Sabtu, 25 Juni 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Teater Peneti, Terbentuk dari Kegelisahan Mahasiswa UNG

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Ragam , pada Kamis, 23 Juni 2022 | 18:05 Tag: , ,
  Zulkipli salah seorang pendiri Teater Peneti ketika diwawancarai wartawan Hargo.co.id. (Foto : HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Teater Peneti merupakan teater yang dibentuk oleh sejumlah mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Awal berdirinya yakni pada 1995, dan saat itu belum menggunakan nama Teater Peneti. 

Para pendiri masih menggunakan nama Teater Kembara. Maksud dari kembara disini, karena mereka masih melakukan pencarian atau mencari jati diri. Sekitar 1999, Teater Kembara ini, kemudian berganti nama menjadi Teater Peneti. Mengusung nama Peneti, menurut Zulkipli, salah seorang pendiri teater tersebut, karena Peneti melambangkan perjalanan mereka. 

 Teater Peneti saat tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dalam rangka HUT Provinsi Gorontalo 2009 lalu. (Foto: Istimewa/Koleksi Indrawan Modanggu)

Teater Peneti saat tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dalam rangka HUT Provinsi Gorontalo 2009 lalu. (Foto: Istimewa/Koleksi Indrawan Modanggu)

Zulkipli mengisahkan, Teater Peneti ini dibentuk berangkat dari kegelisahan mahasiswa pada 1995. Salah seorang pegiat teater dari Makassar, Asia Ramli Prapanca pernah mengatakan bahwa Teater Peneti adalah teater lugu dalam artian jujur. Banyak hal yang ingin disampaikan, apalagi pada zaman-zaman tersebut pergerakan demo mahasiswa dan lain sebagainya.

Disisi lain, kata Zulkipli, mereka yang dari Teater Peneti ingin mengambil satu bagian yang mana tetap memberi kritik tetapi lebih soft atau halus, karena mereka mengkritik melalui seni pertunjukkan.

“Teater Peneti sebenarnya dari awal dibentuk sangat konsen terhadap isu-isu yang ada di Gorontalo. Banyak hal kegiatan di Gorontalo ini yang melibatkan Teater Peneti pada event-event tertentu walaupun tidak semuanya. Tapi ada waktu-waktu tertentu Teater Peneti dilibatkan. Misalnya pada saat pembentukan provinsi. Walaupun beberapa kali kami mementaskan naskah orang, tetapi sebagian besar naskah yang kami pentaskan itu adalah milik kami, karena dekat dengan kehidupan masyarakat atau bisa dinikmati oleh masyarakat sebagai penikmat sastra,” ungkapnya.

Pertunjukkan oleh Teater Peneti, lanjut Zulkipli, bukan hanya berlangsung di Gorontalo, tetapi hampir di seluruh Indonesia. Mulai dari lomba ataupun ada event-event tertentu yang mengharuskan mereka berangkat untuk pentas. 

Tampil dengan lakon Kasimu Motoro pada Festival Teater Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Foto: Istimewa/Koleksi Indrawan Modanggu)
Tampil dengan lakon Kasimu Motoro pada Festival Teater Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Foto: Istimewa/Koleksi Indrawan Modanggu)

“Intinya Teater Peneti ini dibentuk dari kegelisahan mahasiswa yang memiliki keinginan untuk berpartisipasi untuk membangun peradaban melalui seni pertunjukkan,” tandasnya. 

Dalam kesempatan itu, Zulkipli juga menegaskan, Teater Peneti tidak akan pernah mati. Pasalnya, kata dia, anggota-anggota Teater Peneti kebanyakan adalah guru. Zulkipli yakin, Teater Peneti ini diajarkan kepada peserta didik mereka. 

“Yang mana bagi para anggota Teater Peneti ini merupakan sebuah pergerakan, walaupun mati sebagai organisasi kampus dalam artian keluar, tetapi yang lain membentuk ‘peneti-peneti’ melalui sekolah-sekolah,” kuncinya.

Data yang ada, nama-nama beken yang ditempa melalui Teater Peneti yakni Indrawan Modanggu, Arief Rahman Makmur, Amy Samalu, Eka Nurya Ningsi Mukti, Ayundrawan Mohune, Melki Gani, Hamdan Kariem dan masih banyak lagi yang tak disebutkan namanya. Sebagian besar dari mereka kini menjadi guru di sekolah menengah sehingga diyakini dapat membentuk ‘peneti-peneti’ di sekolah masing-masing. (***)

 

Penulis : Elvi/Mahasiswa Magang UNG

(Visited 238 times, 24 visits today)

Komentar