Thursday, 23 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Timur Terang

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Tuesday, 31 August 2021 | 10:05 AM Tags: , , ,
  Timur Terang - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

KUBURAN uang itu akan bangkit dari dalam tanah nikel. Anak bangsa baru saja menemukan teknologinya.

Saya kenal baik anak itu –kini berumur 55 tahun. Dua kali saya rapat dengan anak itu delapan tahun lalu. Yakni di awal ide melahirkan mobil listrik nasional.

Saya juga kenal begitu banyak pengusaha yang ”tewas” akibat terlalu banyak menanam uang di tambang nikel. Di Sulawesi Tengah dan Tenggara. Banyak juga pengusaha bertengkar akibat kongsi di bisnis nikel. Pun sampai ke pengadilan.

Belum lagi yang merasa ditipu sesama teman pengusaha. Lokal menipu nasional. Nasional menipu internasional. Dan sebaliknya.

Pokoknya Sulteng dan Sultra akhirnya saya kenal sebagai kuburan uang. Triliunan rupiah. Tanpa harapan.

Lalu begitu banyak orang yang mengajukan penawaran kepada saya. Untuk membeli kuburan itu. Atau kerja sama. Saya menolak. Saya sudah terlalu tua untuk menjadi penggali kuburan seperti itu.

Sampai akhirnya muncullah perusahaan raksasa asing di sana. Di Morowali. Yang sangat mengagumkan itu.

Banyak pengusaha lokal-nasional gigit jari: hanya bisa menonton Morowali. Sambil merenungkan kuburan uangnya.

Tapi mendung tidak akan terus menerus berada di satu tempat. Sebentar lagi mendung di atas kuburan itu akan bergeser. Mendung tidak akan lagi menggelayut di situ.

Maka janganlah bersedih lagi.

Sudah lahir anak bangsa yang menemukan teknologi untuk ”membongkar kuburan uang” itu.

Namanya: Widodo Sucipto.

Tempat lahir: Porong, Jatim. Berarti Widodo ini sekampung dengan Inul Daratista.

Widodo Sucipto bersama Disway, delapan tahun lalu, saat mendiskusikan baterai mobil listrik.
Widodo Sucipto bersama Disway, delapan tahun lalu, saat mendiskusikan baterai mobil listrik.

Inul ngebor dangdut. Widodo ngebor nikel.

Kuburan uang itu terjadi akibat lahirnya UU Nikel di tahun 2009. Pemerintah, di tahun 2013, seperti hampir lupa: bahwa di tahun 2014, UU tersebut sudah harus dilaksanakan. Batas waktu lima tahun tinggal 24 bulan.

Maka harus diapakan buah simalakama itu: tidak dilaksanakan melanggar UU, dilaksanakan belum siap.

Inti UU itu sebenarnya mulia sekali. Bagi bangsa. Ekspor bahan mentah nikel (tanah mengandung nikel) dilarang. Harus diolah di dalam negeri.

Keputusan di tahun 2013 itu: UU tetap harus dilaksanakan.

Para pengusaha pun heboh: tidak siap. Investasi untuk mengolah nikel itu mahal. Membangun smelter itu perlu waktu setidaknya tiga tahun. Itu pun kalau pakai teknologi yang sederhana, yang sangat merusak lingkungan.

Pemerintah lengah: tidak sejak awal memberi penegasan bahwa UU tersebut pasti dilaksanakan.

Pengusaha juga lengah: mengira pemerintah tidak akan tegas. Mereka mengira pelaksanaan UU itu bisa ditunda.

Akibat UU tersebut: lahirlah kuburan uang di lahan nikel. Para pengusaha tidak bisa ekspor bahan baku. Juga tidak punya pabrik pengolah (smelter).

Korban terbesar adalah: PT Antam. Milik BUMN. Langsung klepek-klepek. Sampai sekarang.

Proyek besar smelternya di Halmahera kandas. Larangan ekspor itu membuat PT Antam tiba-tiba tidak punya dana untuk meneruskan proyek itu. Padahal sudah telanjur membangun pelabuhan besar di Halmahera. Nganggur.

Ratusan pengusaha tambang bernasib sama: tidak bisa lagi ekspor bahan mentah nikel. Juga tidak bisa membangun smelter.

Saya setuju: ekspor bahan mentah itu memang harus dilarang. Tidak masuk akal. Sudah puluhan tahun. Kita telanjur terlalu lama jual tanah air –dalam pengertian fisik.

Tiap satu ton tanah yang mengandung nikel itu, nikelnya hanya 8 kg. Bahkan untuk tanah permukaan, nikelnya hanya 1 sampai 2 kg. Tanah permukaan itu tidak efisien untuk diolah. Harus disingkirkan. Tebal tanah permukaan itu sampai 6 meter. Baru di bawah 6 meter, kadar nikelnya bisa 8 persen.

Ada juga, memang, satu dua pengusaha memaksakan diri membangun smelter. Kecil-kecilan. Selebihnya hanya bisa merenungi kuburan uang mereka.

Banyak juga di antara mereka yang memilih bertengkar. Merasa ditipu. Atau saling menipu. Pun ada yang sampai ke pengadilan.

