Minggu, 5 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tol Memelas

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Selasa, 23 November 2021 | 10:20 AM Tag: , , ,
  Tol Memelas - DI'SWay. Foto: Lamudi

Oleh : Dahlan Iskan

SETELAH ada jalan tol Jakarta-Surabaya, kawasan F tiba-tiba seperti daerah pedalaman nan jauh.

Dari Semarang: jauh.

Dari Solo: jauh.

Dari Surabaya: jauh.

Rombongan tim senam saya perlu waktu 8 jam dari Surabaya. Untuk tiba di Pati. Naik bus carteran.

Memang akan ada jalan tol baru: dari Semarang ke Kudus. Yang sekarang sedang dikerjakan. Khususnya yang Semarang-Sayung-Demak. Lebih khusus lagi yang Sayung-Demak. Sedang yang Semarang-Sayung harus mundur satu tahun. Akan hal yang Demak-Kudus perlu segera disusulkan.

Ruas Semarang (Kaligawe)-Sayung memang rumit. Panjangnya ”hanya” 10 Km tapi medannya berat. Tergolong yang terberat di Indonesia: tanah lembek, berbentuk tambak, dan jadi sasaran genangan air pasang dari laut (rob).

Maka untuk jalan tol sepanjang 10 Km itu diperlukan biaya Rp 10 triliun sendiri. Padahal ruas berikutnya, Sayung-Demak, 16 Km, hanya perlu biaya Rp 4,5 triliun.

Begitu sulitnya, ruas Semarang-Sayung itu memerlukan jutaan batang bambu. Untuk mengubah struktur tanah di bawah tol itu. Bambu itu dirangkai. Dihamparkan di atas tanah. Lalu ditimbun tanah. Dihampari lagi bambu yang sudah dirangkai. Ditimbuni tanah lagi. Dihampari lagi rangkaian bambu lagi. Ditimbuni tanah lagi. Tiga lapis.

Cara seperti itu baru pertama dilakukan di Indonesia. Proyek tol memang telah melahirkan kemampuan teknik yang sangat besar di lingkungan insinyur sipil kita.

Ruas tol ini sekaligus akan menjadi tanggul laut. Agar rob terbendung hanya sampai di jalan tol itu. Dengan demikian kawasan di selatan jalan tol akan kembali bisa menjadi tanah produktif.

Maka kawasan Pati dan sekitarnya masih harus sabar untuk bisa keluar dari isolasi. Khususnya bagi kendaraan kecil. Sedang bagi kendaraan besar ada aturan tersendiri.

Itulah sebabnya mengapa truk-truk besar masih tetap memadati pantura. Biar pun sudah ada jalan tol.

Dugaan awal: tol terlalu mahal.

Dugaan lain: tanjakan jalan tol di Bawen terlalu panjang dan tinggi.

Faktanya: ODOL memang dilarang masuk tol.

ODOL itulah yang kini memadati jalur pantura.

ODOL itu, Anda sudah tahu, sebenarnya hanya singkatan. Bukan nama kendaraan: over dimension over load.

ODOL telah dianggap sebagai biang kerok kerusakan jalan. “ODOL itu telah merugikan negara sampai Rp 43 triliun setahun,” ujar sumber di kementerian PUPR. Baca sendiri di website kementerian itu.

Membuka isolasi ternyata bukan hanya urusan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dan Papua. Juga di Jawa sendiri. Kenikmatan terbukti telah menimbulkan tuntutan kenikmatan baru.

“Kami juga berjuang mengatasi isolasi Blora,” ujar Arief Rohman, sang bupati. Ia ingin ada jalan tembus dari Ngawi ke Blora. Jangan lagi hanya lewat Padangan (Bojonegoro).

“Kepresnya sudah terbit,” ujar sang bupati. Yakni membangun jalan baru dari Randublatung langsung ke Ngawi. Hanya 26 Km.

“Berarti harus membangun jembatan baru melintasi Bengawan Solo?” tanya saya.

“Jembatannya sudah ada,” katanya.

Jembatan itu masih baru. Yang membangun Bupati Ngawi (waktu itu) Kanang. Ia memang bupati yang berprestasi. Dua periode. Dari PDI-Perjuangan.

Berarti jalan baru Ngawi-Randublatung itu sudah di depan mata. Itu juga akan memudahkan Universitas Gadjah Mada: ada 1000 hektare hutan jati yang diserahkan ke UGM sebagai hutan penelitian di kanan-kiri jalan tembus itu nanti.

Yang tidak memerlukan Kepres adalah jalan tembus ke arah timur. Bupati Blora berhasil merayu Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah: untuk membangun jalan tembus antara Blora-Bojonegoro. Sudah terbangun. Kira-kira 10 Km di selatan Padangan. Bupati Bojonegoro yang membangunnya. Yang membiayainya. Termasuk membangun jembatan baru yang melintasi Bengawan Solo di situ.

Itu bukan saja karena kedua bupati sama-sama kader PKB. Tapi lebih karena Bojonegoro ”tahu diri”: Bojonegoro mendapat bagi hasil yang besar dari migas. Blora tidak. Padahal di bawah tanah sana sumber minyak itu mencakup wilayah Blora. Hanya saja pengeborannya dilakukan di wilayah Bojonegoro. Peraturan bagi hasil menyebutkan: Kabupaten yang menjadi lokasi pengeboran yang mendapat bagi hasil.

