Rabu, 20 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Usai Ibadah, Pohon Natal Sabut Kelapa Jadi Tempat Selfie

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Rabu, 27 Desember 2017 | 12:24 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id MARISA- GP – Ada yang menarik dari perayaan natal di Kota Gorontalo. Pasalnya, pohon natal raksasa yang dibuat oleh warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pohuwato menjadi objek para jemaat usai melaksanakan ibadah. Hampir rata-rata jemaat usai melaksanakan ibadah mengabadikan dirinya di pohon Natal setinggi 5 meter ini. Ada yang selfie dan ada pula yang minta di foto oleh sanak keluarga maupun jemaat lainnya.

Dari informasi yang berhasil dirangkum, pohon natal ini merupakan satu-satunya pohon Natal berbahan sabut kelapa ini dipergunakan di Gereja Katolik Indonesia. Gereja tersebut yakni Gereja Katolik st Chtistophorus Gorontalo, di Kota Gorontalo.
Pohon natal yang memiliki tinggi kurang lebih 5 meter dengan dihiasi beberapa pernak pernik Natal dan beberapa buah kelapa menjadi perhatian dari para jemaat Gereja Katolik st Chtistophorus Gorontalo. Usai melaksanakan ibadah, para jemaat kemudian mengabadikan diri mereka di pohon natal tersebut. Hal tersebut kemudian viral di media sosial, baik facebook, instagram dan media sosial lainnya.

BACA  Sebanyak 302 Botol Miras Disita Polisi di Kota Gorontalo

Beberapa jemaat ketika diwawancara mengatakan, pohon Natal dari sabut kelapa ini sangatlah unik dan memiliki makna tersendiri. “Ketika semua orang menganggap sabut kelapa ini sampah, saat semua orang menganggapnya tak berguna, tak bernilai dan pantas di buang, saat itulah Tuhan berkarya dalam hidup sampah tersebut. Sampah ini kemudian diproses dalam setiap kehendaknya dan sampah ini pun mengikuti proses itu. Melalui tangan orang-orang yang dipilih Tuhan, menjadikan sampah ini akhirnya indah, menjadi terang, menjadi bagian di Hari Kelahiran-Nya,” ungkap Jimmy Ante, salah seorang jemaat. Dan altar-Nya menjadi tempat istimewa bagi sampah sabut kelapa ini. “Kini setiap orang menghampiri sabut kelapa yang tadinya hanya sampah. Setiap orang mengabadikan dirinya dan menikmati terang dan keindahan dari sampah itu. Tuhan sungguh engkau dahsyat dengan segala kebaikan mu,” kata Paulus Purun ketika diwawancarai Gorontalo Post.

BACA  Dipasok dari Sulteng, Polsek KPG Gagalkan Penyelundupan 90 Ekor Anjing

Disisi lain, Ka Lapas Pohuwato, Rusdedy menyatakan, pohon Natal dari sabut kelapa ini dibuat langsung oleh 13 orang dimana 5 orang diantaranya adalah warga binaan Lapas Pohuwato dan delapan orang lainnya adalah jemaat Mawar Sharon. Untuk menyelesaikan pohon Natal ini, dibutuhkan waktu kurang lebih tiga hari dengan bahan dasar sabut kelapa sebanyak kurang lebih 100 kilogram. “Inovasi pembuatan pohon Natal dari bahan dasar sabut kelapa ini tidak lain adalah untuk mengkampanyekan dan menyampaikan pesan tentang pemanfaatan sabut kelapa. Sejauh ini sabut kelapa sering kali hanya menjadi sampah untuk dibakar maupun dibuang oleh masyarakat. Padahal kelapa adalah pohon kehidupan, perkebunan yang dimiliki oleh masyarakat ini memiliki nilai yang cukup tinggi. Apabila ini dikelola dan diolah dengan baik, maka akan menjadi berbagai barang bernilai ekonomi tinggi,” jelas Rusdedy yang juga menjabat sebagai Sekjen AISKI ini.

BACA  Wanita di Gorontalo Meninggal Dunia dengan Delapan Luka Tusukan

Buktinya kata Rusdedy, pihaknya bisa membuat banyak kerajinan tangan dari sabut kelapa. Mulai dari tempat sampah, pot bunga, bahan untuk tempat tidur, sofa dan bahkan pembuatan Pohon Natal saat ini. “Alhamdulillah kami di Lapas Pohuwato, bersama dengan warga binaan bisa ikut andil dalam perayaan Natal yang dilaksanakan oleh umat kristiani. Apalagi daerah Pohuwato merupakan miniature Indonesia, dimana Pohuwato terdiri dari berbagai suku, adat dan juga agama,” ujarnya.

Disisi lain, Rusdedy menyatakan, untuk pembuatan Pohon Natal ini pihaknya sama sekali tidak mendapatkan kesulitan, karena di daerah Gorontalo, khususnya Pohuwato, tersedia banyak bahan baku sabut kelapa. “Alhamdulillah di Pohuwato pada khususnya bahan baku sabut kelapa sangat melimpah. Tentunya, jika hal ini dikelola dengan sangat baik, maka akan memberikan tambahan penghasilan bagi petani kelapa dan masyarakat pengrajin,” pungkasnya. (kif)

 


Komentar