Sabtu, 27 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



UEA Bantah Meretas Qatar yang Berujung Pemblokiran

Oleh Aslan , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 19 Juli 2017 | 04:00 AM Tag: ,
  

Hargo.co.id  – Dalam edisi Minggu (16/7), Washington Post menyebut Uni Emirat Arab (UEA) sebagai dalang di balik peretasan situs media dan media sosial pemerintah Qatar yang berujung isolasi negara tersebut. Kemarin (17/7) Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash membantah keras laporan itu.

”Berita Washington Post bahwa kami berada di balik peretasan situs media dan media sosial pemerintah Qatar sama sekali tidak benar,” tegas Gargash kepada Chatham House di Kota London, Inggris. Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang menjadi dasar pemberitaan Washington Post, menurut politikus 58 tahun itu, juga tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mei lalu Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, emir alias pemimpin tertinggi Qatar, berbicara tentang Hamas dan Iran. Ketika itu dia mengapresiasi positif gerakan Hamas di Jalur Gaza. Dia juga menyebut Iran sebagai salah satu kekuatan Islam. Kutipan kalimat tokoh 37 tahun tersebut langsung tersebar luas. Qatar pun langsung dicap sebagai negara pendukung terorisme.

Keesokan harinya situs Qatar News Agency langsung diretas. Diduga kuat, pemicunya adalah ucapan Syekh Al Thani pada 23 Mei tersebut. Setelah itu, Qatar langsung meluruskan paparan sang pemimpin tertinggi. Qatar menegaskan bahwa ucapan yang kadung dikutip dan tersebar ke seluruh penjuru dunia tersebut tidak benar. Namun, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan UEA kadung murka.

Per 5 Juni Saudi dan tiga sekutunya langsung memblokir seluruh perbatasan mereka dengan Qatar. Padahal, itu merupakan satu-satunya jalur darat bagi Qatar. Zona udara dan zona laut Saudi serta tiga sekutunya juga lantas ditutup bagi Qatar. Sampai sekarang, pengucilan Qatar masih berlangsung. Saudi dan tiga sekutunya hanya mau berdamai jika Qatar menuruti 13 syarat yang mereka ajukan.

Namun, karena merasa sebagai korban fitnah dan embargo, Qatar berusaha melawan. Karena tak bisa menawar atau menolak 13 syarat damai itu, Doha mengajak Saudi dan tiga sekutunya untuk berunding. Dengan demikian, mereka bisa membahas persyaratan itu lebih lanjut. Tapi, Saudi menegaskan bahwa 13 syarat tersebut sudah mutlak. Tidak bisa ditawar dan tidak bisa dirundingkan lagi.

Belakangan, menurut Gargash, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) sedang mempertimbangkan keanggotaan Qatar. Jika tak mau berubah, Qatar terancam didepak dari GCC. ”Pesan kami sudah jelas. Anda tidak bisa menjadi bagian dari organisasi regional yang mengutamakan kerja sama keamanan dan hubungan saling menguntungkan jika Anda tidak serius mewujudkan keamanan,” katanya.

Kepada Qatar, dia kembali menegaskan bahwa Saudi serta tiga sekutunya tidak menginginkan penggantian emir. ”Kami hanya menginginkan perubahan sikap, bukan perubahan rezim. Anda tidak bisa menjadi sekutu kami sekaligus pendukung Al Qaeda,” tegas Gargash. Sampai sekarang, Qatar tetap membantah keras tudingan Saudi dan tiga negara Islam lainnya itu. (*/AFP/Reuters/hep/c11/any/hg)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar