Kamis, 2 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Surat Perpisahannya Panjang dan Mengharukan, Mesut Ozil Mundur dari Timnas Jerman

Oleh Aslan , dalam Headline Sportivo , pada Senin, 23 Juli 2018 | 10:46 AM Tag: ,
  

Hargo.co.id, LONDON – Mesut Ozil secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemain timnas Jerman. Ozil terus disorot pasca Der Panzer tampil minor di Piala Dunia 2018 Rusia, bahkan beberapa petinggi federasi di Jerman menuding gelandang Arsenal itu sebagai biang kegagalan Jerman di Rusia.

Mantan penggawa Real Madrid itu rupanya tak tahan dengan tekanan dan tudingan yang terus dialamatkan padanya sehingga akhirnya mengambil keputusan mundur.

Keputusan gantung sepatu dari pentas internasional bersama tim negaranya itu sendiri ia tuangkan dalam surat terbuka yang diunggah di akun Twitter pribadinya.

Suratnya sendiri sangat panjang namun isinya sangat mengharukan. Intinya, Ozil mengaku sudah tak punya hasrat lagi untuk memperkuat timnas Jerman akibat perlakuan yang diterimanya sejak persiapan hingga pasca turnamen terakbar sejagat edisi ke-21 itu.

“Saya sudah memutuskan untuk tidak akan lagi bermain bersama timnas Jerman karena adanya peristiwa yang menimpa saya baru-baru ini. Saya merasa tak dihargai dan menjadi korban rasialisme dari federasi sepak bola Jerman,” tutur Ozil.


Dalam surat tersebut, Ozil juga mengaku sudah tak lagi bangga mengenakan jersey kebesaran Die Mannschaft tersebut. “Keputusan ini sulit untuk saya karena saya selalu berusaha untuk memberikan segalanya untuk rekan-rekan di lapangan, staff kepelatihan serta warga Jerman. Namun, ketika para petinggi DFB mulai melecehkan darah Turki saya, maka sudah cukup,” ungkapnya.

Ozil juga menyebut petinggi DFB telah menuding pertemuannya dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan beberapa waktu lalu sebagai propaganda politik.

“Saya rasa sudah cukup. Itu bukan alasan saya bermain sepak bola, dan saya tidak akan diam saja tanpa melakukan apapun. Rasialisme seharusnya tidak akan pernah bisa diterima,” kecamnya.

“Saya diperlakukan sebagai orang Jerman ketika kami menang, tapi dianggap imigran ketika kami kalah. Apakah saya bukan orang Jerman? Apa kriteria saya tak cukup untuk menjadi orang Jerman? Teman saya, Lukas Podolski dan Miroslav Klose, tak pernah disebut sebagai Jerman-Polandia, jadi kenapa saya dicap sebagai Jerman-Turki? Apakah karena saya berasal dari Turki? Apa karena saya Muslim? Kenapa orang-orang tidak bisa menerima bahwa saya adalah orang Jerman?” ungkapnya.

(qur/pojoksatu/hg)
(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar