Rabu, 30 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tolak Pemasungan, Puskesmas Kabila Buka Posyandu Khusus Tangani ODGJ

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 31 Desember 2019 | 23:05 WITA Tag:
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Penanganan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Gorontalo sejauh ini marak berakhir di palang pasung. Namun, hal itu tidak berlaku lagi di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Sebuah lompatan pelayanan dibuat Puskesmas Kabila dengan membuka Posyandu yang secara profesional menangani pasien penderita gangguan jiwa.

Posyandu jiwa ini telah resmi diluncurkan pada November 2019 lalu dan beroperasi perdana pada 21 Desember 2019. Penyelenggaraan layanan perdananya ikut melibatkan lintas sektor di lingkup Pemerintah Kabupaten Bonbol, juga unsur TNI.

Kabar dibukanya layanan ini pun  segera tersebar. Warga yang memiliki keluarga dan handai tolan yang tergolong ODGJ mendapat harapan baru. Mereka berharap kehadiran posyandu jiwa di Kabila menjadi solusi penanganan pasien ODGJ tanpa pasung.

Guna mengetahui lebih gamblang terkait layanannya, Gorontalo Post pun berkunjung langsung ke  Posyandu Jiwa di Kabila, Senin (30/12/2019). Lokasi, bangunan beserta situasi ruangannya tampak sederhana, namun terjamin kenyamannya.

BACA  Pemprov dan DPRD Gorontalo Sepakati Rancangan KUA PPAS APBD 2021

Para petugas setempat sedang sibuk-sibuknya melatih dan menghibur para ODGJ. Rata-rata mereka adalah petugas kesehatan dengan basic khusus penanganan ODGJ.

Secara umum, pasien ODGJ yang kini ditangani Posyandu Jiwa Kabila terbagi dalam pasien ODGJ dengan intensitas gangguan jiwa ringan, sedang dan berat (Schizophrenia). Upaya penanggulangan dilakukan sejak dari menimbang dan mengukur fisik, pemantauan gejala, pemberian nutrisi dan vitamin, serta pengendalian terapi dan perawatan.

Selain itu, pasien juga diajarkan tentang cara makan dan mandi yang benar hingga berdandan rapi. Yang lebih istimewa lagi, pasien ODGJ kedepan akan dilatih agar bisa hidup mandiri. Mereka akan dibekali keterampilan dan kreatifitas khusus.

Kepala Puskesmas Kabila Nurdin A. Dali mengatakan, Posyandu Jiwa adalah langkah pihaknya menyikapi tingginya angka estimasi ODGJ di Kabila. Tercatat dari sekitar 23.400 jiwa di Kabila, ditemukan sekitar 62 kasus ODGJ.  Pasien terbanyak adalah pasien laki-laki dengan jumlah 34 orang.

BACA  Pemprov Gorontalo Siap Dukung Pembangunan Kantor Sekretariat MUI

“Kendati demikian jumlah itu jika dihitung sesuai Standar Pelayanan Masyarakat secara Nasional yang ada diatur dalam PMK Nomor 4/2019, justru hanya 28 pasien saja dengan gangguan jiwa berat. Sisanya masih dalam skala ringan,” ujar Nurdin.

Nurdin menyatakan pula, Posyandu Jiwa punya target khusus membentuk kebutuhan pemulihan atau setidaknya membangun kemandirian dan produktivitas pasien ODGJ. Mereka juga akan diberdayakan agar tetap bisa eksis di tengah-tengah masyarakat. Namun tentunya, peran dan dukungan dari masyarakat, terutama keluarga pasien sangat berarti. Masyarakat dan keluarga harus bisa memperlakukan ODGJ dengan baik.

“Posyandu Jiwa ini juga menjadi bagian rencana strategi kami kedepan untuk membangun desa sehat jiwa adan mewujudkan bebas pasung,” katanya.

Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia Gorontalo Yuniar Mansye menyebutkan, berdasarkan pedoman, terdapat lima hal yang patut disiapkan untuk eksistensi Posyandu Jiwa. Pertama pendataan ODGJ.

Kedua, ketersediaan SDM yang terdiri 2 orang perawat terlatih basic Course CMHN dan satu orang orang dokter terlatih. Ketiga, harus adanya 4 sampai 11 kader kesehatan jiwa.

BACA  BPPHLHK Komit Cegah Kerusakan Lingkungan Hidup

Selanjutnya, keempat, musyawarah masyarakat desa untuk menetapkan posyandu. Kelima, sumber dana, sosialisasi, pelaksanaan dan monitoring.

“Semua itu menjadi hal yang perlu diperhatikan saat pelaksanaan Posyandu Jiwa. Termasuk soal pelayanannya seperti timbang dan ukur, pemantauan gejala, pemberian nutrisi dan vitamin, pengendalian terapi dan perawatan, peningkatan keterampilan dan perawatan diri, juga peningkatan keterampilan hidup dan kreatifitas,” kata Yuniar.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Bonbol Rahayu Tulen didampingi Kasie PTM dan Keswa Anna Mardiyah menyatakan, saat ini total ODGJ di 20 Puskesmas di Bonbol mencapai 287 jiwa. Khusus di Kabila, data menunjukan pasien laki-laki menempati jumlah terbanyak. Namun secara umum, menurut Rahayu, kaum perempuan lebih potensial menjadi ODGJ karena rentan terhadap kekerasan.

“Nah, kita berharap lewat Posyandu Jiwa ini bisa menjadi solusinya,” kata Rahayu. (gp/hg)


Komentar