Sabtu, 22 Februari 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tragedi Wisatawan dalam Letusan Gunung Pulau White di Selandia Baru

Oleh Mufakris Goma , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 11 Desember 2019 Tag:
  

Hargo.co.id – Baru beberapa hari lalu Barbara Barham berbicara dengan putri dan menantunya, Lauren, 32, dan Matthew Urey, 36. Pasangan suami istri itu sedang menikmati bulan madu di belahan selatan bumi. Jauh dari Barham yang tinggal di Richmond, Virginia, AS.

Barham senang dan sedikit iri. Saat warga AS dilanda musim hujan, pasangan tersebut berpesiar di Samudra Pasifik. Menikmati suasana Natal yang berbeda dari biasanya. ”Dia (Lauren, Red) berkata akan pergi ke gunung berapi,” ungkap Barham kepada Washington Post.

Saat dengar cerita itu, suami Barham berkelakar. ”Semoga saja mereka tak mengunjungi gunung berapi aktif.” Begitu ujar sang suami. Saat itu Barham hanya tertawa. Dia tak bertanya apakah gunung yang akan dikunjungi benar-benar berbahaya. Seingat dia, Lauren atau Matthew tak khawatir dengan kunjungan ke Pulau White.

Hal itu berubah saat dia mengecek rekaman telepon. Telepon tersebut datang dari besan. Ibu Matthew. Kata Matthew, dirinya dan Lauren mengalami luka bakar karena gunung yang dikunjungi meletus. Sang menantu ingin menelepon Barham, tapi kesulitan karena luka bakar parah di tangan. ”Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya bahkan tidak bisa menangis,” ungkapnya.

Pulau White alias Whakaari merupakan salah satu tujuan turis yang cukup eksklusif. Pulau tersebut sebenarnya puncak sebuah gunung berapi. Sebesar 70 persen bagian gunung itu berada di bawah laut.

Pulau tersebut dibeli pemain saham George Raymond Buttle pada 1936. Pulau itu masih dimiliki Buttle Family Trust, sedangkan White Island Tours mengelolanya sebagai atraksi wisata.

Banyak turis yang tertantang untuk mengunjungi Pulau White karena statusnya sebagai gunung aktif. Gunung tersebut meletus berkali-kali sejak 2011. ”Pulau White adalah salah satu gunung paling aktif di Selandia Baru,” ujar Jan Lindsay, profesor di University of Auckland, kepada BBC.

Gunung Whakaari juga meletus pada 2016, tapi tidak melukai siapa pun. Kebanyakan letusan gunung itu masuk kategori freatik. Letusan yang disebabkan magma bersentuhan dengan air laut.

”Karena itu, letusan yang terjadi tak mengeluarkan banyak magma. Lebih ke arah letusan abu dan gas panas,” ungkap Ben Kennedy, pakar vulkanologi di University of Canterbury.

Saat bencana vulkanik itu terjadi, 47 turis berada di pulau tersebut. Sebanyak 30 orang merupakan turis dari kapal pesiar Ovation of the Seas milik Royal Caribbean. Pemerintah sudah mengonfirmasi bahwa enam orang meninggal akibat kejadian tersebut. Sebanyak delapan orang lainnya dilaporkan hilang.

”Kami tidak bisa pastikan seratus persen. Namun, kami percaya bahwa tidak ada yang selamat di sana,” ujar Wakil Komisioner Kepolisian Selandia Baru John Tim kepada Agence France-Presse.

Tim penyelamat belum berani masuk ke pulau tersebut. Suhu tinggi, awan abu, gas beracun, dan potensi letusan susulan membuat aparat tak mau mengambil risiko. Peluncuran pesawat tanpa awak untuk memeriksa kadar racun dan melacak korban gagal karena angin yang cukup kencang.

*Berita ini juga disiarkan oleh jpnn.com pada edisi 11 Desember 2019,