Sabtu, 8 Agustus 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tak Terima Mahasiswa Protes Ada Pungutan Selain UKT

Oleh Fajriansyach , dalam Headline Metropolis , pada Sabtu, 5 Agustus 2017 | 10:36 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Sistem penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ada di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang diterapkan sejak tahun 2013 lalu menuai protes dari kalangan mahasiswa.

Salah satu bentuk protes dari mahasiswa adalah dalam UKT tersebut masih dipungut biaya Kuliah Kerja Sibermas (KKS) dan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Puncaknya, sebagai bentuk protes mahasiswa yang tergabung dalam Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa dan organisasi lainnya, melakukan aksi di kantor akademik UNG, kemarin, Jumat (4/8).

Awalnya mahasiswa berkumpul di gedung perpustakaan UNG, mereka melakukan orasi dengan menyuarakan menolak pungutan-pungutan yang ada di kampus UNG, selain dari UKT.

BACA  Warga Gorontalo Tewas Ditikam, Pelaku Diduga Seorang Tuna Rungu

Setelah itu, mahasiswa berkeliling kampus UNG untuk mengumpulkan massa. Sampai pada pukul 10.30 Wita, mereka datang langsung ke gedung akademik UNG untuk melayangkan berbagai tuntutan terkait dengan penerapan UKT.

Setelah berada di gedung akademik, mahasiswa kemudian meminta kepada para pejabat maupun pegawai untuk bisa menyingkirkan mobil dinas maupun mobil pribadi yang ada di halaman gedung akademik. Setelah itu mahasiswa memaksa ingin masuk ke gedung akademik untuk meminta penjelasan dari bagian akademik maupun pejabat tentang UKT tersebut.

Aksi mahasiswa ini, hanya dikawal oleh beberapa orang sekuriti kampus. Sempat terjadi adu mulut antara perwakilan massa dengan sekuriti maupun pegawai akademik.

BACA  Air Sungai Taludaa 'Ngamuk', 150 Rumah Warga di Kecamatan Bone Rusak Parah

Sebelum masuk ke gedung akademik, beberapa perwakilan massa, melakukan razia kepada mahasiswa lainnya untuk keluar dari gedung akademik dan bergabung dengan masa aksi.

Setelah berada dalam jumlah yang besar, masa kemudian berusaha masuk ke gedung akademik. Mahasiswa yang dipimpin oleh presiden BEM UNG, Whenching Ali dan wakilnya Afandi Ismail akhirnya bisa menduduki kantor akademik. “Kami ingin meminta penjelasan, kenapa mahasiswa masih membayar KKS dan PPL, padahal mahasiswa sudah membayar UKT,” ungkap Afandi Ismail.Sementara itu, sekertaris Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pengajaran (LP3) UNG, Sardi Salim yang menerima masa aksi tersebut menyampaikan bahwa PPL dan KKS itu tidak masuk dalam hitungan UKT, karena kedua item tersebut membutuhkan biaya dalam pelaksanaanya.

BACA  Video : Pinogu Terus Diguyur Hujan, Ketinggian Air di Bendungan Alale Capai 3,15 Meter

“KKS dan PPL tersebut dilakukan diluar kampus sehingga ada biayanya dan biayanya ini ntuk mahasiswa itu sendiri.

Mulai dari pengantaran ke lokasi hingga setelah selesai PPL dan KKS. Pungutan dari KKN dan PPL pun itu resmi, ada SK Rektor dan masuk ke rekening Rektor. Sama dengan pelaksanaan Masa Orientasi Mahasiswa Baru (MOMB), yang juga membutuhkan biaya sehingga masih ada juga pungutan di MOMB,” pungkasnya.(wan/hg)


Komentar