Bupati Bojonegoro kelihatannya memilih membangunkan saja jalan dan jembatan itu. Daripada peraturannya diubah.

“Apakah untuk mendapat jembatan baru itu Anda sampai mengancam Bupati Bojonegoro?” tanya saya.

“Tidak. Saya memilih bersikap memelas. Seperti orang yang perlu disantuni,” jawabnya.

Bupati Arief memang tahu diri: hanya minta jalan tembus. Bukan jalan tol seperti di Demak.

Tapi, kelihatannya, Arief akan sering bersikap seperti memelas kepada menteri PUPR: agar jalan tembus ke Ngawi itu segera dibangun.

Jangan-jangan juga, akan banyak bupati dari luar Jawa yang tiba-tiba bersikap memelas, meniru Arief. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Manusia Musnah

RipCord
Klo saya mikirnya ga susah2 amat lah.. Yg terakhir disinggahi kasih waktu tambahan sehari atau lebih lama. Biar ga tersinggung.. Ada yg dapet pertama, tapi ada yg dapet hari lebih lama. Tahun/bulan depan klo mudik lagi, ya tinggal dibalik.  Hehehe

Andri Wijayanto
Bapak kandung saya kelahiran Sragen, bapak mertua saya kelahiran Ngawi. Saya belum pernah ke Trinil maupun Sangiran. Usia saya hampir 35. Mumpung sebelum dianggap lebih keterlaluan, saya rencanakan mampir ke sana saat mudik.

Amat
Kalau ditanya “Kapan manusia musnah?” Saya belum bisa menjawab. Tapi saat ini ada jenis manusia modern yang sudah mulai punah. Manusia jujur. Wikwikwikwik Manusia jenis ini sekarang makin sulit dicari. Padahal, mereka banyak diperlukan untuk jadi penegak hukum, penguasa, pengusaha, dll. dalam semua aspek kehiduoan.

dari bahasa Yunani homos yang berarti sejenis, erectus artinya tegak. Homo erectus artinya sama-sama tegak. Kalau sama-sama tegak ya gak akan bisa jadi lh. Wkwkwkwk Kabuuuuur

Mbah Mars
Sebagai mahasiswa Arkeologi, Mohak, Jabrik dan Jambul mendapat tugas lapangan dr dosennya. Mereka dikirim menuju gua Gebol. Di gua tsb diduga ada jejak2 manusia purba. Gua Gebol memang terpencil. Namun para petani sdh mengolah tanah di sekitarnya. Mereka sering berteduh di gua tsb. Di hari pertama, para mhs tsb sdh berhasil menemukan jejak manusia berupa deretan gigi2 orang yg tdk rapi. Jambul: “Kita bakal kondang. Bahkan bisa sejajar dg arkeolog Belanda yg menemukan situs Trinil. Ayo kita semangat mengais. Saya yakin ada kerangka manusia purba” Jabrik: “Iya. Temuan kita ini besuk pasti bisa dipublikasikan di jurnal Q1 Scopus” Mohak:”Masa depan kita terbuka lebar. Cerah. Penemu gading gajah saja langsung jadi pegawai situs Trinil apalagi kita sbg penemu gigi dan rangka manusia purba. Tiga sekawan itu semangat mengaduk-aduk gua. Tiba2 terdengar suara orang dari mulut gua. “Hoe…siapa di situ ? Apakah ada yg menemukan gigi palsu saya”, kata seseorang yg bercaping. Mohak, Jabrik, Jambul: @#$%^&*€£¥₩!

Pryadi Satriana
Satu2nya bangsa yg mempunyai catatan yg rinci mengenai ‘genealogy’ (ilmu silsilah) adalah bangsa Yahudi. Mengapa? Karena Kitab Suci mereka – Tanakh – adalah juga “kitab sejarah”, mencatat bagaimana Allah “hadir” di tengah2 mereka melalui para nabi. Mereka punya catatan2 yg rinci, misalnya: Ishaq wafat th 1886 SM, Yakub wafat th 1859 SM, Yusuf wafat th 1805 SM, Musa lahir th 1526 SM, bangsa Israel melintasi Laut Merah th 1446 SM, setelah 40 th melintasi padang gurun “dibimbing” Allah dg ‘tiang awan’ di waktu siang dan ‘tiang api’ di waktu malam dan diberi makan roti surgawi yg disebut ‘manna’, bangsa Israel memasuki Kanaan dipimpin oleh Yoshua pd th 1406 SM, Raja Daud memerintah th 1010-970 SM, pada masanya Daud banyak menggubah kidung2 pujian yg disebut Mazmur, disebut “Mazmur Daud” (muslim menyebut Kitab Zabur “diturunkan pada” Nabi Daud, padahal Daud bukanlah nabi, tapi seorang Raja, nabi yang mengurapi Daud menjadi raja adalah nabi Samuel). Dari ‘genealogy’ bangsa Yahudi itulah angka 8.000 th yang lalu itu, setelah dirunut sampai Kitab Kejadian, kitab pertama lima kitab Taurat. Sehat selalu. Salam.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Komentar