Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Uji Coba Misil Korea Utara “Gatot”

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Senin, 17 April 2017 | 11:24 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id – Situasi keamanan di Semenanjung Korea belum menentu. Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memperoleh informasi bahwa uji coba misil Korea Utara gatot alias gagal total. Namun, negara totaliter pimpinan Kim Jong-un tersebut masih siap menguji coba nuklir.

Misil yang diuji coba kemarin meledak 4-5 detik setelah diluncurkan. Sehari sebelumnya, dalam perayaan peringatan ulang tahun ke-105 mendiang pendiri Korut Kim Il-sung atau biasa disebut Day of the Sun, Korut menggelar parade militer besar-besaran. Jong-un mengundang jurnalis internasional dan memamerkan misil balistik interkontinental (ICBM) jenis baru yang tengah dikembangkan. “Misil itu meledak seketika (setelah diluncurkan, Red).” Demikian bunyi pernyataan dari Departemen Pertahanan AS, mengonfirmasi uji coba misil Korut yang dilakukan di Sinpo, Provinsi South Hamgyong, Korut.

Menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), Korut sedang menguji coba misil jenis baru. Tidak diketahui dengan pasti apakah itu misil jarak menengah atau jarak jauh. Sesaat setelah uji coba tersebut, Diplomat Senior Tiongkok Yang Jiechi langsung berbicara via telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson untuk mendiskusikan situasi di Semenanjung Korea.

BACA  34 Jam Tertimpa Reruntuhan, Pria Lansia Ini Selamat dari Gempa Turki

Korut telah membuat negara-negara tetangganya ketir-ketir beberapa hari ini. Pada Kamis (13/4), gambar satelit di Punggye-ri, Kilju County, Provinsi North Hamgyong, menunjukkan bahwa Korut siap melakukan uji coba nuklir keenam. Bahkan, Tiongkok yang menjadi sekutu utama Korut menyatakan bahwa bentrok bisa terjadi kapan saja karena ketegangan meningkat.

Untuk menekan agar Korut tak macam-macam, Tiongkok menghentikan impor batu bara dari negara tersebut sejak akhir Februari. Kontainer batu bara yang telanjur datang telah dikembalikan. Korsel kini berada dalam posisi siaga. Sebab, mereka bisa menjadi korban pertama serangan Korut. “Korut memamerkan berbagai jenis misil dalam parade militer kemarin (Sabtu) dan berani menembakkan misil balistik hari ini (kemarin). Itu merupakan unjuk kekuatan yang mengancam seluruh dunia.” Demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Korsel.

BACA  Diguncang Gempa dan Tsunami, Bagaimana Kondisi WNI di Turki?

Selama ini, Pyongyang memang memiliki kebiasaan untuk menguji coba misilnya pada momen-momen besar. Termasuk saat perayaan Day of the Sun dan tanggal-tanggal penting lainnya. Uji coba juga dilakukan menjelang atau saat kedatangan petinggi AS ke Korsel maupun Jepang.

Nah, saat Pyongyang menguji coba misilnya yang gagal itu, Wakil Presiden AS Mike Pence sedang berada di atas pesawat menuju Seoul, Korea Selatan. Rencananya, Pence berkunjung ke Jepang, Indonesia, dan Australia. Hari ini Pence bertemu dengan Presiden (sementara) Korsel Hwang Kyo-ahn untuk membicarakan masalah Korut dan sistem pertahanan misil AS terminal high altitude area defense (THAAD) yang dipasang di negara tersebut.

BACA  Dianggap Berbahaya, 89 Perusahaan Tiongkok Masuk Daftar Hitam AS

“Saya pastikan di bawah kepemimpinan Presiden Trump, tekad kami tidak pernah sekuat ini. Komitmen kami atas aliansi bersejarah dengan orang-orang berani dari Korsel tidak pernah lebih kuat dari ini,” ujar Pence saat menghadiri perayaan Paskah dengan pasukan AS di Korsel.

Secara terpisah, penasihat Pence mengungkapkan bahwa sangat mungkin, misil yang diluncurkan Korut berjarak me­nengah. Meski begitu, penasihat tersebut menyampaikan bahwa kemungkinan Korut bakal menguji coba senjata nuklirnya masih besar. Sebab, Kim Jong-un telah berkoar bahwa dirinya akan mengetes misil dan nuklir. Jika misil sudah diluncurkan, giliran senjata nuklir yang diuji coba.

Sejak melakukan uji coba nuklir pada 2006, Pyongyang mendapatkan sanksi tegas dari PBB. Namun, hal itu tidak membuat negara yang paling terisolasi di dunia itu jera. Mereka terus mengembangkan senjata pemusnah masalnya. (Reuters/AFP/sha/c16/sof)


Komentar