Kini telah lahir teknologi baru pengolahan nikel. Yang lebih murah. Yang lebih ramah lingkungan. Yang sangat efisien.

Penemunya Inul Daratista –tetangganya: Widodo Sucipto tadi.

Teknologi lama: tanah yang mengandung nikel itu dibakar. Agar nikelnya terpisah dari tanah.

Teknologi Widodo: tanah itu dipanaskan tanpa dibakar.

Caranya: tanah dimasukkan kiln, dipanasi sampai 700 derajat.

Hasilnya bisa sama: tiap 100 ton tanah bahan baku menghasilkan 8-15 ton nikel.

Widodo menamakan teknologinya itu STAL –singkatan dari Step Temperature Acid Leach.

Kunci keunggulannya: biaya investasinya jauh lebih murah. Bisa 30 kali lebih murah. Bukan lagi langit dan bumi –tapi langit dan sumur.

Investasi sistem lama (Hpal) memerlukan biaya Rp 15 triliun. Dengan teknologi Widodo hanya Rp 4,5 triliun. Untuk kapasitas yang sama. Masih pun memiliki banyak kelebihan lain.

Satu smelter Hpal berkapasitas 6.000 ton bahan baku per hari.  Satu modul STAL 600 ton/hari. Kapasitas Hpal memang 10 kali lipat. Tapi biaya investasi Hpal lebih dari tiga kali lipat.

Menurut Widodo, di samping jauh lebih murah, teknologi STAL lebih cocok untuk Indonesia.

Modul 1 pabrik STAL “hanya” berkapasitas 600 ton/hari (bahan baku). Akan banyak pengusaha nasional yang mampu mengerjakan. Pemilik tambang kecil-kecil bisa memiliki smelter sendiri. Kalau toh harus bergabung cukup 5 atau 6 pemilik tambang sudah bisa membangun 1 pabrik.

Pengusaha lokal hampir mustahil mampu membangun smelter nikel dengan teknologi Hpal. Itu kelasnya perusahaan global.

Maka kuburan investasi nikel di Sulteng dan Sultra menemukan jalan baru. Widodo telah menemukan jalan keluarnya.

Widodo –Alhamdulillah, Puji Tuhan– telah menerbitkan matahari di atas kuburan nikel terbesar di dunia. (Dahlan Iskan)

Perjuangan Penelitian 8 Tahun Widodo Sucipto. BACA BESOK!

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di artikel Fatwa Akhundzada

Disway 5y Salemo
Lama2 Afghanistan akan menemukan jalan dan tata cara pemerintahannya sendiri. Emang NKRI dulu bisa kayak sekarang ini langsung setel? RI awal berdiri juga cakar-cakaran dulu sebelum menemukan bentuk yang sekarang. Dulu ada RMS, DII/Permesta, PRRI.  Nanti Afghanistan juga akan menemukan keseimbangan sendiri. Untuk menemukan itu perlu waktu, perlu pengorbanan  harta dan raga.

Firdaus Tanjung
Selama ini di negara kita kalau yg radikal² sama dengan Taliban. Ternyata di negara nya Taliban sendiri yg radikal² adalah ISIS. Saat ini tidak ada lagi yg berani menyebut yg radikal itu sama dengan Taliban.

Disway to dadway
Orang Indonesia juga punya skill menyembunyikan tokoh penting. Contoh: orang yang ngumpetin Harun Masiku.

Tan Reader
Kalo ini sebuah film hollywood, pastilah si pemimpin tertinggi Taliban saat ini berada di Amerika dan menjadi pemimpin di badan khusus ATA (attack to afghan) yang menjodi biro khusus rahasia yang bahkan presidennya pun tidaka tahu keberadaan organisasi ini.

Pryadi Satriana
Seorang teman kirim pesan WA ke saya, “Pak Dahlan sudah nyebrang.” “Kiri”, teman lain menambahkan. Tulisan2 Pak DI tentang Taliban sepertinya ‘membenarkan’ pendapat mereka. Saya masih menunggu. Berharap semoga pendapat mereka itu tidak betul.

Mbah Mars
Mendengar kata Afghanistan biasanya kita kemudian ingat nama Jamaludin al-Afghaniy. Salah satu tokoh yg dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam. Menurutnya, di antara penyakit kronis umat Islam itu adalah absolutisme dan despotisme penguasa muslim. Nah, kira-kira kritik Al-Afghani ini masih relevan tidak dalam konteks Afghanistan sekarang ?

Rara Doko
Dulu rajin buka tulisan abah di FB via akun sdri iif turiah Sekarang nggak bisa,  kalau tulisan di FB itu bisa dibuka walau nggak punya kuota internet, jadi kalau boleh saran abah, mungkin tulisan abah bisa tetep di upload di FB tapi tidak di hari abah upload di disway Walaupun saya menduga ada itungan algoritma yg bisa di gunakan dari situs disway abah Tapi manfaat tulisan abah, yg secara global itu mungkin yg perlu dipertimbangkan Contohnya, saya suka kehabisan kuota internet, iseng menghabiskan waktu membaca ulang tulisan abah di FB sdri iif turiah.

(Visited 46 times, 1 visits today)

Komentar