Selasa, 13 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Usai Lebaran, Pasien Di Rumah Sakit Menumpuk, Dimoninasi Penyakit Darah Tinggi

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 6 Juli 2017 | 09:35 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Pasca lebaran Idul Fitri 1438 H dan perayaan tradisi ketupat belum lama ini jumlah pasien di sejumlah Rumah Sakit yang ada di Gorontalo membludak. Pasien yang banyak dirawat inap di Rumah Sakit yakni penyakit Hipertensi (darah Tinggi) dan Thypoid.

Di Rumah Sakit MM Dunda Limboto misalnya, penyakit demam thyphoid atau biasa disebut dengan penyakit tipes dan penyakit mag masih menduduki jumlah terbanyak yang diderita pasien rawat inap.

Wakil Direkur (Wadir) pelayanan dr Titien Payuhi menjelaskan, dari evaluasi sampai April kemarin, jumlah demam thyphoid masih tinggi dan menjadi penyakit pertama paling banyak diderita oleh pasien rawat inap.

“Sejak Januari sampai April ada 300 pasien, selanjutnya adalah penyakit maq sebanyak 214 pasien, selanjutnya penyakit stroke 180 pasien, disusul penyakit diare 163 pasien dan penyakit paru-paru basah sebanyak 157 pasien,” ungkap dr Titien.

Menurutnya untuk bulan Mei sampai Juni memang belum ada evaluasinya, karena memang evaluasi dilakukan per triwulan, namun begitu untuk bulan Mei dan Juni punya memang masih didominasi oleh dua penyakit yang sama, yakni demam typhoid dan penyakit mag.

BACA  Wagub Gorontalo: Rakerda Itu Perlu Untuk Refleksi Dan Evaluasi Kinerja Tahun Sebelumnya

“Jumlah pasien pun sampai saat ini cukup banyak dengan perbandingan tempat tidur pasien yang selalu penuh dan rasio 72,3 persen,” jelas dr Titien.

Ia menambahkan, saat ini pun jumlah pasien yang dirawat memang masih didominasi oleh demam typhoid ini dimungkinkan karena pola makan yang salah, untuk thypoid bisa karena kelelahan apalagi sehabis lebaran saat ini ditambah kondisi cuaca saat ini yang tak bersahabat, sehingga diharapkan masyarakat bisa selalu waspada menjaga kesehatan dan pola makan.

Di Kabupaten Bone Bolango, juga pasien membludak di Rumah sakit Toto Kabila bahkan terjadi over kapasitas. Diketahui Para pasien yang membanjiri rumah sakit tersebut didominasi para pasien yang memiliki jaminan Kelas 3, bahkan tidak sedikit juga para pasien yang memiliki hak kelas 3 dan kelas 1 ikut pula membanjiri rumah sakit tersebut.

Kepala bidang pelayanan umum Rumah Sakit Toto, dr. Mulyadi Ma’sum memngungkapkan, membludaknya pasien rawat nginap pasca lebaran ketupat tersebut dipicu adanya ketidak seimbangan warga yang menkonsumsi berbagai jenis makanan saat lebaran hingga perayaan ketupat kemarin. Hal ini praktis memicu terjadinya penyakit.

BACA  Menurut Wagub Gorontalo, Perlu Tindakan Represif Guna Cegah Pungli

“Jadi pasien yang beberapa hari terakhir ini membanjiri rumah sakit didominasi oleh para pengidap penyakit hipertensi atau Darah tinggi,”kata Mulyadi.

Sementara untuk kesiapan pihak rumah sakit menampung para pasien yang terus berdatangan setiap harinya, mereka tetap mencoba untuk bisa mengakomodir dan memberikan pelayanan yang prima terhadap pasien meski pihaknya masi memiliki keterbatasan.

Sementara itu di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo jumlah pasien yang dirawat inap juga melonjak drastis. Saking banyaknya pasien sehingga pihak manajemen RSAS kewalahan menyediakan ruangan bagi para pasien terutama pasien rujukan yang terus saja berdatangan.

Bahkan ada pasien yang dirawat di selasar rumah sakit. Hingga siang kemarin, (5/7), jumlah pasien yang dirawat di RSAS adalah 307 orang. Direktur RSAS Kota Gorontalo dr. Andang Ilato menuturkan, trend peningkatan pasien memang kerap terjadi dan menjadi peristiwa musiman setiap pasca lebaran dan perayaan ketupat. Disampaikannya, lonjakan pasien di RSAS tersebut terbilang sangat cepat.

BACA  Kemenpar RI Sebut Wisata Hiu Paus Gorontalo Terbaik di Indonesia

“Jika dibandingkan, saat H-1 lebaan Idul Fitri, jumlah pasien yang kita rawat adalah 101 pasien, nah, hanya berselang kurang lebih 10 hari, sampai hari ini (kemarin, red) jumlah pasien mencapai 107 jiwa, lonjakannya sangat drastis,” kata Andang.

Disampaikannya, dari jumlah tersebut, 40 persen diantaranya merupakan pasien rujukan dari berbagai daerah di Gorontalo.

Menurut Andang Ilato, sebaiknya setiap pasien yang berobat tidak harus langsung ke RSAS, tetapi melalui sistem rujukan.

“Untuk wilayah Kota Gorontalo, silahkan manfaatkan dulu puskesmas yang ada, kecuali untuk kasus kasus yang emergency bisa langsung ke Rumah sakit,” ujar Andang.

Meskipun terjadi lonjakan pasien, namun menurut Andang, pasokan obat dan tenaga medis di RSAS masih cukup memadai.

“Hanya saja ketersediaan ruangan yang sangat terbatas, sehingga ada pasien yang kita tempatkan di ruangan lain,” ujarnya.

Tahun ini kata Andang Ilato, RSAS Kota Gorontalo rencananya akan membangun satu bangsal rawat inap yang akan menampung 148 pasien.

“Karena kita sadari dari waktu ke waktu, jumlah pasien di RSAS terus saja bertambah,” tandas Andang. (wie/tr-54/gip/hg)


Komentar