Selasa, 26 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Upia Karanji Laris Manis, Pendapatan Perajin Meningkat

Oleh Aslan , dalam Ekonomi , pada Jumat, 5 Januari 2018 | 11:08 WITA Tag: ,
  


GORONTALO, Hargo.co.id – Kebijakan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan upia karanji khas Gorontalo ternyata berimbas positif terhadap pendapatan para pengrajin upiah itu sendiri.

Sejak diberlakukan kebijakan itu, hingga kini, penjualan upiah karanji pun terus meningkat. Meski tak menyebut berapa pendapatan yang diperoleh dalam sepekan ini, namun para perajin mengakui, permintaan upiah karanji saat ini meningkat tajam.

Hadijrah Abdullah (63) perajin di Desa Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, mengatakan, permintaan dari upiah karanji saat ini meningkat drastis pasca kebijakan Gubernur Provinsi Gorontalo dua periode dikeluarkan. “Alhamdulillah berkat kebijakan itu, permintaan upiah karanji naik,” ungkapnya.

Harga dari upiah karanji tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya. “Harganya dari 50 ribu sampai 200 ribu,” kata Hadijrah. Ia juga menuturkan, karena pembuatannya yang murni menggunakan tangan, maka waktu pembuatan upiah karanji cukup lama atau memakan waktu.

“Seminggu bisa buat dua hingga tiga upiah karanji,” ujarnya. Selain upiah karanji, Hadijrah juga membuat beberapa anyaman seperti pet, gantungan kunci, kipas dan lain sebagainya.
Hadijrah sudah mulai menganyam sejak umur sembilan tahun.

“Kakek dan orang tua saya juga hobi menganyam, makanya sudah turun temurun,” kata Wanita yang sering disapa Ta Nou ini. Selain itu, istri dari Edi Ibrahim (75) ini juga sudah mendapat banyak penghargaan berkat hasil-hasil kreasi yang ia buat.

“Saya juga pernah dapat penghargaan dari Presiden Soeharto,” ungkapnya sambil memperlihatkan foto-foto serta beberapa piagam yang ia peroleh.

Tak berhenti disitu, ternyata perempuan asli gorontalo tersebut juga sangat berjiwa sosial. Ia melatih para anak muda di Desanya dan membuat sebuah arisan dengan para pengrajin-pengrajin yang ia latih tersebut. “Hasilnya, buat biaya pernikahan mereka,” terang Hadijrah.

Sudah banyak para muda-mudi yang ia latih akhirnya berhasil menikah. Bahan Upiah Karanji itu sendiri adalah Rotan Mintu, yang merupakan tanaman liar di dekitar hutan dan sungai. “Anak-anak saya yang bertugas mencari bahan,” ungkapnya.(tr-58/dan/hg)


Komentar