Senin, 28 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Survei Alvara, Mayoritas Orang Tua Belum Setuju Sekolah Tatap Muka

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Edukasi , pada Senin, 13 Juli 2020 | 16:05 WITA Tag: , ,
  SEKOLAH MASA PANDEMI: Suasana simulasi kegiatan belajar mengajar di Sekolah Nasional Satu (Nassa School) di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/6/2020). (Imam Husein/Jawa Pos)


Hargo.co.id, JAKARTA – Masih banyak orang tua yang belum setuju jika sekolah mengadakan pembelajaran tatap muka. Mereka khawatir para siswa tertular Covid-19. Hal itu tampak dari hasil survei yang dirilis Alvara Research Center kemarin (12/7).

Seperti yang dilansir JawaPos.com, Sebanyak 54,5 persen tidak setuju jika sekolah dibuka kembali. Lalu, 45,5 persen setuju kalau siswa kembali masuk sekolah. Masing-masing punya alasan sendiri.

”Yang tidak setuju sekolah dibuka kembali, mereka khawatir anaknya tertular Covid-19,” terang CEO Alvara Hasanuddin Ali. Menurut dia, sebanyak 88,8 persen responden takut siswa akan tertular dan membawa virus jika sekolah dibuka kembali.

Sedangkan 55,6 persen beralasan anak akan rentan terhadap penyakit. Lalu, 41,7 persen menyatakan anak akan susah diatur untuk memakai masker dan cuci tangan. Sisanya, yakni 33,5 persen, khawatir anak jajan sembarangan.

Sementara itu, untuk mereka yang setuju sekolah dibuka lagi, sebanyak 41,3 persen beralasan bahwa jika tetap di rumah, anak malah tidak akan belajar. Kemudian, sebanyak 38,0 persen menyatakan, anak bosan di rumah. Lalu, 35,4 persen anak susah disuruh belajar dan 33 persen menyatakan bahwa anak lebih senang berkumpul dan keluyuran. Ada juga 31,3 persen responden yang mengatakan bahwa anak sudah kangen sekolah. ”Dan sebanyak 27,0 persen orang tua tidak mempunyai teknik mengajar yang baik,” ungkap alumnus ITS itu.

BACA  Penghapusan Pelajaran Sejarah, Mas Nadiem: Tidak Benar

Alvara juga bertanya kepada publik apa yang mereka harapkan jika sekolah dibuka kembali. Sebanyak 88,2 persen menyatakan berharap sekolah mengikuti protokol kesehatan. Lalu, 64,5 persen berharap sekolah menyediakan tempat cuci tangan. Sebanyak 50,8 persen mengharapkan sekolah menyediakan masker, 50,4 persen meminta diberlakukan dua gelombang masuk sekolah, 46,9 persen meminta pemerintah dan sekolah menyediakan vitamin untuk menjaga imun anak, 32,8 persen mengimbau agar kantin sekolah menyediakan makanan bergizi, sedangkan 30,6 persen meminta dilakukan rapid test seminggu sekali. ”Sebanyak 27,4 persen meminta sekolah menyediakan makanan bergizi,” terang Hasan, sapaan Hasanuddin.

BACA  Relawan Tenaga Medis: Kalau Begini Terus Kita Akan Ambruk

Selain soal pendidikan, Alvara memaparkan kondisi tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Hasan mengatakan, biaya kebutuhan sehari-hari masyarakat turun signifikan dari sebelumnya 49,8 persen pada 2019, sekarang tinggal 38,1 persen. Sementara pengeluaran untuk kebutuhan internet justru naik signifikan dari 6,1 persen menjadi 8,1 persen. ”Pendapatan turun, sementara kebutuhan tetap, seperti cicilan tidak bisa berkurang,” terangnya.

Menurut Hasan, dengan tekanan ekonomi yang begitu berat, masyarakat membutuhkan bantuan sosial dari pemerintah. Hasil survei Alvara menyebutkan, ada sejumlah kebutuhan yang diinginkan publik. Sebanyak 65,6 persen menginginkan bantuan tunai, 58,9 persen bantuan sembako, 28,7 persen subsidi listrik 900 watt, 28,1 persen program kemandirian pangan, 22,8 persen kartu prakerja, 22,1 persen subsidi listrik 450 watt, dan 4,6 persen tidak menjawab.

Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Desa (Kemendes) mempunyai tanggung jawab memberikan bantuan tunai, bantuan sembako, dan bantuan lainnya. ”Dengan tekanan ekonomi yang berat, bantuan sangat dinanti,” tutur dia.

BACA  Hindari Klaster Perkantoran, ASN di Badan Penghubung Jalani Swab Test

Bagaimana dengan tingkat optimisme publik terhadap kondisi ekonomi Indonesia? Tingkat optimisme publik ternyata turun dan berada di angka 63,5 persen. Padahal pada Oktober 2019 masih berada di angka 71,0 persen. Tingkat optimisme itu harus dijaga agar tidak makin turun.

Survei Alvara dilakukan pada 22 Juni hingga 1 Juli dengan melibatkan 1.225 responden. Metode yang digunakan adalah online survey dan mobile assisted phone interview di seluruh wilayah Indonesia. Namun, ada beberapa provinsi di wilayah Indonesia Timur, yaitu Papua, Papua Barat, dan Maluku, yang karena terkendala jaringan internet dan coverage tidak masuk survei. Margin of error berkisar 2,86 persen. (jawapos/hg)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com dengan judul: “Hasil Survei, Mayoritas Orang Tua Belum Setuju Sekolah Tatap Muka“. Pada edisi Senin, 13 Juli 2020.

Komentar