Senin, 29 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tekanan Darah Meroket, Waspadai Pendarahan Otak

Oleh Tirta Gufrianto , dalam LifeStyle , pada Senin, 18 Oktober 2021 | 18:05 PM Tag: , ,
  Ilustrasi. BERTANDA: Pendarahan otak karena bawaan bisa ditandai dengan keluhan sering mengalami sakit kepala, cekot-cekot, kepala kerap berdenyut-denyut, dan tidak membaik dengan obat pereda nyeri. (Pixabay)

Berisiko Tinggi Terjadi Mendadak

Komedian Tukul Arwana yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi pendarahan otak mengajarkan hikmah penting. Pendarahan pada otak bisa terjadi secara mendadak. Tanpa disangka-sangka sebelumnya. Namun, tetap masih ada upaya untuk mengantisipasinya.

HARGO.co.id, SURABAYA – DOKTER spesialis saraf di RS Darmo Surabaya dr Mudjiani Basuki SpS menjelaskan, pendarahan otak merupakan pecahnya pembuluh darah di otak. Darah yang keluar masuk ke jaringan otak dan menekan fungsi saraf di sekitarnya.

’’Penyebab utamanya adalah darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol. Begitu tekanan darahnya terlalu tinggi, pembuluh darah di otak seketika bisa pecah,’’ jelasnya. Karena itu, obat darah tinggi pada pasien hipertensi mesti dikonsumsi secara teratur sesuai anjuran saat kontrol rutin ke dokter. Bahkan dalam beberapa kasus, obat tersebut harus rutin diminum seumur hidup demi mengontrol kadar tekanan darah tetap pada batas normal.

Saat terjadi pendarahan otak, pasien bisa langsung mengalami stroke. Mudjiani menuturkan, stroke itu bisa terjadi karena pendarahan di otak maupun pembuntuan aliran darah. Namun, stroke yang datang karena pendarahan di otak selalu terjadi secara mendadak. ’’Saat seseorang sedang beraktivitas seperti sedang makan, mandi, salat, tiba-tiba kolaps,’’ ujar alumnus FK Unair tersebut.

Serangan stroke itu berpotensi membuat pasien mengalami lumpuh separo badan, muka mencong, atau bicara pelo. Dokter yang juga berpraktik di RSUD dr Soetomo Surabaya itu menerangkan, stroke termasuk kondisi gawat darurat yang harus ditangani secepatnya. Sebab, stroke sering kali menimbulkan kecacatan.

’’Bisa mengakibatkan kecacatan motorik seperti tangan dan kaki lemah untuk berjalan. Otot-otot wajah, bibir, dan lidah kaku sehingga sulit untuk berbicara. Kadang bisa juga tidak sanggup berbahasa karena pusat berbahasanya ikut terkena imbas,’’ imbuhnya. Dia pun menegaskan pentingnya pertolongan yang cepat dan tepat. Saat pasien pendarahan otak kolaps, yang bersangkutan bisa langsung dibaringkan.

Orang terdekat juga bisa memberikan suplai oksigen. Lantas, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat, terutama yang memiliki fasilitas CT scan, agar segera mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. ’’Otak harus diselamatkan sesegera mungkin karena ada masanya. Sebaiknya kurang dari tiga jam setelah kolaps. Kesembuhan pasien nanti bergantung pada cepat lambatnya pertolongan pertama yang diberikan, banyak sedikitnya darah yang merembes keluar, serta letak lokasi merembesnya pendarahan,’’ paparnya.

Selain itu, kesembuhan bergantung pada faktor usia. Pasien berusia lanjut yang mempunyai penyakit penyerta lain, seperti diabetes, kolesterol, dan asam urat, tentu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Disiplin minum obat, rutin kontrol, menjaga asupan, istirahat cukup, dan tidak terlalu lelah menjadi ikhtiar untuk pasien hipertensi. ’’Perbanyak minum air putih. Makanan manis boleh asal dibatasi. Kalau lagi musim mangga, boleh kok ikut makan. Masak seumur hidup nggak boleh. Tapi secukupnya, jangan banyak-banyak,’’ ujarnya.

MUDJIANI menambahkan, pendarahan otak juga bisa terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat hipertensi. Yakni, mereka yang ditakdirkan punya kelainan bawaan pembuluh darah otak (vascular malformation). Kelainan itu terbagi menjadi dua tipe. Yakni, aneurisma dan AVM (arteriovenous malformation). Pada kelainan aneurisma, seseorang memiliki pembuluh darah yang tipis sehingga mudah pecah. Sementara pada AVM, peredaran darah tidak melalui jalur yang seharusnya.

’’Itu bawaan. Bukan karena pola hidup seperti hipertensi. Maka, biasanya seseorang mengalami keluhan yang dirasakan sebelumnya. Misalnya, sering mengalami sakit kepala, cekot-cekot. Kepala kerap berdenyut-denyut dan tidak membaik dengan obat pereda nyeri. Reda sementara waktu, lalu kambuh lagi dengan frekuensi dan intensitas nyeri yang semakin hebat seiring bertambahnya usia,’’ jelasnya.

Dia pun mewanti-wanti seseorang yang sering mengalami gejala tersebut agar segera memeriksakan diri ke dokter spesialis saraf. Sebab, dicurigai ada kelainan pembuluh darah otak bawaan. ’’Karena gejalanya sakit kepala, sering kali mudah terabaikan. Seseorang yang sudah didiagnosis memiliki kelainan pembuluh darah bisa menjalani prosedur pemeriksaan dan operasi khusus. Tujuannya, tidak sampai terjadi pecahnya pembuluh darah di otak yang bisa berakibat fatal,’’ tandasnya. (JawaPos.com)

WASPADA PECAH PEMBULUH DARAH OTAK

– Hipertensi menjadi faktor pemicu utama. Karena itu, seseorang dengan riwayat hipertensi harus selalu mengontrol tekanan darahnya pada ambang batas normal.

– Pecahnya pembuluh darah di otak yang terjadi mendadak bisa langsung mengakibatkan stroke.

– Kesembuhan stroke bergantung pada banyak hal. Terutama faktor usia, tingkat keparahan, dan penyakit penyerta.

– Mayoritas hipertensi dialami usia 50 tahun ke atas. Namun, saat ini banyak juga kaum muda yang mengalaminya.

– Bekerja terlalu keras, kurang istirahat, mengonsumsi stimulan, dan makanan hiperkolesterol bisa memicu naiknya tekanan darah yang tidak terkontrol.

– Sering nyeri kepala mesti diwaspadai adanya kelainan pembuluh darah otak.

*Diolah dari wawancara dengan dr Mudjiani Basuki SpS

 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Tekanan Darah Meroket, Waspadai Pendarahan Otak“. Pada edisi Senin, 18 Oktober 2021.
(Visited 40 times, 1 visits today)

Komentar