Rabu, 14 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tak Ingin Uang Bidikmisi Habis Percuma, Dua Mahasiswi Memilih Dagang Buket

Oleh Berita Hargo , dalam Ragam , pada Senin, 29 Maret 2021 | 22:05 WITA Tag:
  Dua orang mahasiswi, Maya dan Meli yang sedang menjajankan buket miliknya dan hasilnya omset jutaan. (Foto: Istimewa/Rita Setiawati untuk Hargo)


Hargo.co.id, GORONTALO – Bagai sayur tanpa garam, berfoto wisuda tanpa memegang buket seakan terasa ada kurang. Zaman sekarang ini memang sudah menjadi hal yang lumrah bahwa seorang wisudawan memeluk/berfoto sembari memegang buket baik buket bunga, boneka, snack, jilbab dan lain-lain. Kebahagiaan itu akan terasa sempurna bila ada yang memberi buket yang indah sebagai ucapan selamat pada acara-acara penting tersebut.

Banyaknya permintaan konsumen, membuat banyak orang yang terpancing untuk memulai usaha buket bunga. Bahkan buket bukan hanya dipesan pada saat momen wisuda, melainkan banyak acara lainnya seperti perayaan anniversary, ulang tahun dan sebagainya.

Seperti halnya dengan dua wanita yang bernama Maya dan Meli. Dua sahabat ini sudah memulai usahanya sejak 2018. Saat mereka sedang jalan-jalan ke acara wisuda mereka melihat ada peluang usaha yang sesuai dengan hobby mereka.

BACA  Mengenal Lebih Dekat Tradisi ‘Doa Aruwa’ di Gorontalo

“Saya bingung, Uang Bidikmisi hanya habis tidak jelas setiap bulannya. Kemudian saja jalan-jalan untuk mencari inspirasi ke acara wisuda dan terfikir untuk memulai usaha buket karena saya hobi menggunting, berkreasi dan merangkai sejak kecil,” ungkap Maya salah satu penjual buket.

Ternyata usaha buket ini tidak bisa diremehkan. Selain bertahan selamanya, usaha buket juga sangat menguntungkan. Dengan modal yang tidak terlalu banyak dan bahan yang mudah di dapat, usaha ini bisa mendapatkan keuntungan untuk hingga berlipat-lipat. Usaha buket

BACA  Ssttt…. Ada yang Menarik di Kawasan Benteng Otanaha

‘Mayaku Flowers’ yang dimiliki oleh Maya dan Meli menjual berbagai buket mulai dari buket bunga kering, bunga hias, boneka karakter, jilbab, snack, dan kopi. Harganya pun terjangkau dan bervariasi mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 150 ribu.

Omsetnya pun bukan kaleng-kaleng.

“Saya pernah jualan buket 2 hari pada acara wisuda di kampus UNG dan Poltekes dapat keuntungan sekitar Rp 16 juta. Waktu itu modal yang saya pakai hanya Rp 2 juta saja,” ungkap Meli sambil merapikan buket bunga yang dijualnya.

Guna memperoleh hasil yang memuaskan, tentunya membutuhkan tangan yang terampil dalam merangkai buket sehingga membuat buket tersebut menjadi menarik. Sebelum berjualan di acara wisuda dan sebagainya, buket harus dirangkai dari jauh-jauh hari.

BACA  Tingkatkan Penanganan Covid-19, Polsek Tilongkabila Bentuk PPKM Berskala Mikro

Maya mengatakan, butuh waktu sekitar dua bulan untuk dapat mempersiapkan buket sebelum dijual pada acara wisuda tersebut. Dalam satu hari Maya bisa membuat 10 buah buket bunga dan boneka karakter.

“Buket bisa sebagai cindramata/kenang-kenangan sekaligus sebagai bentuk ucapan selamat untuk teman yang wisuda,” kata Meysi salah satu pembeli buket.

Hal itu menandakan bahwa buket menjadi salah satu hal lumrah pada saat moment wisuda. (rita/ung/hargo)


Komentar