Selasa, 14 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tradisi Malam Qunut, Belum Masuk Kalender Wisata

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 2 Juni 2018 | 14:00 WITA Tag: ,
  


 

BATUDAA, Hargo.co.id – Tradisi unik pertengahan ramadan hanya ada di wilayah Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Tradisi masyarkat berupa makan kacang dan pisang bersama-sama ini dikenal dengan malam qunut atau malam ke 15 ramadan. Sayangnya, tradisi yang selalu ramai itu, belum dimanfaatkan pemerintah sebagai salah satu destinasi wisata.

17 iven pariwisata Gorontalo yang dilaunching Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama Kementerian Pariwisata baru-baru ini, tidak sama sekali melirik malam qunut Batudaa sebagai salah satu agenda wisata Gorontalo. Hanya ada iven pariwisata yang terkait ramadan, yakni festival beduq dan malam tumbilotohe.

BACA  Seorang Ibu Hamil di Gorontalo Terpapar Corona

“Ini kan sudah tradisi, sangat ramai kalau malam qunut, harusnya lebih dipopulerkan lagi oleh pemerintah,”kata Rahmat, masyarakat setempat.  Pantauan Gorontalo Post, malam qunut batudaa bak pasar malam. Yang paling dominan adalah pedagang pisang dan kacang.

Harganya sangat murah, bahkan sampai setengah harga dari harga pasaran. Para pedagang pisang dan kacang yang berasal dari luar Batudaa itu memang sengaja menjual murah daganganya, untuk ikut menyemarakkan malam qunut.

Tradisi ini sudah ada sejak lama, beragam versi terkait malam qunut di Batudaa dan kaitanya dengan makan pisang dan kacang.

BACA  Demokrat Merapat, Koalisi Besar Siap Usung Hamim Pou

Selain makan pisang dan kacang beramai-ramai, lokasi perayaan tradisi malam qunut yang dipusatkan di Lapangan Porbat Batudaa juga bak pasar malam. Banyak kegiatan menarik yang digelar remaja masjid setempat, seperti tarik tambang dan lari karung.

Gubernur Rusli Habibie diwakili Sekda Provinsi Gorontalo Anis Naki mengatakan, telah menjadi catatan sejarah bahwa Gorontalo merupakan daerah yang terkenal kental akan adat serambi madinah yang memiliki semboyan sakral, adat yang bersendikan syara, syara yang bersendikan Al-Quran.

“Perayaan gema Qunut Ramadan 1439 H ini merupakan bentuk konkrit dari semboyan sakral tersebut, dimana malam Qunut yang merupakan ekspresi masyarakat Gorontalo dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qadar dibalut oleh masyarakat dengan tradisi Gorontalo yang masih merujuk dan berpedoman pada Al-Quran,” ujarnya.

BACA  Menangkan Golkar di Tiga Pilkada, Tugas Syarif Mbuinga Cukup Berat

Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Gorontalo sangat menudukung pelestarian tradisi ini. Ia juga berharap kedepan lebih dikemas menarik sehingga mengundang wisatawan. Hal itu sahuti Sekda Kabupaten Gorontalo Hadijah Tayeb yang juga menghadiri tradisi malam qunut. “Ke depan pemerintah akan berupaya agar pelaksanaan tradisi malam Qunut ini bisa semakin semarak dan lebih menarik,”ujar Hadijah. (tr58/hg)


Komentar