Minggu, 20 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tantangan dan Efektivitas Generasi Milenial Bangsa

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Senin, 2 April 2018 | 14:36 WITA Tag: ,
  Moh. Duzl Izam Abd. Wahab


Oleh : Moh. Duzl Izam Abd. Wahab

Sumber daya manusia yang cukup banyak sebenarnya merupakan salah satu keuntungan bagi Indonesia. melimpahnya SDM ini akan menjadikan setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki daya saing kewirausahaan, mempercepat produksi yang potensial, serta mudah dalam memperoleh tenaga kerja. Sejauh ini di Indonesia tercatat dari 255 juta penduduk 81 juta diantaranya merupakan generasi milenial yang berarti kesempatan untuk membangun negara ini cukup besar berada di tangan para generasi mahir teknologi ini.

Keberadaan generasi milenial diantara sekian banyak SDM menjadikan generasi ini sebagai salah satu tumpuan bangsa dengan berbagai kreatifitas serta inovasi yang dimiliki. Membangun bangsa dan negara bukan merupakan hal yang mudah dan enteng untuk dilakukan oleh generasi milenial. Dalam prosesnya banyak sekali tantangan yang harus dilalui seperti kesenjangan kepercayaan diri, tidak terlalu tertarik dengan pelaksanaan kebiasaan atau budaya tradisional, penanaman nilai-nilai nasionalisme (sikap politik), serta melawan yang namanya hoax.

Tuntutan sebagai generasi yang lahir di era mahir teknologi membuat generasi milenial merasa terbebani dan tertekan sehingga menyebabkan tingkat kepercayaan diri menurun dan akhirnya justru akan menghasilkan sebuah kesulitan bagi diri mereka sendiri. Dalam hal ini mental baja menjadi kekuatan yang dapat membendung serta meningkatkan kepercayaan diri. Memiliki mental baja bukanlah sesuatu yang hal yang mudah untuk diperoleh, berproses merupakan salah satu yang akan membuat mental kita sebagai manusia terbentuk. Berproses yang dimaksud seperti berorganisasi yang tentunya akan membentuk serta melatih mental.

Di era saat ini banyak kebiasaan zaman dulu yang mulai ditinggalkan dan mulai beralih kepada pemanfaatan kemajuan teknologi, hal ini menghadirkan sisi positif dan juga sisi negatif sisi positifnya orang-orang akan lebih dipermudah untuk melakukan sesuatu. Namun yang menjadi tantangan bagi generasi milenial yaitu tidak melupakan kebiasaan lama seperti bertamu ataupun bersilaturahmi secara langsung dan berbagai hal lainnya. Kemajuan teknologi seharusnya diseimbangkan dengan kebiasaan-kebiasaan ramah dan gotong royong lama yang telah menjadi ciri khas bangsa ini.

Nilai-nilai nasionalisme bangsa mulai diruntuhkan oleh adanya globalisasi. Ini merupakan tantangan selanjutnya bagi generasi milenial dimana mereka mampu mengembalikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh yaitu partisipasi dalam politik, saat ini generasi mahir teknologi atau juga berpendidikan justru bisa dikatakan apatis dalam pelaksanaan politik. Seperti halnya saat pemilu atau pilkada, banyak diantara generasi milenial tidak menggunakan hak mereka sebagai warga negara untuk memberikan suara. Persepsi bahwa tidak ada calon yang cocok untuk duduk disinggasana pemerintahan menjadi alasan utama untuk tidak berpartisipasi dalam pemilihan, padahal semestinya ini bukan merupakan sikap yang pantas bagi kaum generasi mahir teknologi. Hal inilah yang tentunya harus diubah oleh generasi milenial karena nasib 5 tahun bangsa ini berada di setiap suara mereka.

Tantangan terakhir bagi generasi milenial dalam membangun negeri ini menurut saya adalah melawan hoax. Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat berbagai macam hoax muncul kepermukaan dan semakin diperparah oleh banyaknya orang yang mempercayai hal tersebut. Keberadaan hoax ini didasari oleh beberapa faktor seperti menjatuhkan lawan saing dan pembodohan bangsa, hal ini disebabkan karena kurangnya literasi digital. Sebagai generasi milenial seharusnya dapat membuat sebuah literasi digital yang tentunya akan mengurangi atau bahkan menghilangkan keberadaan hoax di Indonesia.

Menjadi tumpuan pembangunan tentunya adalah hal sulit yang harus dilakukan oleh generasi milenial, mereka harus mampu menghilangkan kedahagaan bangsa ini untuk menjadi negara maju. Dalam prosesnya banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui, namun semua hal tersebut akan menjadi sebuah sejarah perjuangan baru apabila generasi milenial sukses melawanannya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno “ Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia “.

Penulis adalah Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Malang


Komentar