Rabu, 30 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tradisi Tumbilatohe Digelar Penuh Kesederhanaan

Oleh Rendi Wardani Fathan , dalam Advertorial Gorontalo , pada Selasa, 19 Mei 2020 | 21:30 WITA Tag: , ,
  Gubernur Gorontalo Rusli Habibie tengah menyalakan lampu botol dalam rangka merayakan tradisi tahunan, Tumbilatohe, Selasa (19/5/2020. (Foto : Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Pemprov Gorontalo melangsungkan tradisional tumbilatohe secara sederhana.

Ya, perayaan tahun ini hanya diisi dengan doa dipimpin seorang imam dan turut dihadiri oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie beserta ibu Idah Syahidah. Acara yang berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (19/5/2020) itu dilanjutkan dengan pemasangan secara simbolis lampu botol yang sudah diletakkan di gapura adat atau alikusu.

“Tradisi ini biasa dilaksanakan tiga hari sebelum idulfitri. Tahun ini masih dalam suasana Covid-19 sehingga semua aktivitas menghimpun orang banyak tidak dilakukan. Tumbilatohe juga tidak dilaksanakan besar-besaran, kita sebagai daerah adat hanya melaksanakan di rumah masing-masing dengan kesedarhanaan,” ucap Plt Kepala Biro Pemerintahan dan Kesra Asri Banteng.

BACA  Pergub 41 Jangan Hanya Jadi Pemanis Saja

Meski tidak dilaksanakan secara meriah, Asri berharap makna dari tradisi adat ini tetap menyala di dalam hati warga Gorontalo. Tumbilatohe selain sebagai luapan kegembiraan menyambut malam lailatulkadar juga dimaknai sebagai momentum untuk mengeluarkan zakat fitrah.

BACA  Keluhan Tentang Listrik Masuk ke DPRD Kabgor

“Intinya kita berdoa. Hari ini tumbilatohe juga dilaksanakan di rumah jabatan wakil gubernur dan sekda. Mudah-mudahan ini bisa diikuti oleh masyarakat di rumah masing-masing,” tambahnya.

Tumbilatohe atau malam pasang lampu merupakan ritual unik warga Gorontalo di malam 27-29 Ramadan. Warga menyalakan lampu tradisonal yang terbuat dari bekas botol minuman berenergi. Botol diisi minyak tanah dan diberi sumbu pada bagian atas.

BACA  Sensus Penduduk, Momen yang Harus Disukseskan

Tradisi tahunan ini awalnya digunakan  untuk menerangi halaman rumah dan jalanan bagi warga yang ingin melaksanakan ibadah di masjid-masjid untuk meraih malam lailatul qadar. Seiring perjalanan waktu, tradisi ini semakin berkembang dan dijadikan sebagai festival yang menarik minat wisatawan lokal dan manca negara.

Namun, ditengah pandemi Covid-19, perayaan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana, perayaan kali ini tanpa festival bedug dan festival tumbilatohe.(adv/rwf/hg)


Komentar