Selasa, 11 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tomat Anjlok, Petani Jual Langsung ke Pasar

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Rabu, 28 September 2016 | 12:37 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Harga bahan pangan tomat di pasaran, cenderung stagnan di posisi terendah. Di musim panen ini, misalnya, komoditi hasil pertanian hortikultura itu bahkan harganya tak banyak menguntungkan petani. Di tingkat petani, harga tomat tinggal dijual 2 ribu per kilogram, bahkan cenderung turun.

“Untuk panen kali ini, harganya dijual Rp 16 ribu per tas ukuran 7 sampai 8 kilogram. Harga ini sangat rendah dibanding pasaran normal Rp 40 hingga 50 ribu per tas,” kata Rico, petani hortikultura asal Kelurahan Hepuhulawa, Limboto, Selasa (27/9).

BACA  Bersua di Perbatasan, Ini Kesepakatan Forkopimda Gorontalo dengan Sulut 

Petani musiman ini mengaku memilih menjual langsung tomat hasil panen miliknya ke pasar agar masih punya harga. “Biasanya kalau dibeli oleh pedagang langsung di kebun harganya malah lebih rendah.

Makanya kita memilih menjual langsung tanpa melalui peranta pedagang, hitung-hitung memutus satu mata rantai pasar,” tambah Rico. Rico mnambahkan, dengan posisi harga seperti tak banyak memberikan keuntungan bagi petani seperti dirinya.

BACA  Gubernur Minta Warga di Pasar Murah Pohuwato Tetap Patuhi Prokes

“Hitungan kita, dengan harga seperti ini tiga empat kali panen baru bisa menutupi biaya produksi. Karena itu kita tinggal berharap hasil panennya tetap baik seperti ini,” tutur Rico. Ia pun menyebut biaya produksi yang dikeluarkan untuk setiap musim tanam, pengolahan lahan, perawatan, pengadaan bahan kebutuhan pendukung seperti bambu sampai panen.

Total biayanya bisa mencapai Rp 3 hingga 4 juta untuk luas lahan sekitar seperempat hektar. “Dengan harga pengambilan hanya begini, minimal empat kali panen baru bisa balik modal produksi. Itu pun kalau produksinya tetap baik,” tukasnya lagi.

BACA  LSPPPA Provinsi Gorontalo Resmi Diluncurkan

Ia pun berharap, ada semacam jaminan pasar dari pemerintah untuk bisa mengambil komoditi hasil pertanian dengan harga yang jauh lebih baik. Pasalnya, di setiap musim panen melimpah, harga dipastikan anjlok.

“Orang menyebutnya hukum pasar, tapi sebagai petani yang merasakan langsung bagaimana susahnya bercocok tanam tetap mengharapkan ada perbaikan harga,” pungkasnya.(dix/hargo)


Komentar