Jumat, 14 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Suka Duka Anak Rantau di Bulan Ramadan

Oleh Berita Hargo , dalam Ragam , pada Kamis, 22 April 2021 | 04:05 WITA Tag:
  Sejumlah anak rantau tengah mempersiapkan santap sahur. (Foto Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Momen bulan suci Ramadan adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu bagi umat muslim. Selain untuk meningkatkan amal ibadah, momen Ramadan pula sangat dinantikan untuk berkumpul bersama keluarga, baik itu pada saat buka puasa maupun saat santap sahur.

Namun, tidak semua orang dapat merasakan hal tersebut. Contohnya bagi anak perantauan yang sedang menimba ilmu di kampung halaman orang lain. Tak sedikit mereka merasa kesulitan bercampur rasa rindu untuk berkumpul dengan keluarga di bulan suci Ramadan.  

Sriwinanda Blongkot salah seorang anak rantau mengatakan, dirinya merasakan sedih, merasa bosan dan sunyi, karena biasanya setiap bulan Ramadan selalu bersama keluarga, namun saat ini harus sendirian di daerah rantau.

“Biasanya setiap sahur itu ada keluarga yang sering membangunkan, tetapi semenjak menjadi anak rantau yang hanya tinggal di kos, saya selalu dibangunkan oleh dentingan alarm. Bahkan terkadang saya tidak santap sahur, karena tidak terbangun meski alarm berbunyi,” ujarnya.

Hal lainnya diungkapkan salah seorang mahasiswa Rita Setiawati. Menurutnya, perbedaan berpuasa di tahun kemarin dan tahun ini sangatlah terasa. Salah satunya soal menu favorit saat santap sahur serta buka puasa, dimana hal tersebut tidak dirasakan lagi untuk Ramadan tahun ini.

“Kalau menu sahur sama  buka puasa itu biasanya lauknya tahu tempe serta sayur. Kadang juga lauknya diganti sama ikan goreng, yang penting ada sayurnya. Kalau tahun lalu, dengan adanya pandemi covid-19, kami puasa dan kuliah di rumah masing-masing, kalau tahun ini sudah menjalani puasa di kos dan jauh dari keluarga. Meski demikian, saya tetap bersyukur, karena masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadan,” tandasnya. (inda/ung/hargo).

BACA  Ini Kisah Kakak Beradik di Bone Bolango yang Butuh Uluran Tangan 

Komentar