Kamis, 27 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Sulut Bergejolak! Buntut Kedatangan Fahri Hamzah di Manado

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Senin, 15 Mei 2017 | 10:49 AM Tag: , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id – Citra Sulawesi Utara sebagai daerah yang selama ini dikenal dengan semboyan ‘torang samua basudara’ atau kita semua bersaudara, kembali tercoreng dengan aksi penghadangan terhadap salah satu pejabat negara yaitu Wakil Ketua DPR-RI Fahri Hamzah yang berkunjung ke Manado, pada Sabtu (12/5). Penolakan terhadap kunjungan Fahri Hamzah itu dilakukan oleh massa dari sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Massa melakukan pengadangan terhadap kunjungan Fahri Hamzah langsung di Bandara Sam Ratulangi. Bahkan massa sempat masuk ke area bandara hingga membuat para penumpang dan pengelola bandara cemas. Massa berkumpul di tiga titik mulai Tugu Adipura hingga bandara. Hingga jalan menunju bandara dipenuhi massa yang mengenakkan baju hitam.

Ketua Umum Waraney Puser In Tana John Pandeirot menuturkan, aksi massa menolak kedatangan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah ke Manado, sebagai bentuk penolakan terhadap masuknya ormas intoleran di Sulut.

Dia menyebut, aksi massa dipicu beredarnya kabar kedatangan Fahri disertai Sekjen Front Pembela Islam (FPI).”Ini merupakan aksi spontanitas masyarakat. Karena beredar kabar ada Sekjen FPI yang ikut beserta rombongan Fahri Hamzah,” katanya.Waraney Puser In Tana, lanjutnya, menolak oknum-oknum pendukung ormas intoleran.”Apalagi membuat kegiatan di Sulut menyangkut organisasi intoleran ataupun anti NKRI. Karena akan merusak tatanan antar umat yang selama ini sudah terjalin di Sulut. NKRI harga mati,” ujar Pandeirot.

Terpisah Panglima Besar Milisi Waraney Audi Malonda mengatakan, ini merupakan aksi responsif dari masyarakat adat. “Dalam aksi ini tidak ada yang mengkoordinir. Aksi ini murni dari masyarakat yang tidak ingin Tanah Minahasa dimasuki ormas intoleran. Kabarnya ada Sekjen FPI bersama dengan rombongan Fahri Hamzah,” ujarnya.

Kepala Badan Kesbangpol Sulut Steven Liow mengatakan, pemerintah mengerti emosi dari masyarakat tadi. Namun jangan sampai terprovokasi dengan viral-viral yang ada di medsos.
“Pemerintah memahami emosi masyarakat Sulut. Namun, Fahri Hamzah adalah Wakil Ketua DPR RI. Dia datang dengan surat resmi dari DPR RI,” katanya, seperti diberitakan Manado Post (Jawa Pos Group).

Terkait keberadaan FPI, Liow dengan tegas mengaku akan menindaklanjuti jika ada ormas intoleran berdiri di Sulut. “Untuk ormas intoleran atau radikal seperti FPI sampai saat ini belum ada kabar seperti yang beredar. Di Bitung berdasarkan data Kesbangpol Bitung ataupun laporan intelijen, belum laporan ada FPI ataupun Ormas radikal lainya. Jika ada ormas seperti itu akan kami tindaklanjuti,” tegasnya.

Alasan lain yang dikemukakan massa bahwa, Fahri Hamzah dianggap sebagai pemecah belah bangsa. Berbagai kalimat pedas dilontarkan massa saat menghadang Fahri. Salah satunya dilontarkan ibu yang ikut mengadang politikus PKS itu.

“Islam itu saudara kami. Kami tidak membenci Islam. Namun, kami tidak suka Fahri Hamzah karena dia itu pemecah belah bangsa. Kami tolak FPI. Kami tolak Fahri Hamzah menginjakkan kaki di tanah suci kami,” ujarnya.

Salah satu orator Olden Kansil juga melontarkan kalimat yang sangat pedas dia mengatakan, penolakan terjadi karena Fahri kerap melontarkan kata-kata yang mencerminkan sikap intoleransi.

“Sulut tak ingin didatangi oknum yang sering berucap memecah belah bangsa. Ingat, Sulut cinta damai. Kami di sini semua adalah anak bangsa,” kata Olden.

Adanya penolakan ini membuat agenda Fahri Hamzah di Manado berantakan. Setelah menghadiri diskusi publik di Kantor Gubernur Sulut, dia langsung bertolak ke Jakarta.

Padahal, Fahri sejatinya memiliki banyak agenda lain di Sulut di antaranya, media visit, wisata malam di Manado, dan dialog di salah satu kafe ternama di kawasan Mega Mas. “Kami mempercepat agenda diskusi dengan Pak Fahri Hamzah.

Namun, rencana awal dilaksanakan di The Club, dipindahkan di Kantor Gubernur,” kata panitia penyelenggara diskusi dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Alwan Rikun. (jpg/hargo)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar