Jumat, 27 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sukses Kurangi Korban berkat Lockdown

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Minggu, 26 April 2020 | 08:05 WITA Tag: , ,
  Tenaga kesehatan Vietnam saat mengambil sampel darah warga untuk tes lab Covid-19. (Vietnam News)


Hargo.co.id – Karantina wilayah atau lockdown memang tidak bisa menyelesaikan pandemi Covid-19. Sebab, antivirus SARS-CoV-2 belum ditemukan. Namun, kebijakan tersebut dirasa tepat untuk menekan angka penularan dan kematian. Sukses atau tidaknya bergantung waktu penerapannya.

Seperti yang dilansir Jawapos.com, Laos adalah salah satu negara yang menjadi contoh kesuksesan penerapan lockdown. Kasus pertama penularan Covid-19 di negara itu terjadi pada 24 Maret. Pada 30 Maret pemerintah langsung menerapkan lockdown total hingga pertengahan April. Kebijakan tersebut diperpanjang hingga 3 Mei. Hasilnya, hanya ada 19 kasus di negara yang berbatasan dengan Thailand, Kamboja, Vietnam, Tiongkok, dan Myanmar itu. ”Empat orang sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Laos Phouthone Meaungpak.

Hal yang sama dilakukan Vietnam. Sebagai negara yang berbatasan dengan Tiongkok, Vietnam sangat waspada. Mereka belajar dari wabah SARS 2002-2003. Sehari setelah kasus pertama terdeteksi, mereka langsung menghentikan penerbangan ke Wuhan. Beberapa hari kemudian mereka menutup perbatasan sepanjang 1.400 kilometer yang menghubungkan Vietnam-Tiongkok. Pemerintah memang baru menerapkan lockdown pada 1 April, tapi situasi di negara tersebut sangat terkendali. Bangkok Post mengungkapkan bahwa Vietnam melakukan tes pada 180.067 penduduk dan hanya 268 orang yang terbukti positif. Itu pun 83 persennya sudah sembuh. Rabu (22/4) pemerintah Vietnam berencana melonggarkan kebijakan dengan menghapuskan lockdown di beberapa wilayah.

BACA  Menangi Pilpres AS 2020, Publik Menyambut Janji Biden

Di Benua Eropa, Yunani bisa menjadi contoh nyata kesuksesan lockdown. Ada 2.408 kasus di negara tersebut dan 121 orang meninggal dunia. Jumlah itu sangat rendah dibanding negara-negara Eropa lainnya. Bandingkan dengan Italia yang mencapai 25.085 orang. Padahal, Italia merupakan salah satu negara di Eropa dengan sistem kesehatan terbaik.

Yunani meliburkan sekolah-sekolah pada 10 Maret ketika kasus belum sampai seratus dan belum ada korban jiwa. Tiga hari kemudian kafe, restoran, dan toko-toko lainnya ditutup setelah satu orang meninggal dunia. Pada 23 Maret Negeri Para Dewa itu menerapkan lockdown nasional.

”Negara lain yang memiliki infrastruktur rumah sakit yang lebih baik dan punya lebih banyak ICU per populasi berkhayal bahwa sistem mereka mampu mengatasi (Covid-19). Jadi, mereka menunda langkah pencegahan,” ujar Kepala Institute for Social and Preventive Medicine Yunani Yannis Tountas seperti dikutip Washington Post.

BACA  Peringatan Hari Pahlawan di Bone Bolango Terapkan Protokol Kesehatan

Kombinasi lockdown lebih awal, persiapan, deteksi penularan, dan berbagai kebijakan lainnya membuat negara-negara di atas sukses menekan angka kematian. Yang bisa dilakukan negara-negara saat ini adalah bertahan menjauhi kemungkinan terburuk sedapat mungkin hingga vaksin dan pengobatan ditemukan.

”Lockdown memberi kita banyak waktu untuk mempersiapkan manajemen (penanganan) Covid-19,” tutur Direktur National Institute of Traditional Medicine Debaprasad Chattopadhyaya.

Pakar penyakit menular senior dari National University Hospital (NUH) Profesor Dale Fisher mengungkapkan, SARS-CoV-2 adalah virus yang cerdas dan punya kemampuan unik. Bisa menginfeksi sekaligus mengakibatkan penyakit.

”Virus itu bisa menemukan blind spot kita, mencari orang yang rentan, dan menemukan area yang tingkat penularannya tinggi,” ujarnya seperti dikutip The Straits Times.

Penerapan lockdown memang tidak selalu melandaikan grafik penularan dengan cepat. Jika virus sudah telanjur masuk dan menyebar, kebijakan lockdown tetap membantu meski efeknya lama. Italia adalah contohnya. Kasus pertama terdeteksi pada 30 Januari. Saat itu dua turis asal Tiongkok positif tertular.

BACA  Dianggap Berbahaya, 89 Perusahaan Tiongkok Masuk Daftar Hitam AS

Kasus di Italia melonjak pada 21 Februari, tapi pemerintah masih tenang dan belum mengambil kebijakan lockdown nasional. Lockdown hanya berlaku untuk kota-kota yang memiliki banyak kasus. Faktor ekonomi mungkin jadi pertimbangan karena Italia adalah negara jujukan turis. Lockdown artinya sektor wisata mati suri.

Lockdown nasional akhirnya diberlakukan pada 9 Maret. Saat itu kasus di Italia sudah mencapai 9 ribu lebih dan puluhan hingga ratusan orang meninggal setiap hari. Banyak pakar menilai bahwa Italia terlambat.

Meski begitu, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa lockdown yang terlambat itu saja sudah mampu mengurangi penularan sekitar 46 persen. Juga, mampu mengurangi orang tertular yang harus dirawat di rumah sakit hingga 200 ribu jiwa dalam rentang waktu 21 Februari–25 Maret. Italia saat ini sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan kebijakan lockdown-nya pada 4 Mei nanti.(jawapos/hg)

 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh Jawapos.com dengan judul yang sama. Pada edisi Sabtu, 25 April 2020

Komentar