.000/Kg sampai Rp. 14.000,/Kg. Setelah kebijakan PUPM dijalankan, lonjakan harga beras itu langsun teratasi.

Tahun 2016, posisi harga beras terendah di Gapoktan yakni Rp. 7.300,- / Kg dan posisi harga tertinggi di Gapoktan senilai Rp. 7.700,- / Kg sesuai dengan arahan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI. Sedangkan posisi harga beras terendah di TTI yakni Rp. 7.500,- / Kg dan posisi harga tertinggi di Gapoktan senilai Rp. 7.900,- / Kg (Data Terlampir) sesuai dengan arahan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI.

Jika dilihat dari data harga pangan selang bulan Juni 2016 – November 2016, posisi harga beras medium terendah berada pada kisaran Rp. 9.400,- / Kg dan posisi harga beras tertinggi berada pada kisaran Rp. 11.667 / Kg, atau masih lebih tinggi dari harga penjualan di Gapoktan.

Pada tahun 2017, posisi harga beras terendah di Gapoktan yakni Rp. 8.200,- / Kg dan posisi harga tertinggi di Gapoktan senilai Rp. 9.000,- / Kg. Untuk wilayah Provinsi Gorontalo HET penjualan beras medium Rp. 9.450,- / Kg. Tahun 2018, harga beras terendah di Gapoktan yakni Rp. 8.500,- / Kg dan posisi harga tertinggi di Gapoktan senilai Rp. 8.700,- / Kg.

Jika dilihat dari data harga pangan selang bulan Juli – Desember 2018, posisi harga beras medium terendah berada pada kisaran Rp. 9.716,- / Kg dan posisi harga beras tertinggi berada pada kisaran Rp. 10.691 / Kg, atau masih lebih tinggi dari harga penjualan di Gapoktan.

Tahun ini, harga beras terendah di Gapoktan yakni Rp. 8.500,- / Kg dan posisi harga tertinggi di Gapoktan senilai Rp. 8.700,- / Kg. Sementara, jika dilihat dari data harga pangan Januari – Juni 2018, posisi harga beras medium terendah berada pada kisaran Rp. 9.602,- /Kg dan posisi harga beras tertinggi berada pada kisaran Rp. 9.754/Kg, atau masih lebih tinggi dari harga penjualan di Gapoktan.

Sutrisno menjelaskan, harga dan pasokan pangan merupakan indikator-indikator strategis yang saling terkait dan sering digunakan untuk mengetahui status distribusi pangan, permasalahan yang disebabkan oleh rantai distribusi pangan, dan ketidakcukupan pasokan pangan di suatu wilayah.

“Permasalahan utama yang terjadi selama ini adalah tingginya disparitas harga antara produsen dan konsumen yang mengakibatkan keuntungan tidak proporsional antara pelaku usaha,”ujarnya.

Harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin petani (produsen) mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen.

Dalam konteks regulasi, untuk mengatur dan menjaga stabilisasi pasokan serta harga pangan, telah diantur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pemerintah pusat dan daerah bertugas mengendalikan dan bertanggung jawab atas ketersediaan bahan pangan pokok dan strategis di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Bahan pangan pokok dan strategis tersebut harus tersedia dalam jumlah yang memadai, mutu yang baik, serta pada harga yang wajar untuk menjaga keterjangkauan daya beli di tingkat konsumen sekaligus melindungi pendapatan produsen,”tandasnya. (adv/hg)

-