Senin, 12 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Terkait Bahasa Atinggola, Kantor Bahasa Rencana Lakukan Kajian

Oleh Alosius M. Budiman , dalam Kab. Gorontalo Utara , pada Sabtu, 27 Maret 2021 | 10:05 WITA Tag: , ,
  Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin menerima kamus Bahasa Atinggola dari Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Armiati Rasyid, Kamis (25/03/2021). (Foto Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo berencana melakukan kajian terkait Bahasa Atinggola. Kajian ini untuk memastikan apakah itu bahasa atau hanya dialek Atinggola.

Ini ditegaskan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Armiati Rasyid usai audiensi dengan Bupati Gorontalo Utara (Gorut), Indra Yasin, Kamis (25/03/2021).

“Hari ini kami sengaja datang beraudiensi dengan bupati terkait penggunaan bahasa di ruang publik dan perlindungan bahasa dan sastra yang fokus pada Bahasa Atinggola,” ungkapnya.

BACA  Diselesaikan di Kemendagri, Batas Wilayah Gorontalo Utara – Buol Tak Masalah Lagi

Ada yang menarik dari pertemuan itu yakni, Armiati Rasyid  mengungkapkan jika secara nasional, Bahasa Atinggola itu hanya merupakan dialek. Namun oleh mereka yang menggunakan atau disebut penutur untuk masyarakat Atinggola sendiri, itu merupakan sebuah bahasa.

“Kenapa kami fokus kepada Bahasa Atinggola, karena jumlah penutur itu mulai berkurang,” kata Armiati Rasyid.

Lebih lanjut dikatakan, Bahasa Atinggola yang dituturkan oleh masyarakat Atinggola itu sendiri, jumlah penuturnya mulai berkurang.

BACA  Rina Polapa Dukung Rencana Pengkajian Bahasa Atinggola

“Di sisi lain secara nasional Bahasa Atinggola merupakan sebuah dialek, ini budaya tutur. Namun sudah mulai berkurang dalam salah satu bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Atinggola,” tegasnya.

Untuk itu, dalam dialek dengan bupati pada kesempatan tersebut, Armiati Rasyid menegaskan bahwa untuk memastikan bahwa Bahasa Atinggola merupakan sebuah bahasa atau hanya sebuah dialek, maka perlu untuk dilakukan kajian lagi.

BACA  Dosen UNG Tegaskan, Bahasa Atinggola Bukan Dialek

“Di sisi lain ini juga dalam rangka pemeliharaan aset dalam bentuk bahasa daerah, maka perlu untuk melakukan kajian vitalitas untuk melihat seberapa tinggi daya hidup bahasa itu sendiri dan ketika ini diketahui maka perlu dilakukan kegiatan untuk menggali lagi termasuk dalam bentuk sistem bahasanya,” kunci Armiati Rasyid. (abk/adv/hargo)


Komentar