Rabu, 23 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tak Sesuai Juknis, Seleksi O2SN-SD Tingkat Kota Disoal

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Sportivo , pada Senin, 10 April 2017 | 13:05 WITA Tag: , ,
  


KOTA, hargo.co.id – Penyelenggaraan seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Sekolah Dasar (SD) cabang bulu tangkis tingkat Kota Gorontalo mendapat sorotan keras dari orang tua peserta didik.

Pasalnya panitia penyelenggara dinilai tidak mengikuti aturan dan mekanisme, sehingga menimbulkan kontroversi akibat perilaku yang tidak fare panitia penyelenggara seleksi.

Kepada Gorontalo Post, Jefri Mansyhur dan Rizal Tohopi orang tua peserta didik sekaligus atlet bulutangkis yang ikut dalam O2SN-SD tingkat Kota Gorontalo, Minggu (9/4) mengatakan lagi-lagi panitia telah melanggar Petunjuk Pelaksanaan (Juknis) O2SN-SD.

Dalam Juknis O2SN-SD tersebut jelas bahwa seleksi cabang bulu tangkis tingkat Kabupaten/ Kota hanya diikuti siswa terbaik hasil seleksi di tingkat kecamatan. Siswa terbaik yang dimaksud dalam Juknis adalah ‘Juara’ (peringkat I) dari masing-masing Kecamatan.

“Namun kenyataanya, pada saat pelaksanaan selaksi O2SN-SD cabang bulutangkis pada Senin, 3 April 2017, panitia penyelenggara mengikutsertakan peringkat dua hasil seleksi di tingkat kecamatan,” ucap Rizal kemarin.

Menurutnya, dari enam Kabupaten/Kota se Gorontalo yang menyelenggarakan seleksi O2SN-SD, hanya Kota Gorontalo yang menikutsertakan dua orang termasuk peringkat dua hasil seleksi di tingkat Kecamatan.

BACA  Laga Reuni Tak ‘Romantis’, HND FC Tekuk INN FC

Sementara kabupaten-kabupaten lainnya hanya mengambil satu orang. Dan itu adalah atlet yang berhasil meraih juara I dari setiap Kecamatan.

“Setelah kami mengkonfirmasi kepihak panitia O2SN cabang bulutangkis Kota Gorontalo, mereka mengatakan bahwa keputusan untuk mengikutsertakan peringkat dua pada seleksi di tingkat Kota Gorontalo sesuai dengan kesepakatan pada teknikal meeting. Keputusan itu, diambil secara sepihak tanpa melibatkan seluruh guru-guru pendamping dan kesepakatannya-pun sangat bertentangan dengan Juknis O2SN-SD tahun 2017,” jelas Rizal.

“Ini tentu sangat merugikan atlet dan merusak mental mereka. Sejauh ini yang kami tahu, untuk menjadi wakil masing-masing kecamatan itu adalah mereka yang juara I. Tiba-tiba panitia memasukkan juara II. Itu membuat mereka kaget dan ketika harus bertanding dengan lawan yang sudah dikalahkan sebelumnya, ada beban lain yang mereka hadapi. Ini masalah sikologis anak itu,” sambung Jefry Mansyhur.

Dengan ketidaksesuai pelaksanaan O2SN-SD ini orang tua berharap agar Dinas Pendidikan Kota Gorontalo dapat bertanggungjawab atas pelaksanaan O2SN ini.

BACA  Thariq Modanggu Duga Ada Kesalahan Prosedur pada Pembayaran TKD

“Kita sebagai pendidik harusnya tau bagaimana menanamkan sikap kejujuran dan keadilan serta membangun karakter mereka. Kami berharap bukan hanya Diknas bertanggungjawab. Melainkan mereka harus mengulang O2SN ini sesuai dengan Juknis yang ada. Begitu pula untuk Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo, jika penyelenggaraan O2SN ini tidak diulang, maka panitia tingkat provinsi harus memverifikasi atlet yang diutus dari tingkat Kota. Kita ingin agar pembinaan olahraga itu dimulai dari anak-anak kita dan kita menanamkan kejujuran. Bukan dengan cara seperti yang dilakukan ini. Hanya Kota loh yang penyelenggaraannya seperti ini. Dan bukan hanya kali ini, tahun sebelumnya juga penyelenggaraannya rusak seperti ini,” terang Rizal.

Sementara itu ditempat terpisah, Ade kepala seksi Sekolah Dasar (Kasie SD) Dinas Pendidikan Kota Gorontalo mengungkapkan bahwa pelaksanaan O2SN ini sudah sulit untuk diulang. Selain penyelenggaraannya sudah selesai, juga memakan biaya yang besar jika harus diulang. Bukan hanya itu, keputusan dari dewan juri serta wasit di lapangan adalah putusan yang tidak dapat diganggu-gugat.

“Kalau memang bermasalah, kenapa tidak dari awal orang tua melakukan protes? Kenapa tidak dari awal, sehingga bisa kita tahu letak kesalahannya seperti apa. Ini diprotes nanti sudah ada hasilnya. Dan hasil pertandingan ini murni dan jujur. Namanya perlombaan jelas, kita sama-sama bisa menyaksikan apakah ini jujur atau tidak. Karena mereka bertanding di lapangan yang banyak disaksikan oleh orang banyak. Kalau lomba ini bersifat penilaian, mungkin ya masih bisa dimainkan nilainya. Tapi kan Bulutangkis tidak seperti itu,” jelas Ade semalam.

BACA  Soal Hutang Piutang, Nama Sekda Dicatut, Masuk Materi Hak Angket 

Jelas dikatakan Ade bahwa kesepakatan keikutsertaan dari sudah dibahas terlebih dahulu bersama pelatih/pendamping pada saat tehnikal meeting. Dan semua pendamping setuju jika juara II ikut pada seleksi O2SN tingkat Kota.

“Bahkan kami inginnya Juara I,II dan III ikut pada seleksi tingkat Kota. Karena mereka itu adalah yang terbaik di masing-masing kecamatan. Namun dengan segala keterbatasan, terpaksa hanya juara I dan II yang kami libatkan ke tingkat Kota. Dan waktu itu tidak ada permasalahan. Setelah ada yang juara di tingkat Kota baru dikeluhkan,” terang Ade. (ndi/hargo)


Komentar