Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tenda Unik Senilai Rp 3,5 Juta Hadir di Atinggola    

Oleh Jamal De Marshall , dalam Headline Metropolis , pada Selasa, 14 Agustus 2018 | 18:34 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Salah satu yang sering dilihat jelang perayaan HUT Proklamasi RI pada 17 Agustus yakni perkemahan. Biasanya ini dilakukan setiap kecamatan di Indonesia sehingga lapangan ramai dengan tenda-tenda.

Terkait dengan itu, lapangan di Atinggola, Gorontalo Utara (Gorut) kini hadir deretan tenda unik yang ukurannya menyerupai rumah tipe 36. Miliki dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Tenda ini juga dibandrol Rp 3,5 juta per unit.

BACA  Disiplin Protokol Kesehatan Pengaruhi Tren Zonasi di Daerah

Mau tahu bahan bakunya? Informasi yang berhasil dihimpun Hargo.co.id (Gorontalo Post Grup), bahan baku dinding bagian depan yakni tripleks. Sementara dinding samping kiri, kanan, bagian belakang dan atapnya berasal dari terpal.

Sementara kerangka tenda ini berbahan baku kayu balok ukuran 6 x 4 centimeter. Cukup kuat sehingga tenda ini masih akan digunakan pada tahun-tahun berikutnya. Informasi yang diperoleh, hadirnya tenda seperti ini sebenarnya sudah sejak dua tahun lalu.

BACA  Terduga Pelaku Pencuri Sepeda Motor di Isimu Berhasil Dibekuk
Deretan tenda unik di Lapangan Atinggola yang hadir setiap HUT Proklamasi RI. (Foto Hargo.co.id)

“Tenda ini hanya digunakan setiap jelang HUT Proklamasi RI 17 Agustus. Setelah itu, kembali disimpan untuk digunakan pada tahun berikutnya. Karena siswanya masih kecil-kecil, yang pasang dan bongkar adalah orang tua siswa,” jelas Irna B. Ahmad, salah seorang guru di SDN di Atinggola.

Lalu dari mana anggaran yang digunakan untuk membangun tenda-tenda tersebut? Usut punya usut, dana tersebut bersumber dari sekolah.

BACA  Sebanyak 3.517 Wartawan Lolos Seleksi Fellowship Perubahan Perilaku

“Ini juga sebenarnya inisiatif dari orang tua siswa dan sekolah hanya mengeluarkan anggaran yang bersumber dari dana BOS. Ternyata bagus karena tak mudah roboh, makanya masih digunakan saat ini. Intinya disini bukan soal berapa uang yang dikeluarkan, namun kreatifitasnya yang perlu diberi nilai tinggi,” tutupnya. (jdm/hg) 


Komentar