Jumat, 19 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tanggapi Hasil Survei, Rektor UNG Sebut Wapres ‘On The Right Track’

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 17 Februari 2020 | 13:17 Tag: ,
  Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Eduart Wolok

Hargo.co.id, GORONTALO – Hasil survey yang dilakukan oleh Indo Barometer, menunjukan bahwa tingkat kepuasan Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin berada jauh di bawah Presiden Jokowi. Tingkat kepuasan publik pada Wapres Ma’ruf Amin hanya 49,6 persen. Sedangkan masyarakat yang tidak puas dengan Wapres Ma’ruf Amin ada 37,5 persen.

Survei yang digelar Indo Barometer ini berlangsung pada 9 -15 Januari 2020. Survei ini melibatkan 1.200 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Indo Barometer menggunakan batas kesalahan kurang lebih 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data menggunakan metode face to face interview menggunakan kuesioner oleh surveyor terlatih.

Menanggapi hal tersebut, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok mengatakan jika hasil survei tersebut masih berada pada taraf yang normal. Sebab tingkat kepuasan pada Wapres pada hasil survei tersebut hanya terpaut 0.4 % dari 50 % publik Indonesia. Jadi, masih separuh warga yang melihat kinerja Wapres positif.

Adapun yang tidak puas sejumlah 37,5 persen, bagi Eduart Wolok tidak terlalu mempengaruhi sebab tidak semua warga bisa membedakan mana program, target dan capaian kinerja sesuai dengan tahapan dalam perencanaan pembangunan.

“Hasil survei tersebut tidak bisa menjustifikasi kinerja. Sebab saat ini APBN 2020 baru berjalan dua bulan. Sedangkan masih banyak program yang belum berjalan,” kata Eduart Wolok.

Lanjut katanya, pengukuran kinerja pemerintahan berbeda dengan pengukuran mengenai kepuasan publik. Publik biasanya melihat dari apa yang tampak dari media massa, bukan dari pencapaian target dan indikator program pemerintah.

“Kinerja Wapres, saya kira on the track, sebab beliau memposisikan diri sebagai pembantu presiden dalam hal pengawasan dan monitoring program pemerintah. Hal ini saya kira sementara dilaksanakan secara normatif. Tentu menjustifikasi kinerja dan kepuasan publik rendah saya kira keliru,” jelas Eduart Wolok yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo.

Ditambahkan oleh Eduart Wolok, kinerja baru bisa diukur saat memasuki triwulan kedua, ketiga dan keempat pada tahun anggaran yang berjalan. Jadi, mengukur kepuasan publik untuk 100 hari dan menyamakannya dengan kinerja pemerintah adalah hal yang tidak pas. (red/hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar