Sabtu, 27 Februari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Titanium Megawati

Oleh Berita Hargo , dalam DI'SWAY , pada Rabu, 14 Agustus 2019 | 03:05 WITA
  Titanium Megawati - DI'SWay


Bu Mega memberi isyarat bahwa PDI-Perjuangan kan sudah tahu diri. Tidak mengganggu Jabar dan Banten. Kandangnya Pak Prabowo. Kok Jateng diganggu. Begitu kira-kira inti kalimat-kalimat beliau.

“Saya pun terpaksa menyerukan Jawa Tengah. Hayo! Bantengnya jangan hanya merumput terus. Asah tanduk kalian!” katanya. Hadirin kembali grrrr.

Beliau pun menyebutkan nama Puan Maharani. “Tahu nggak dia anak siapa?“ tanya Bu Mega saat kampanye di Jateng dulu. “Puan harus mendapat suara lebih 500.000,” tambahnya.

Tentu ini terkait dengan tipu-menipu tadi. PDI-Perjuangan akhirnya menjadi pemenang Pemilu. Puan Maharani terpilih menjadi anggota DPR dengan suara terbesar. Maka kali ini tidak akan mau lagi kalau Puan tidak jadi ketua DPR.

Begitu maksudnya.

Nama Prabowo sendiri mendapat tempat khusus di pembukaan kongres itu. Bukan saja di sebelah siapa ia didudukkan. Nama Prabowo disebut sampai lima kali dalam pidato satu jam lebih itu.

BACA  Pos Pengaduan Herrera

Di awal pidato pun nama Prabowo sudah disebut di kelompok ‘yang saya hormati’. Yakni setelah nama Presiden, Wapres Jusuf Kalla dan Wapres terpilih KH Ma’ruf Amin. Tidak ada lagi nama lain yang disebut.

Bu Mega perlu mengucapkan terima kasih pada kehadiran Prabowo. Yang, katanya, telah ikut menghangatkan kongres itu. Yang disambut grrrrr hadirin.

“Waktu saya bertemu yang heboh itu, sebenarnya saya hanya mengatakan… Mas.. apakah mau hadir kalau saya undang ke kongres,” ujar Bu Mega.

Hadirin gerrr lagi. Pak Prabowo pun berdiri dari kursinya. Agak lama. Sambil sedikit membungkuk. Dan menangkupkan dua telapak tangan di depan dadanya.

BACA  Naik Lagi

“Sekarang ini yang tidak diundang pun minta diundang. Begitulah kalau menjadi pemenang Pemilu,” guraunya.

Ups. Masih ada satu nama lagi yang disebut Bu Mega: Ahok. Yang juga hadir di kongres. Dengan jaket merah. Duduk di bagian tengah.

“Saya tidak mau panggil nama barunya…apa itu …,” kata Bu Mega sambil mengingat-ingat singkatannya. “Be… Ce.. Pe.. Basuki Cahaya Purnama. Sulit mengingatnya. Saya tadi sampai harus menghafal,” katanya.

“Saya tetap panggil Ahok sajalah. Kan namanya memang Ahok. Nama siapa pun… Aseng, Ahok.. Kalau sudah warga negara Indonesia ya Ahok-lah.”

Pidato itu begitu sering diselingi ekspresi tubuh dan wajah. Yakni saat Bu Mega lagi menyelingi pidatonya tanpa teks. Begitu ekspresif. Ekspresi merengut. Ekspresi mencep –yang menjadi ciri khasnya. Ekspresi kegembiraan. Kadang tertawa sampai terpingkal. Ekspresi memukul. Ekspresi menghindari pukulan. Sampai terlihat, satu kali, badannya kiprah –mirip ekspresi pak Prabowo saat debat capres dulu– jingkrak kecil menggambarkan gerak terlalu lega –setelah mengucapkan satu kalimat yang bernada telak.

BACA  Vaksin Nusantara (2)

Saya ingin ada pembaca yang meng ‘up load’ foto Bu Mega lagi mencep –agar tidak perlu menjelaskan apa arti mencep dalam bahasa Indonesia.

Selesai melihat YouTube itu saya berimajinasi. Membayangkan dari jauh: alangkah serunya perpolitikan di dalam negeri saat ini. Alangkah berdentingnya pertandingan antara baja dan titanium itu.

Karena itu sebenarnya tetap saja lebih baik saya tidak menuliskan ini. Agar tidak terkena serpihan baja itu.(Dahlan Iskan)

Laman: 1 2 3


Komentar