Rabu, 23 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Temuan Baru, Limbah Batik Tak Lagi Cemari Lingkungan

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Selasa, 22 Agustus 2017 | 03:37 WITA Tag: ,
  Alat yang bisa mendegradasi limbah batik (Istimewa)


Hargo.co.id – Indonesia dianugerahi satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO serta memiliki harga jual tinggi di mata dunia internasional yaitu Batik. Tentu perkembangan industri batik juga harus memikirkan dampak lingkungan.

Seiring dengan semakin terkenalnya batik Indonesia, semakin banyak pula permintaan baik lokal maupun luar negeri akan batik Indonesia yang akhirnya diimbangi oleh industri batik dalam negeri. Namun, pesatnya pertumbuhan industri batik berdampak pada pencemaran lingkungan sebagai akibat limbah batik.

Alat itu mudah digunakan oleh pelaku industri serta dapat mendegradasi limbah batik secara optimal. Kelima mahasiswa tersebut adalah Nur Sharfan (Teknik Kimia) ; Ahmad Shobri (Teknik Elektro) ; Fadhila Ahmad Anindria (Teknik Kimia) ; Rickson Mauricio (Teknik Kimia) dan Muhammad Akbar Buana (Teknologi Bioproses).

“Industri Batik Pekalongan menjadi salah satu daerah pengamatan kami. Di kota Pekalongan, jenis industri batik yang mendominasi adalah home industry, yang tersebar luas di berbagai bagian kota Pekalongan,” kata Sharfan dalam keterangan tertulis, Senin (21/8).

Namun, menurut mereka, pertumbuhan dari industri batik Pekalongan tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah yang baik. Jumlah IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) komunal batik di Pekalongan baru ada tiga dengan kapasitas yang belum mampu menampung seluruh limbah produksi dari unit usaha batik.

BACA  Kapolri Minta Polda Jajaran Segera Bentuk Kampung Tangguh Narkoba

Mengingat proses pengecatan dan pemberian warna pada kain menghasilkan limbah yang tidak sedikit jumlahnya dan berakhir dengan dibuang di sistem perairan setempat, maka kami peduli untuk mencari solusi akan masalah limbah tersebut.

“Alat yang kami ciptakan menggunakan teknologi elektrokoagulasi dan fotokatalis sehingga dapat mendegradasi limbah batik secara optimal,” jelas Sharfan.

Di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik UI Slamet, Plato menjadi sebuah prototipe alat pengolah limbah portable yang dirancang sedemikian rupa agar mudah digunakan oleh para pelaku home industry batik. Dengan kombinasi metode elektrokoagulasi dan fotokatalis, unit ini dapat mengolah limbah jamak secara simultan, seperti limbah warna, limbah organik serta limbah logam berat.

BACA  Ahmad Dhani Yakin Abdee Sudah Disiapkan jadi Menteri Jokowi

Plato memiliki keunggulan di antaranya dapat digunakan secara mobile, dapat digunakan secara bergantian oleh tiap pelaku usaha dalam suatu kawasan tanpa harus mengumpulkan limbah hasil pencucian batik ke IPAL. Dengan demikian, jumlah limbah yang dibuang ilegal ke sungai dapat berkurang.

Para penemu berharap alat ini mampu memberikan alternatif pengolahan limbah batik sehingga dapat menjadi solusi akan keresahan masyarakat di sekitar sungai. Air bersih yang telah diolah dari teknologi ini berpotensi untuk bisa digunakan kembali pada proses produksi batik, dengan begitu penggunaan air pada proses produksi dapat mengalami peningkatan penghematan yang banyak.

(ika/JPC/hg)


Komentar